Pencarian populer

Cerita Diana Rikasari tentang Buku Terbarunya dan Kehidupan di Swiss

Diana Rikasari, Fashion Blogger. (Foto: Helmi/kumparan)

Sebagai seorang womenpreneur sukses dan salah satu pioneer fashion blogging di Indonesia, Diana Rikasari menjadi nama yang tak lagi asing di telinga para penikmat mode Tanah Air. Tampilan khasnya dalam busana warna-warni, berani, dan playful membuat ia memberi ia tempat tersendiri dalam ranah fashion. Perempuan kelahiran Colorado, Amerika Serikat, 23 Desember 1984 ini juga merupakan pemilik brand fashion SCHMILEYMO dan sepatu UP.

Selain kiprahnya di dunia fashion, Diana juga merupakan penulis terkenal buku serial penuh ilustrasi 88LoveLife yang berhasil menjadi best-seller di Indonesia dan Malaysia. Buku tentang self-love tersebut diminati masyarakat karena isinya yang inspiratif dan memotivasi.

Menetap di negara Swiss untuk mengikuti suaminya yang pindah kerja sejak setahun lalu, rupanya Diana Rikasari tetap produktif dalam berkarya. Ia baru saja meluncurkan buku terbarunya yang berjudul My Rainbow Days. Akhir Desember lalu ia bahkan sempat pulang singkat ke Indonesia untuk mempromosikan buku terbarunya tersebut.

My Rainbow Days adalah sebuah buku dongeng anak-anak yang terinspirasi dari kedua anaknya, Shahmeer (4 tahun) dan Daria (16 bulan). Buku tersebut bercerita tentang hal-hal ringan yang terjadi di kehidupan sehari-hari, mulai dari sikap positif hingga keindahan di sekitar kita.

Dalam kunjungan yang singkat itu, Diana menyempatkan diri untuk bertemu dengan kumparanSTYLE. Kami berkunjung kediamannya di Bekasi, Jawa Barat yang juga tak kalah terkenal dan ikonis, yang ia sebut dengan hashtag #bidibidibongbong dalam unggahan Instagram-nya.

Perjalanan karier Diana sebagai seorang entrepreneur fashion, fashion blogger, dan penulis, tak terjadi dalam waktu singkat. Dalam perjalanannya, Diana melalui begitu banyak pencarian jati diri dan keputusan untuk kelangsungan hidup sesuai yang ia inginkan.

Diana Rikasari, Fashion Blogger. (Foto: Helmi/kumparan)

"Saya tipe orang yang merasa bahwa sebagai manusia kita harus berevolusi dalam pencarian passion, pencarian jati diri," papar Diana membuka percakapan dengan kami. "Saya jadi fashion blogger dan pebisnis, nggak setahun dua tahun, it's been like 10 years dan saya pun masih banyak belajar dan masih merasa kurang," tambahnya.

Sikapnya dalam mencapai kesuksesan pun patut diacungi jempol. Diana yang selalu tampil ceria dan semangat, rupanya juga memiliki sederet kunci dalam mengejar impian.

"Kunci kesuksesan untuk segala hal adalah konsistensi dan komitmen. Ini dua hal yang amat penting, karena in whatever you do, there is no shortcut. You can not be successful in just a short time, you need a continuous hard work," jelas ibu dari dua anak ini.

Ingin mengenal Diana lebih dekat? Kepada kumparanSTYLE, Diana bercerita tentang kehidupan barunya di Eropa dan bukunya My Rainbow Days.

Sudah berapa lama Anda tinggal di Swiss?

Baru mau dua tahun, soalnya kita pindah ke sana bukan permanen, tapi suami saya dapet kerjaan di sana, cuma nggak tau sampai berapa lama.

Bagaimana kehidupan baru Anda di Swiss? Tentu sangat beda dengan keseharian di Indonesia.

Wah beda banget! Pas pertama kali pindah kaget soalnya bener-bener super ke balik dari segala hal. Cuaca kebalik, macetnya Jakarta dengan penduduknya yang padat, sedangkan di sana kosong melompong banget nggak ada orang.

Di Jakarta itu urban, kota metropolitan. Sedangkan di Swiss itu ya kota, tapi masih countryside, banyak rumput dan sapi-sapi. Jadi sempat kaget, tapi sempat merasa kosong gitu.

Saya terbiasa hidup dengan situasi yang dinamis, yang cepet, kreatif, banyak kerjaan, ketemu temen. Jadi sempat merasa: ‘duh ngapain ya’, sempat merasa kosong banget. Tapi proses adaptasi itu hanya 6 bulan sih. Saya menyadari bahwa slow living itu sebenarnya seru juga ya. Slow living itu membuat saya menghargai hal-hal kecil yang selama ini saya ignore. Jadi lama-lama betah, dan bisa melihat perspektif hidup di Jakarta kaya gimana, di negara kaya Swiss gimana. Dan dua-duanya ya menyenangkan.

Diana Rikasari, Fashion Blogger. (Foto: Helmi/kumparan)

Apa yang Anda rindukan dari Jakarta selama tinggal di Swiss?

