kumparan
21 Apr 2019 16:03 WIB

4 Kiprah Penting Kartini untuk Berdayakan Masyarakat

R.A. Kartini Foto: Wikimedia Commons
Sejak 55 tahun lalu, melalui Keputusan Presiden No.108 Tahun 1964, Presiden Sukarno menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Nasional dan sekaligus menjadikan hari lahirnya setiap tanggal 21 April sebagai Hari Kartini.
ADVERTISEMENT
Perempuan asli Jepara ini berasal dari keluarga bangsawan Jawa. Ia merupakan putri dari bupati Jepara Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan M.A. Ngasirah.
Membicarakan putri keturunan ningrat ini memang tidak bisa dilepaskan dari topik emansipasi perempuan dan feminisme. Perjuangannya terus dikenang hingga hari ini. Mulai dari namanya yang dijadikan sebuah jalan di kota Belanda, hingga kisah hidupnya yang telah banyak dikupas sebagai pahlawan perempuan dari Tanah Jawa.
Kiprah Raden Ajeng Kartini begitu luasnya hingga masih banyak sisi dirinya yang belum terungkap. Saking banyaknya, beberapa surat yang ditulisnya pun tak semua bisa termuat dalam buku Door Duisternis Tot Licht, atau buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yang dibukukan oleh J.H. Abendanon, yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda.
ADVERTISEMENT
Meski terkenal sebagai sosoknya yang mempelopori emansipasi perempuan Indonesia, Kartini juga merupakan seorang pejuang yang merambah sektor seni dan kreativitas. Mulai dari pengembangan batik hingga memajukan seni ukir Jepara.
Apa saja yang dilakukan Kartini dalam upayanya memberdayakan masyarakat?
Mendirikan sekolah khusus perempuan
R.A Kartini (kiri). Foto: Dok. Wikimedia Commons
Semasa sekolah, Kartini dikenal sebagai anak yang cerdas. Namun sayangnya, pada zaman itu perempuan hanya boleh menempuh pendidikan sampai Sekolah Dasar. Ketika berusia 12 tahun Kartini pun harus meninggalkan sekolah untuk kemudian dipingit di rumah. Ini merupakan salah satu adat yang harus dijalankan pada zaman itu, terutama untuk anak bangsawan.
Meski demikian, kecerdasan dan semangat belajarnya yang tinggi sama sekali bukan halangan untuk Kartini. Diam-diam, ia giat membaca dan memperkaya diri lewat buku yang ia baca. Kartini banyak membaca soal gerakan emansipasi perempuan di Eropa lewat koran, majalah, dan buku yang diperolehnya dari berbagai sumber. Inilah yang secara perlahan membuka mata dan membakar semangatnya untuk 'membebaskan' perempuan Indonesia.
ADVERTISEMENT
Kartini merasa gerah dengan aturan feodal Jawa, yang dianggapnya, merendahkan derajat perempuan. Ia tak suka harus berjalan jongkok, mundur, menunduk, dan bersuara pelan saat berhadapan dengan orang yang lebih tua atau yang status sosialnya lebih tinggi.
Kartini rindu melihat perempuan berada dalam 'kasta' yang sama dengan lelaki. Ia ingin perempuan punya hak untuk bebas dan persamaan di mata hukum.
Surat Kartini. Foto: Wikimedia Commons
Melalui surat-suratnya, Kartini sempat menyayangkan para perempuan menjadi buta huruf karena tidak tersedianya peluang untuk mereka belajar. Berikut kutipan salah satu suratnya yang ia tulis untuk sahabat penanya, Rosa Manuela Abendanon-Mandri, pada 8/9 Agustus 1901:
“Kami, gadis-gadis Jawa, tidak boleh memiliki cita-cita, karena kami hanya boleh mempunyai satu impian, dan itu adalah dipaksa menikah hari ini atau esok dengan pria yang dianggap patut oleh orangtua kami."
ADVERTISEMENT
Dan surat yang ia tulis untuk Prof Anton dan Nyonya pada 4 Oktober 1902:
"Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi, karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama."
Kartini ingin memajukan para perempuan Indonesia melalui pendidikan. Paksaan orangtuanya untuk menikahkan dirinya dengan Raden Adipati Ario Singgih Djojo Adiningrat dijadikan Kartini sebagai tiket emas untuk mendirikan sekolah. Untungnya, sang suami mengerti keinginan Kartini dan memberikannya kebebasan serta dukungan untuk mendirikan sekolah khusus perempuan.
ADVERTISEMENT
Kartini pun akhirnya mendirikan sekolah perempuan di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor Kabupaten Rembang. Kini, bangunan tersebut lebih dikenal sebagai Gedung Pramuka.
Misi mengembangkan seni ukir Jepara
Pengrajin kayu Jepara Foto: Wikimedia Commons
Tak hanya sebagai sosok yang memperjuangkan hak perempuan dalam pendidikan, Kartini ternyata juga menaruh perhatian pada dunia seni. Salah satunya, seni ukiran Jepara.
Hal ini terbukti lewat surat-surat yang ia tulis untuk sahabat penanya di Belanda. Dalam surat-surat tersebut, Kartini menyinggung tentang seni kriya Jepara dan usahanya untuk mengembangkannya.
Awal ketertarikan Kartini dengan seni ukir Jepara berawal dari ajakan sang ayah untuk mengunjungi suatu desa di Jepara yang menghasilkan karya ukir yang begitu indah, yaitu Desa Belakang Gunung (sekarang dikenal dengan nama Mulyoharjo), yang dikenal sebagai tempat tinggal para pengukir handal.
ADVERTISEMENT
Seperti buku yang ditulis Elisabeth Keesing yang berjudul 'Betapa Besar Pun Sebuah Sangkar, Hidup, Suratan, dan Karya Kartini' terbitan Djambatan dan KITLV, Desa Belakang Gunung dipercaya sebagai desa yang pertama kali melahirkan seni ukir di Jepara.
Saat Kartini menyambangi Desa Belakang Gunung, ia menyaksikan langsung para tukang kayu yang sedang sibuk mengerjakan ukiran kayu jati. Dari kunjungannya tersebut, Kartini memahami bahwa para pengukir hanya mendapatkan upah yang murah. Padahal, karya yang mereka buat amatlah indah dan berkualitas baik. Kondisi tersebut menjadi bahan perenungan baginya, ia berpikir bagaimana caranya untuk mengubah kondisi tersebut.
Kecintaannya pada seni rakyat, membawa dirinya sebagai perpanjangan tangan untuk memperkenalkan ukir-ukiran Jepara ke dunia luar dan turut mempromosikannya. Bahkan Kartini juga mempelopori motif ukiran wayang dan Lunglungan Bunga.
ADVERTISEMENT
Kartini kemudian menghubungi sahabat-sahabat Belandanya di Batavia dan Semarang. Ia juga mengadakan pesanan barang-barang kerajinan seperti tempat surat, peti rokok, mesin jahit, dan lain-lain. Barang pesanan tersebut kemudian dikirimkan kepada para sahabatnya.
Keindahan karya pengrajin dari Belakang Gunung ini ditulis Kartini dalam bentuk prosa yang berjudul 'Van en Uithockje' atau 'Pojok yang Terlupakan'. Dalam tulisannya, Kartini mengungkapkan betapa kagumnya ia dengan hasil karya rakyatnya yang begitu indah.
Kini Jepara dikenal sebagai pemasok karya ukir kayu yang tidak hanya dikenal di Indonesia, namun juga hingga mancanegara.
Pengembangan batik
Sekolah R.A Kartini. Foto: Dok. Wikimedia Commons
Berkat kedekatannya dengan beberapa sahabatnya di Belanda, pada tahun 1898, tepatnya saat ia berusia 17 tahun, Kartini dan saudarinya mengirimkan 21 karya Jepara kepada Nationale Tentoonstelling voor Vrouwenarbeid (Pameran Nasional Karya Wanita) yang diadakan di Den Haag, Belanda.
ADVERTISEMENT
Karya seni yang ia kirim mulai dari seni ukir, lukisan, hingga batik. Khusus untuk batik, Kartini juga menyematkan tata cara dan prosedur pengerjaan batik. Hal tersebut yang kemudian memegang peranan penting bagi sejarah batik di Belanda.
Seni batik di Jepara telah ada sejak era Kartini, sesuai yang tercantum pada buku karya Rouffoer yang telah diterjemahkan berjudul 'Kesenian Batik di Hindia Belanda dan Sejarahnya'. Dalam buku itu disebutkan, RA Kartini pernah mengirim cenderamata ke Belanda berupa kain batik khas Jepara dan Tenun Ikat Troso.
Kartini juga dikenal sebagai sosok yang mempelopori batik dengan motif khas Jepara yang bernama batik Lunglungan Bunga. Selain itu ada pula batik yang diberi atas namanya sendiri, yakni Batik Kartini. Seluruh batik tersebut merupakan motif-motif hasil karya Raden Ajeng Kartini sendiri. Mulai dari motif bunga kantil, motif parang gondosuli, dan motif srikaton.
ADVERTISEMENT
Mendorong terjemahan Al-Quran ke Bahasa Jawa
Keluarga R.A Kartini. Foto: Wikimedia Commons
Kartini sempat resah dan kebingungan dengan Al-Quran yang ia baca setiap harinya. Ia kerap membacanya, tapi tak memahami maknanya karena pada zaman itu belum ada Al-Quran yang dilengkapi dengan terjemahan. Terlebih, para ulama pun sempat melarang penerjemahan dan tafsir Al-Quran ke bahasa Jawa.
Keresahan Kartini pun tertuang pada surat yang dimuat pada buku Habis Gelap Terbitlah Terang, yang ditujukan kepada salah satu sahabat penanya, Stella Zeehandelaar pada 6 November 1899 silam.
"Mengenai agamaku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan umat lain. Lagi pula, aku beragama Islam karena nenek moyangku Islam. Bagaimana aku dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?"
ADVERTISEMENT
Untungnya, keraguan dan gelisahnya terjawab saat ia berkunjung ke rumah pamannya, Pangeran Ario Hadiningrat, yang juga seorang bupati di Demak.
Saat itu, Kartini menghadiri sebuah pengajian yang sedang mengkaji tafsir surat Al-Fatihah oleh Kiai Haji Mohammad Sholeh bin Umar atau yang lebih dikenal dengan Kiai Sholeh Darat. Pengajian itu membuka pikirannya untuk menyampaikan kegelisahan yang ada dalam hatinya.
Seusai pengajian, Kartini bersama pamannya menemui Kiai Soleh Darat untuk menanyakan beberapa hal. Pertemuan ini dipaparkan oleh cucu Kiai Sholeh, Fadhila Sholeh lewat tulisan.
"Kiai, perkenankanlah saya menanyakan sesuatu. Bagaimana hukumnya apabila seorang yang berilmu, namun menyembunyikan ilmunya?" tanya Kartini.
Kiai Sholeh pun tertegun atas pertanyaan Kartini tersebut. "Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?" tanyanya balik.
ADVERTISEMENT
Lantas, Kartini menjelaskan lebih rinci maksud dari pertanyaan sebelumnya tersebut. "Kiai, selama hidupku baru kali inilah aku sempat mengerti makna dan arti surah pertama, dan induk Al-Quran yang isinya begitu indah menggetarkan sanubariku. Maka, bukan buatan rasa syukur hati aku kepada Allah. Namun, aku heran tak habis-habisnya, mengapa selama ini para ulama kita melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al-Quran dalam bahasa Jawa. Bukankah Al-Quran itu justru kitab pimpinan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?" ungkapnya.
Pertemuan dan pertanyaan Kartini tersebut menggugah pandangan Kiai Sholeh untuk menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Jawa. Bahkan, saat Kartini menikah, Kiai Sholeh menghadiahkan terjemahan Al-Quran (Faizur Rohman Fi at-Tafsiri al- Qur'an) jilid pertama yang terdiri dari 12 juz, mulai dari surat Al Fatihah sampai dengan surat Ibrahim.
ADVERTISEMENT
Fakta tentang Kartini tentang terjemahan Al-Quran ke Bahasa Jawa pun disinggung oleh Calon Wakil Presiden K.H. Ma'ruf Amin.
Loading Instagram...
Lewat akun Instagram-nya, ia menuliskan:
Bismillahirraahmanirrahiim.
Kartini bukan semata pejuang emansipasi. Beliau adalah sosok yang mendorong anak bangsa semakin sadar akan peran pendidikan dan literasi.
Kesempatan memperoleh pendidikan tidak hanya untuk kaum lelaki saja. Demikian juga pendidikan agama hingga Kartini sendiri mengejar Kiai Sholeh Darat untuk belajar Al-Qur’an.
Kartini juga salah satu sosok yang mendorong diterjemahkannya Al-Qur’an ke dalam bahasa Jawa, sehingga semakin banyak yang bisa memahami kandungan Al-Qur’an. Kiai Sholeh memenuhi permintaan Kartini dengan menerjemahkan Surah Al Fatihah hingga Surah Ibrahim sebelum beliau wafat.
“Minazzulumati Ilan Nuur" Merupakan potongan ayat 257 dalam Surah al Baqarah yang kemudian diabadikan sebagai "Habis Gelap Terbitlah Terang".
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan