news-card-video
29 Ramadhan 1446 HSabtu, 29 Maret 2025
Jakarta
chevron-down
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45

Generasi Millenial Pemalas, Benarkah?

16 November 2017 22:27 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:14 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Generasi Millenial (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Generasi Millenial (Foto: Thinkstock)
ADVERTISEMENT
Hidup sebagai bagian dari generasi millenial terkadang tidak mudah. Pasalnya, cukup banyak stereotipe negatif menempel pada pundak generasi yang terlahir antara awal 1980 hingga 2000an tersebut.
ADVERTISEMENT
Salah satu dari stereotipe yang beredar menyebutkan bahwa generasi millenial merupakan generasi yang pemalas.
Hal itu senada dengan apa yang pernah dikatakan seorang konsultan kepemimpinan, Simon Sinek, dalam video wawancara yang sempat menjadi cukup viral beberapa waktu lalu.
Dalam video tersebut, ia mengatakan, orang yang terlahir setelah 1982 mempunyai sifat "entitled, narcissistic, self-interested, unfocused and lazy."
Meskipun ia tidak bermaksud untuk menyudutkan generasi millenial, ada satu hal menarik yang kemudian ia sampaikan mengikuti pernyataannya tersebut.
Menurutnya, penyebab generasi millenial bisa menjadi seperti apa yang ia deskripsikan, bukanlah merupakan kesalahan generasi itu sendiri. Melainkan karena generasi tersebut dibesarkan dalam lingkungan yang serba "memberi hadiah", sehingga membuat mereka kesulitan untuk menghadapi kehidupan sesungguhnya setelah menyelesaikan pendidikan.
ADVERTISEMENT
Namun, apakah dengan fakta menjamurnya tokoh pemimpin serta pebisnis muda yang berusia di bawah 35 tahun saat ini, masih membuat stigma "pemalas" itu valid? Beberapa survey menunjukan justru sebaliknya.
Generasi muda (Foto: Thinkstock)
zoom-in-whitePerbesar
Generasi muda (Foto: Thinkstock)
Survey yang dilakukan Project: Time Off tentang bagaimana generasi millenial akan mendefinisikan kultur liburan di Amerika Serikat menunjukkan, 43 persen responden yang merupakan generasi millenial enggan untuk mengambil jatah liburan kantor karena merasa bersalah, bangga, atau karena takut posisinya tergantikan. Mereka yang masuk dalam presentase tersebut, disebut sebagai "work martyrs."
Selain itu, survey yang melibatkan 5.600 responden tersebut juga menunjukkan bahwa 24 persen millenial tidak menggunakan hak liburannya di kantor. Angka tersebut terbilang lebih besar dari generasi X dan Baby Boomer yang masing - masing tercatat hanya mencapai 19 dan 17 persen.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, survey yang dilakukan oleh Ernst & Young Global Generation Research tentang kehidupan kerja menunjukkan, 47 persen generasi millenial yang bekerja dalam posisi menejemen, telah bekerja lebih dari jam yang ditentukan.
Jumlah tersebut, secara presentase, menunjukkan hasil hang cukup jauh berbeda dari generasi X dan Baby Boomer yang masing - masing hanya mencapai 38 dan 28 persen.
Meski mungkin tidak mewakili secara keseluruhan, hasil dari kedua survey yang baru saja disebutkan menunjukkan bahwa stereotipe pemalas yang menempel pada generasi millenial, secara statistik, tidak dapat dibuktikan keberadaannya.
Dengan itu, pikiran tentang stereotipe yang mungkin sering menggangu para generasi millenial, kini sudah saatnya untuk mulai dilupakan.