Serena Williams: Tambah Diam, Tambah Berbahaya

kumparanSPORTverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Serena Williams saat bertanding melawan Barbora Strycova di semifinal Wimbledon. Foto: Reuters/Pool
zoom-in-whitePerbesar
Serena Williams saat bertanding melawan Barbora Strycova di semifinal Wimbledon. Foto: Reuters/Pool

Bersama-sama menghabiskan hampir 330 hari dalam setahun membuat Sascha Bajin mengenal Serena Williams.

Bajin bukan pelatih, tapi hitting partner Serena selama delapan tahun. Kerja sama keduanya berlangsung pada 2008 hingga 2015. Secara sederhana, hitting partner adalah lawan berlatih tanding bagi seorang petenis.

Meski kini keduanya tak lagi bekerja sama, Bajin mendukung Serena menuntaskan seluruh misinya. Maka, jangan heran jika menyaksikan Bajin duduk di boks khusus bersama pelatih Serena, Patrick Mouratoglou, di sejumlah laga penting.

Serena datang ke Wimbledon 2019 dengan memanggul misi merengkuh trofi tunggal putri Grand Slam ke-24-nya. Bila tercapai, ia akan menyamai torehan Margaret Court yang mengoleksi 24 gelar juara Grand Slam di nomor tunggal putri. Hingga kini belum ada yang menyamai pencapaian Court di nomor tunggal, baik putri maupun putra.

Jalan Serena untuk mewujudkan target itu melebar karena berhasil menjejak ke final Wimbledon 2019. Kemenangan 6-1 6-2 atas Barbora Strycova pada partai semifinal mengantarkan Serena pada duel pemungkas melawan Simona Halep.

Serena dikenal sebagai lawan yang garang untuk petenis mana pun. Pukulannya bertenaga, tekniknya mumpuni dan acap mematikan langkah rival. Itu belum ditambah dengan teriakan-teriakan yang tak jarang membuat lawan terintimidasi.

instagram embed

Namun, orang-orang terdekat Serena menyadari gelagat ini sejak lama: Serena justru tambah berbahaya ketika ia bermain tanpa suara. Ia tambah beringas ketika pukulan-pukulannya dilepaskan dalam diam.

“Ketika sedang ada di momen penting, Serena justru sangat tenang. Ia seperti tenggelam dalam fokusnya sendiri. Itulah penanda bahwa dia sedang ada di fase yang sangat membahayakan lawan. Jadi, bukannya ketika ia mendengus keras,” jelas Bajin, dikutip dari laman resmi Wimbledon.

Serena juga memiliki gelagat tersendiri jelang pertandingan. Ketimbang menghabiskan banyak waktu bersama timnya, ia memilih untuk menyendiri dan tidak banyak bicara.

Bajin juga maklum. Ia memahami betul bahwa tenis adalah pertarungan individu. Tidak ada yang benar-benar membantu petenis ketika mereka turun arena. Pertandingan tenis tidak seperti sepak bola yang mengizinkan para pelatih dan tim memberi instruksi dari pinggir lapangan.

Apalagi Bajin juga menyadari bahwa setiap petenis, termasuk sekelas Serena, memiliki ketakutan sendiri ketika bertanding. Tak peduli sesering apa ia berlaga, tak peduli sebanyak apa duel final yang sudah ditutupnya dengan gelar juara, lapangan tetap melahirkan ketakutan yang mesti dikalahkannya sebelum mengalahkan lawan.

“Beberapa jam sebelum momen besar, sebagian orang lebih suka untuk menarik diri dari orang lain. Mereka tidak mau berbicara dan tidak ingin ada orang yang berbicara dengannya," kata Bajin.

“Ketika saya masih setim dengan Serena, saya juga melihat sendiri bahwa tidak suka berbicara jelang pertandingan. Ia seperti mengunci diri sendiri. Kamu harus berhati-hati dan memastikan tidak melakukan kesalahan yang merusak fokusnya,” ucap Bajin.

Serena merayakan kemenangan atas Alison Riske. Foto: Reuters/Hannah McKay

Usia yang tak lagi muda tidak menghalangi pendakian Serena ke puncak gunung prestasi. Dua puluh tiga gelar Grand Slam di nomor tunggal putri belum cukup.

Meski peringkatnya tak sebagus dulu, Serena tetap turun arena. Ia mengayunkan raket, membuat jagat tenis menempatkannya sebagai salah satu orang terhormat.

Kualitas ini dinilai Bajin sebagai buah dari konsistensi Serena melawan kejenuhan. Profesi sebagai pelatih dan hitting partner membuat Bajin melihat bermacam-macam petenis. Salah satunya, petenis yang malah muak dengan lapangan tenis.

Nirgelar selama bertahun-tahun membuat mereka bertanding tanpa hasrat. Jadwal kompetisi yang seperti tidak ada habisnya membuat mereka bosan menginjak lapangan.

Tapi, Serena tidak masuk dalam kategori demikian. Tenis adalah cinta pertamanya. Tak peduli berapa kali gagal merengkuh gelar, Serena belum pernah bosan berlaga.

“Rasa jenuh adalah masalah yang dialami orang yang melakoni suatu pekerjaan. Bahkan petenis elite bisa jenuh. Itu seperti menjadi masalah yang tidak bisa dihindari jika kau melakukan hal yang sama lagi dan lagi. Sejak dalam pikiran kamu sudah bosan ketika harus merepetisi suatu kegiatan, termasuk berlatih dan bertanding," ujar Bajin.

"Setelahnya, kamu akan merasa kering dan kehilangan energi. Serena tidak seperti itu. Ia sangat disiplin melawan rasa jenuh meski harus melakukan hal yang sama lagi dan lagi,” jelas Bajin.

*** Laga final tunggal putri Wimbledon 2019 antara Serena Williams dan Simona Halep akan digelar pada Sabtu (13/7/2019) di Centre Court All England Lawn Tennis and Croquet Club, Inggris. Pertandingan dimulai pada 20:00 WIB.