Pencarian populer

Di Jepret Selfiemu Ada Duitku

Video

Cinta berlebih pada diri sendiri. Itu sudah jadi semacam obsesi akut--dan gejala umum--di zaman media sosial ini. Setidaknya, hal itu tercermin dari selfie atau swafoto sebagai gaya hidup baru, terutama bagi kaum urban.

Disebut obsesi akut, karena selfie kerap membikin pelakunya ketagihan. Salah satu yang kadung kecanduan ialah Maya.

Maya, 24 tahun, adalah pekerja kantoran. Ia, seperti halnya anak muda kekinian, tidak pernah melewatkan hari tanpa berselfie. Ia sudah gemar swafoto sejak sekolah menengah pertama, lebih dari sembilan tahun lalu.

Dengan kamera depan telepon pintarnya, Maya akan terus berselfie sampai menemukan hasil yang menurutnya Instagrammable. Kegiatan itu rutin ia lakukan, terlebih ketika ia sedang merasa cantik-cantiknya.

Maya mengaku merasa ‘berdosa’ kalau sampai melewatkan momen cantiknya tanpa sempat berswafoto. “Sayang banget kalau lagi cantik nggak foto. Ngelewatin momen.”

Hasil swafoto kemudian ia unggah ke Instagram--media sosial yang popularitasnya terus naik daun sejak diluncurkan pada 2010. Di Instagram itu pula, Maya menemukan sosok yang ia idolakan.

Idolanya ialah seorang selebriti Instagram (selebgram) bernama Sarah Ayu. Buat Maya, unggahan Sarah Ayu di Instagram memberinya motivasi untuk giat berswafoto. “Banyak orang bilang (wajah) aku mirip sama dia.”

Untuk mendukung hasratnya mendapat hasil swafoto sempurna, Maya rela menghabiskan banyak waktu untuk menonton panduan berdandan di Youtube. Tiap malam, ia menatap layar telepon pintar sampai matanya tak kuasa menahan kantuk.

Tak cuma menonton tutorial dandan, Maya juga rajin menyambangi salon kecantikan. Dalam satu minggu, Maya biasanya bakal dua kali bersolek di salon. Untuk satu kali kunjungan, ia menghabiskan biaya setidaknya Rp 200 ribu.

Selain semua itu, Maya tentu saja berbelanja berbagai jenis produk kosmetik. Tapi itu hanya ia lakukan ketika produk kosmetiknya sudah tandas. Untuk saat ini, Maya berani mengklaim bahwa ia punya produk-produk kecantikan lengkap, mulai dari pensil alis, eyeliner, lipstik, hingga concealer.

Sarah Ayu (Foto: Instagram @sarahayuh_)

Maya mungkin tak sadar hobinya berswafoto adalah ladang penghasilan bagi raksasa industri kosmetik dunia. Meski bukan satu-satunya yang meraup untung, industri kosmetik mendapat durian runtuh di era media sosial yang menjadikan citra sempurna sebagai suatu keharusan.

Berdasarkan data L’Oreal pada 2016, dalam 10 tahun terakhir pasar kosmetik Indonesia berkembang rata-rata 12 persen. Industri kecantikan Indonesia bahkan diprediksi akan menjadi nomor satu di Asia Tenggara pada 2020.

Peningkatan penjualan kosmetik karena budaya selfie sebetulnya terjadi secara global. Yang kini terjadi pada Maya sudah mewabah lebih dulu di Inggris.

Seperti diberitakan The Independent, penjualan kosmetik di Inggris meningkat pesat. Dalam kurun waktu Maret 2016-2017, angka penjualan produk kosmetik di Inggris melambung hingga USD 77 juta (sekitar Rp 1 triliun) dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya. Bahkan sepanjang 2016, nilai penjualan kosmetik hampir menyentuh angka USD 1,4 miliar--yang tertinggi selama ini.

Menurut Chloe Humphreys-Page, direktur perusahaan riset pasar asal Amerika Serikat IRI Worldwide, peningkatan penjualan itu dipengaruhi besar oleh swafoto artis yang digandrungi anak muda, macam Kim Kardashian, Kylie Jenner, dan Cara Delevigne.

“Dampak dari ‘Generasi Selfie’ ini --yang lumrah mengeluarkan biaya besar dalam jangka waktu panjang untuk mempelajari cara makeup yang pantas dan selalu siap untuk kamera-- tidak hanya meningkatkan penjualan kosmetik tertentu, tapi juga meningkatkan produk tambahan lain macam alat catok bulu mata, busa, pensil, dan kuas untuk makeup,” jelas Humphreys-Page.

Maka tak heran bisnis produk kecantikan dunia juga ikut mendapat berkah. Menurut data Racounter dalam The Beauty Economy (2017), sepanjang 2016 penjualan kosmetik dan produk kecantikan meraup USD 445 miliar atau Rp 6.120 triliun. Angka tersebut jadi yang tertinggi sepanjang sejarah.

Republik Selfie. (Foto: Shutterstock)

Di antara semua media sosial, Instagram jadi favorit para penggemar swafoto. Platform itu menyediakan fitur lengkap: kamera yang terintegrasi dalam aplikasi, kemudahan membagikan foto atau video, dan perangkat editing foto dan video yang mumpuni.

Perangkat editing foto itu punya andil besar dalam kesuksesan Instagram. Sebuah studi oleh platform verifikasi foto TRUEPIC mengungkap, dari 2.133 responden mereka di Amerika Serikat, 64 persen di antaranya mengaku mengedit foto mereka secara online.

Survei lain oleh Renfrew Center Foundation pada 2014 menemukan kecenderungan yang sama. Dari 1.710 responden di AS, 48 persen mengubah foto asli mereka, dan 15 persen di antaranya melakukan itu untuk menghilangkan cela, entah itu jerawat atau objek lain yang dianggap merusak kesempurnaan foto. Sementara, 15 persen responden lainnya juga mengubah warna dan bentuk muka agar lebih tirus.

Kebutuhan akan wajah sempurna itu dijawab tuntas oleh Instagram. Maka tak heran ketika 2012 silam Facebook rela merogoh kocek sebesar USD 1 miliar untuk mengakuisisi Instagram. Padahal, Instagram waktu itu baru punya 13 pekerja.

Pertaruhan Facebook terbukti tak sia-sia. Sejak diakusisi, pengguna Instagram terus meningkat. Per April 2017 lalu, Instagram sudah punya 700 juta pengguna di seluruh dunia. Bahkan, dua tahun setelah diakusisi, Citigroup menyebut nilai valuasi Instagram meningkat jadi USD 35 miliar.

Di Indonesia, laporan Statista menyebut 38 persen populasi merupakan pengguna Instagram --hanya kalah dari Youtube, Facebook, dan Whatsapp.

Instagram bukan hanya digemari karena kelengkapan fiturnya. Menurut Alice E. Marwick, budaya narsisme adalah alasan lain mengapa Instagram begitu dipuja. Dalam Instafame: Luxury swafotos in the Attention Economy (2015), Marwick berpendapat bahwa Instagram memberi wadah berkembangnya budaya micro-celebrity.

Dengan banyaknya artis yang giat berswafoto di Instagram, orang-orang biasa terdorong untuk mengimitasi gaya swafoto yang dilakukan idolanya. Terlebih, pengguna Instagram juga diberi kesempatan menjadi artis itu sendiri. Caranya, tentu saja, adalah dengan membagikan foto mereka ke publik dan berlomba-lomba mendapat respons berupa “love”, komentar, dan follower sebanyak mungkin.

Senada dengan Marwick, pakar pemasaran dari EM Lyon Business School dalam tulisannya di The Conversation menganggap fenomena swafoto adalah gejala dari perkembangan genre baru bidang ekonomi, yakni attention economy. Respons seperti likes, shares, dan followers menjadi attentional capital (modal perhatian) yang selanjutnya mendorong berkembangnya fenomena micro-celebrity.

Pakar Filsafat Teknologi LIPI, Ikbal Maulana juga punya pandangan serupa. Menurutnya fenomena swafoto tidak lebih dari fenomena celebrity culture.

Mereka (anak muda) ingin seperti selebriti. Ingin difoto, juga diberitakan.

- Ikbal Maulana, Pakar Filsafat Teknologi LIPI

Infinity Mirrored Room di Museum MACAN. (Foto: Instagram @museummacan)

Untuk modal perhatian itu, segenap usaha rela dilakukan. Ke salon dan berdandan saja tidak cukup. Tapi juga rela jauh-jauh berplesir. Ujung pangkalnya tetap sama: berswafoto dengan tempat wisata sebagai background dan mengunggahnya ke media sosial.

Akibatnya, ruang jadi jualan utama. Kini menjamur kedai kopi, restoran, atau kafe yang justru lebih menjual tempat ketimbang menu makanan-minumannya. Dan ketika muncul tempat-tempat cantik macam Rabbit Town dan Museum Macan, antrean pengunjung yang mengular menjadi biasa.

Tak hanya mengantre, orang-orang juga rela membayar Rp 50 ribu untuk sekadar berswafoto dengan waktu amat terbatas. Salah satunya Satrio Wibowo, pegawai swasta berumur 24 tahun.

Awal Januari lalu, Satrio menyambangi Museum Macan di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta Barat, untuk berswafoto di ruangan yang sedang tenar-tenarnya: Infinity Mirrored Room.

Namun untuk masuk ke dalam ruangan itu tidaklah mudah. Satrio mesti antre berdiri selama 2 jam. Ironisnya, di dalam ruangan, Satrio cuma diberi waktu 45 detik untuk menunaikan hasratnya. Ia cuma dapat 5-10 foto.

Malam hari setelah usaha swafoto di Infinity Mirrored Room itu, Satrio mengunggah satu fotonya ke Instagram. Satrio merasa usahanya tak sia-sia. Hasil swafoto Satrio mendapat “loves” sebanyak 200-an kali.

Menurut Satrio, fotonya itu “termasuk yang mendapat like paling banyak dibanding foto lainnya.”

Apa yang dilakukan Satrio menunjukkan dua hal. Pertama, manusia rela melakukan apapun demi mendapat swafoto bermutu. Kedua, kebutuhan ruang untuk swafoto sudah tidak terelakkan.

Rabbit Town Id (Foto: Dok. Rabbit Town Id)

Kebutuhan ruang untuk selfie disadari oleh para pelaku bisnis cafe dan restoran, yang kemudian melihatnya sebagai peluang. Tak hanya memantapkan menu yang disajikan, mereka juga bergegas membenahi desain kafe dan restoran agar tampak Instagrammable saat difoto.

Seperti diberitakan The Verge, pengusaha restoran kini mengembangkan ide bisnis melampaui menu makanan. Ruangan kafe dan restoran didesain sedemikian rupa dengan satu tujuan: jadi inspirasi orang-orang untuk berfoto.

Lampu neon dipasang dengan pencahayaan yang mendukung fotografi, mural-mural estetis digambar, dan lantai kafe didesain dengan pola-pola menarik. Harapannya, pengunjung mau mengunggah foto-foto itu ke Instagram --iklan gratis buat bisnis resto terkait.

Di Indonesia, fenomena serupa terjadi. Seperti diberitakan Marketeers, Senior Associate Director dari konsultan Colliers International Ferry Salanto mengaku bahwa hotel-hotel di Indonesia telah menerapkan strategi yang sama.

Di era digital saat ini, hotel di Indonesia menangkap peluang dengan menghadirkan tempat-tempat Instagramable alias tempat yang membuat orang mau membidik foto atau video, dan membagikannya di media sosial mereka.

- Ferry Salanto

Hasrat berswafoto ria ini juga mempengaruhi logika kebanyakan orang dalam memilih destinasi wisata. Studi yang dilakukan perusahaan asuransi Schofields Insurance membuktikan itu. Menurut mereka, 40,1 persen anak muda masa kini yang berusia 18-35 tahun memilih destinasi wisata berdasarkan kadar Instagramability.

Di Indonesia tak jauh beda. Sebuah survei platform travel niaga, Travelport, mengungkap 93 persen orang menjadikan foto dan video di media sosial sebagai referensi pemilihan tujuan liburan. Hal ini berkontribusi terhadap pertumbuhan industri pariwisata Indonesia yang tumbuh sampai 25,68 persen di tahun 2017.

Banjir Untung dari Selfie (Foto: Chandra Dyah Ayuningtyas/kumparan)

Tak dapat dipungkiri, budaya selfie sudah begitu penting bagi masyarakat Indonesia. Menurut data eMarketer, pada 2016 sebanyak 56 persen pengguna telepon pintar di Indonesia menggunakan gawai mereka untuk swafoto. Jumlah tersebut lebih tinggi ketimbang membaca berita (48 persen), berbelanja (37 persen), atau E-banking (26 persen).

Dampaknya, kompetisi pabrikan telepon pintar dalam fitur kamera kian memanas. Salah satu pabrikan yang getol mengedepankan kualitas fitur kamera adalah OPPO. Perusahaan asal China itu mengampanyekan kualitas swafoto sebagai kemampuan utama produk mereka. Itu dibuktikan lewat produk mereka OPPO F1 Selfie Expert yang dirilis pada 2016.

Menurut Media Engagement OPPO, Ario Meidianto, peluncuran produk itu membuktikan bahwa mereka telah sejak awal konsisten menggarap segmen rakyat yang gemar swafoto. Sebab, berdasarkan hasil survei internal mereka, rata-rata konsumen Indonesia menginginkan kualitas kamera depan yang baik.

“Maka dari itulah kami banyak mengembangkan (teknologi) kamera depan,” ujarnya kepada kumparan, Rabu (28/3).

Merek telepon pintar lain yang juga fokus pada teknologi kamera depan adalah Vivo. Vivo dan OPPO, dengan mengandalkan fitur kamera depan, berhasil mengguncang pangsa pasar penjualan telepon pintar di Indonesia.

Pada 2016, produk OPPO F1 Selfie Expert masuk Indonesia. Hasilnya, berdasar data Statista, mereka berhasil menguasai 19 persen pangsa pasar di tahun tersebut, menggeser pabrikan lain seperti ASUS dan Lenovo.

Selanjutnya pada 2017, Vivo yang menjadi debutan di pasar Indonesia lewat produk Vivo V7 langsung menguasai 7,5 persen pangsa pasar, hanya kalah dari Samsung, OPPO, dan Advan.

Chelsea Islan dan OPPO F5 warna merah. (Foto: Oppo Indonesia)

Nilai penjualan telepon pintar di Indonesia juga terus tumbuh. Menurut data konsultan riset pasar Gesellshaft fur Konsumforschung, pada 2016 nilai penjualan telepon pintar di Indonesia naik 11,3 persen hingga menyentuh angka Rp 69 triliun.

Pertumbuhan pengguna telepon pintar juga selalu positif. Berdasar data eMarketer, pengguna telepon pintar di Indonesia pada 2016 berjumlah 65,2 juta. Diprediksi pada 2019 nanti pengguna telepon pintar melonjak jadi 92 juta jiwa.

Sadar atau tidak, selfie telah berkontribusi banyak terhadap aktivitas ekonomi. Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, tak memungkiri hal itu. Menurutnya, kontribusi ekonomi dari kegiatan swafoto sebelumnya “tidak terpikirkan sama sekali”.

“Apabila selfie diibaratkan seperti aliran sungai yang kecil-kecil, itu memang jadi banyak sekali. Dan itu ujung-ujungnya menjadi sebuah hal yang bisa dicarikan kontribusinya kepada bisnis. Yang jelas pasti ada dampak ekonominya, meski tidak disengaja,” ujarnya kepada kumparan, Kamis (29/3).

Jadi, dari jepret selfiemu, bisnis bergulir.

------------------------

Ikuti isu mendalam lain dengan mengikuti topik Ekspose di kumparan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31