Keluarga dan teman-teman pastinya. Saya ini termasuk family girl dan selalu dekat dengan keluarga dan teman-teman. Itu sih paling yang saya kangenin. Makanan juga, karena Swiss makanannya beda.

Tapi yang penting, saya kangen energi kreatifnya. Karena di Jakarta itu saya kerasa banget energi kreatifnya. Ngobrol sama orang tentang banyak hal, diskusi bisnis baru lah, ide baru, mau bisnis apa, mau buat apa. Kalau di Swiss ya begitu saja gaya hidupnya.

Mengingat Anda memiliki banyak penggemar di Indonesia, adakah ketakutan kehilangan penggemar sejak pindah ke Swiss?

Mungkin ada, tapi nggak besar. Kalau bisa dibilang profesi utama saya itu entrepreneur sih. Jadi ya blogging dan menjadi influencer itu lebih ke hobi dan sampingan yang kebetulan mendapat penghasilan, tapi tetep profesi utama itu entrepreneur. Jadi kekhawatiran saya lebih mengenai bisnis. Saya berpikir; bisnis saya bisa jalan nggak ya? Tim saya bisa jalan tanpa saya nggak ya? Saya lebih khawatir memikirkan sistem bagaimana caranya pegawai bisa komunikasi lancar sama dan tetap bisa monitor kerjaan.

Motif loreng bisa jadi alternatif 'menantang'. (Foto: Dok. Diana Rikasari )

Terus kalau masalah di fashion blogging sendiri, saya sih mikirnya dunia fashion itu dunia yang luas, dan fashion blogger di Indonesia pun pasti ingin tampil di kancah internasional. Jadi dengan saya pindah ke Eropa, seharusnya ini bisa menjadi pembuka jalan bagi saya, like if I wanna be serious in fashion blogging, seharusnya saya bisa masuk ke dunia fashion blogging di Eropa.

Lalu bagaimana tanggapan masyarakat di Swiss melihat tampilan fashion Anda yang unik dan warna warni?

Orang di Swiss itu bukan tipe orang yang trendy. Jadi mereka tampil lebih simpel dan warnanya muted, seperti hitam, navy, dan coklat. Jadi ketika ada saya, itu very catchy. Seperti, wow! Tapi uniknya, mereka sangat menghargai dan saya belum pernah sekalipun selama dua tahun tinggal di sana, menerima tatapan yang kasar atau mencela. Semuanya starring in good way, kaya ‘WHOAA I like your clothes!’ Mereka selalu compliment.

Diana Rikasari, Fashion Blogger. (Foto: Helmi/kumparan)

Kali ini Anda pulang singkat ke Indonesia untuk peluncuran buku terbaru My Rainbow Days. Bisa diceritakan tentang buku ini?

Jadi tahun ini saya memang baru saja meluncurkan buku My Rainbow Days, buku untuk anak-anak. Banyak yang salah sangka kalau saya ini bikin buku parenting. Tapi ini bukan buku parenting, melainkan buku cerita anak-anak.

Ada tiga seri langsung yang saya launch, satu set dengan tema umum tentang mindfulness. Mindfulness terhadap sesama, terhadap lingkungan, peduli tentang hidup, not taking life for granted. Jadi di dalam ceritanya tetap ada pesannya. Pesannya saya buat sedemikian rupa supaya bisa sampai ke semuanya, nggak hanya anak-anak, tapi juga orangtua yang membacanya. Jadi harapannya ketika mereka bacain buat anak-anak, mereka bisa belajar bareng.

Boleh dijelaskan pesan-pesan yang Anda maksud seperti apa?

Vol.1 tentang manner dan being kind. Misalnya mengajarkan kalau ada orang membukakan pintu untuk kita, ya kita bilang terima kasih. Atau kalau injak kaki orang nggak sengaja, kita bilang sorry.

Di Vol. 2 misalnya membahas bahwa it is ok to cry. Jadi memperlihatkan juga ke orang tua bahwa nggak apa-apa anaknya nangis, jangan dimarahin. Semua ini pesannya dibuat dalam bentuk cerita dan nggak berat, tapi tetap kena ke hati.

Loading Instagram...

Lalu Vol. 3, tentang beauty is around us, yang bercerita bahwa beauty itu ada di sekitar kita, bunga itu indah, batu-batu itu bentuknya indah, kaya lihat air, refleksi air itu indah. Membuka sudut pandang beauty dari anak. Dan kebetulan semua itu ceritanya dinarasikan oleh karakter yang bernama Shahmeer dan Daria, yang adalah anak-anak saya sendiri.

Diana Rikasari, Fashion Blogger. (Foto: Helmi/kumparan)

Jadi memang inspirasi dari buku tersebut adalah anak-anak Anda?

Iya, karena kebetulan ide bikin buku ini memang dari mereka. Karena semenjak punya anak, terutama dua anak, saya jadi banyak belajar dari mereka. Dan menurut saya akan menarik kalau saya bukukan hal-hal yang saya pelajari dari mereka ini.

Loading Instagram...

Terutama di Vol. 3 yang beauty is around us, jadi sebenernya itu dari mereka. Misalnya, Shahmeer suka lihat ke dalam kolam, liat refleksi diri, terus dia senyum-senyum. Jadi saya mikir, oh dia suka ya lihat refleksi dirinya di air. Terus dia suka lihat batu-batu, kaya batunya dilihat bentuknya, dijejer-jejer, di buat grup. Jadi mungkin menurut dia bentuk batu itu menarik, yang menurut kita mungkin nggak begitu penting. Jadi hal-hal kecil ini yang buat anak-anak saya seneng banget. Makanya saya menyimpulkan bahwa ada banyak beauty is around us.

Apa tantangan yang Anda hadapi dalam proses pembuatan buku ini di Swiss?

Kalau nulis gampang karena idenya sudah kebentuk. Yang lama itu cari illustrator-nya. Karena di Swiss, jadi saya cuma bisa cari dengan browsing internet dan Instagram.

Menjelaskannya pun lewat Whatsapp dan email. Itu yang agak lama, karena susah kan sebenarnya menjelaskan konsep kalau nggak ketemu. Sampai akhirnya saya memilih Wastana Haikal, langsung cocok dan akhirnya sama dia.

Untuk setting karakter, saya serahkan sama illustrator karena dia punya imajinasi sendiri. Saya hanya tetapkan karakternya seperti apa, mau gimana, warnanya apa. Saya bilang bahwa buku ini harus menggambarkan saya yang suka fashion. Jadi anak-anaknya dibuat fashionable banget. Attention to detail juga. Misalnya Daria pakai anting, kalung, kaos kaki, hal-hal ini dibuat detail sekali.

Diana Rikasari, Fashion Blogger. (Foto: Helmi/kumparan)

Harapan Anda dari buku My Rainbow Days ini?

Harapannya para anak-anak bisa belajar dari buku itu, karena pesan yang saya coba sampaikan bagus banget. Jadi mereka dapat pesan, tapi enjoy juga liat ilustrasinya. Dan harapannya adalah mereka bisa menghargai detail. Saya suka banget kalau anak-anak merhatiin yang kaya gitu, yang kecil-kecil. Itu mengajarkan mereka bahwa little detail matters.

Buku My Rainbow Days ini berbeda sekali dengan buku Anda sebelumnya 88LoveLife yang fokus tentang self love. Adakah pertimbangan Anda tentang genre yang berbeda ini?

Kalau dari saya nggak mikirin sampai situ, saya buat buku sesuai dengan yang saya mau buat saat ini. Mungkin reaksi menarik dari orang-orang adalah ketika mereka tahu sebelumnya saya nulis 88LoveLife yang fokus tentang self love, nah pada mikir bahwa (buku terbaru) yang saya tulis tentang self love sebagai mother. Jadi banyak yang mikir bahwa buku ini tentang parenting, motherhood, sampai saya harus bilang berkali-kali bahwa ini bukan buku parenting tapi bener-bener buku cerita untuk anak-anak.

Mungkin persepsi mereka berharap bahwa saya akan menulis tentang 88LoveLife yang mature sebagai mother. Paling struggle-nya itu untuk merubah mindset orang dan menerima bahwa ini buku anak-anak.

Diana Rikasari, Fashion Blogger. (Foto: Helmi/kumparan)

Apa momen hidup paling membanggakan dalam hidup Anda?

Wah susah, karena setiap momen itu adalah momen kecil yang buat bahagia. Saya lebih sering ingat dengan momen-momen kecil, sih. Misalnya, momen ketika anak saya, Shahmeer, liatin saya sembari pegang pipi saya. Dia lihat eye to eye merhatiin saya, dan nggak lama dia cium bibir saya. Itu hal sederhana yang saya ingat banget, dia sweet sekali. Atau momen ketika Daria senyum terus saat diajak muter-muter, dengan wajah yang innocent banget. Hal-hal kaya gitu yang membuat bangga dan bahagia buat saya. Momen kecil namun bermakna.

Pelajaran hidup paling penting bagi Anda?

Jadi orang yang baik itu sangat penting. Mau sepintar apapun, sesukses apapun, tapi kalau hati kita nggak baik, nggak ada gunanya juga. Kalau jadi orang baik, universe will open so many doors for you. Meski banyak orang jahat, jangan balas dengan kejahatan juga. Itu saya bener-bener pegang teguh. Kalau saya lagi sebel banget sama orang, saya akan ingetin diri sendiri terus: Diana be kind, be kind, be kind, nggak usah dibales.

Pelajaran penting lainnya dari papa saya, dia selalu bilang, hidup itu harus semangat. Dan itu saya ingat terus. Emang bener sih, karena kalau dipikir-pikir hidup itu emang bisa bikin capek banget, apalagi kalau udah jadi orangtua. Capeknya 3 kali lipat. Tapi kalau inget-inget kata papa kalau hidup itu harus semangat, itu somehow kasih saya energi lagi.

---

Simak cerita perempuan inspiratif lainnya hanya di topik sheinspiresme.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: