Pencarian populer

Seandainya Kartini Didukung untuk Maju

Konten SPESIAL: Support System #UntukPerempuan Foto: Putri Sarah Arifira/kumparan

Jepara, 1892. Saat itu Raden Ajeng Kartini berusia 12 tahun dan sedang sangat bersemangat belajar di Sekolah Rendah Belanda.

Ia sudah mulai membayangkan bahwa ia akan melanjutkan sekolahnya ke negeri Eropa seperti teman-temannya para noni Belanda yang sekelas dengannya, atau setidaknya ke sekolah HBS di Semarang seperti abang-abangnya.

Namun, Kartini harus menghadapi kenyataan pahit. Pada masa itu, tak seorang anak perempuan pun bersekolah tinggi, apalagi untuk seorang keturunan bangsawan seperti dirinya. Tempat mereka adalah di rumah, dipingit untuk belajar keahlian sebagai istri sambil menunggu calon suami yang juga seorang bangsawan siap meminang.

Dalam suratnya pada 25 Mei 1899 kepada teman korespondensinya Estella Zeehandelar, seperti dikutip oleh Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja, Kartini menulis, “Lihatlah adat negeri kami melarang keras gadis-gadis keluar rumah. Pergi ke tempat lain kami pun tak boleh.”

Dalam surat berbeda yang bertanggal 6 November 1899, juga kepada Estella Zeehandelar, Kartini juga mengulang cerita sedihnya karena harus berhenti sekolah di usia kecil. “Si gadis cilik berumur 12,5 tahun sekarang, dan tibalah masa baginya untuk mengucapkan selamat jalan bagi kehidupan bocah yang ceria; meminta diri pada bangku sekolah yang ia suka duduk di atasnya; pada kawan-kawannya orang Eropa, yang ia suka berada di tengahnya-tengahnya.”

Kartini tak bisa melawan kondisi, ia harus menuruti adat dan perintah orang tuanya agar ia kembali ke rumah dan dipingit selama masa pertumbuhan remajanya. Namun Kartini tidak menyerah. Ketika mulai dipingit, Kartini yang cerdas mulai menghabiskan waktu untuk membaca berbagai macam buku. Ia juga mengasah kemampuan menulisnya dalam bahasa Belanda. Ia mulai berkorespondensi dengan teman-teman dari Belanda, di antaranya adalah Estella Zeehandelaar dan Rosa Abendanon.

Kepada Estella dan Rosa, Kartini mengungkapkan keresahannya atas situasi yang dihadapi bangsanya. Kartini resah terhadap praktik korupsi dari kalangan pejabat priyayi, Kartini resah terhadap kemiskinan rakyatnya, Kartini resah dengan rendahnya pendidikan para perempuan dan ia ingin berbuat banyak hal untuk berkontribusi

Tapi ia tidak memiliki dukungan. Satu-satunya dukungannya waktu itu adalah teman-teman korespondensinya yang dengan setia berbagi pikiran dengan Kartini. “Sebagai seorang wanita, yang sebenarnya berdiri sendiri tanpa suatu dukungan organisasi massa yang waktu itu memang belum lahir, perjuangan dan masalah-masalah yang dihadapinya sebenarnya jauh lebih berat,” tulis Pramoedya mengenai Kartini.

R.A Kartini. Foto: Dok. Wikimedia Commons

Surat-surat Kartini terhadap Estella dan Rosa yang berisi berbagai pemikiran yang visioner, jauh melampaui pemikiran orang-orang lain yang hidup di zamannya tersebut. Pada 1911, tujuh tahun setelah Kartini meninggal di usia 25 tahun saat melahirkan anak pertamanya, surat-surat tersebut kemudian didokumentasikan ke dalam buku Habis Gelap Terbitlah Terang dengan judul asli Door Duisternis Tot Licht.

Jika kita membaca surat-surat tersebut, kita akan dapat merasakan energi dan hasrat untuk bekerja dan berkarya yang dimiliki seorang Kartini muda. Betapa ia memiliki banyak impian dan keinginan, baik untuk dirinya, maupun orang-orang di sekitarnya.

Sayangnya, saat itu meski banyak yang memahami kemampuan dan kemauan Kartini, termasuk ayahnya, kakak laki-lakinya, dan segelintir pejabat yang mengelilingi kehidupan Kartini, tak satupun yang bisa memberikan dukungan bagi Kartini yang ingin bersekolah tinggi meskipun ia sudah mendapatkan beasiswa untuk bersekolah ke Belanda saat itu.

Menurut sejarawan dan pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali, memang saat itu kecil sekali kemungkinan bagi seorang perempuan seperti Kartini untuk melanjutkan sekolah ke Belanda. “Memang di zamannya, tidak ada perempuan yang kuliah di Belanda, kecuali laki-laki, apalagi di tahun Kartini lahir. Ketika ada mereka yang kuliah di Belanda, itu sudah periode kebangkitan di awal 1900, 1912 sampai 1920-an,” ujar Asep kepada kumparan.

Di 2019 ini, 140 tahun setelah Kartini lahir, kehidupan perempuan Indonesia telah jauh berubah. Tidak ada lagi perempuan yang dipingit meski akses pendidikan untuk perempuan di seluruh Indonesia belum merata. Dan meskipun kesenjangan gender dan berbagai isu perempuan lain masih menjadi persoalan besar, banyak perempuan yang sudah bisa memiliki keistimewaan dan kebebasan untuk meraih aspirasi mereka; bersekolah setinggi-tingginya hingga ke Eropa, mengejar karier, membangun bisnis, atau menjadi apapun yang diinginkan.

Tidak seperti Kartini di zamannya, perempuan saat ini semakin didukung untuk maju dan berkarya. Tidak hanya oleh keluarga terdekat, yang memungkinkan perempuan bisa menjalankan peran ganda mereka di luar dan di rumah, dukungan dari lingkup lebih luas pun semakin nyata.

Makin banyak perusahaan yang memberikan dukungan penuh bagi staf perempuan agar mereka bisa terus mengeluarkan potensi terbaik mereka, baik melalui program mentoring, coaching dan lain-lain. Sementara dunia bergerak aktif untuk menyuarakan isu-isu perempuan, perkembangan teknologi juga mendukung perempuan dari berbagai sisi.

Teknologi memungkinkan perempuan untuk melakukan multi-tasking; mengatur keuangan keluarga dari kantor, melakukan belanja rumah tangga saat business trip dan banyak hal lainnya. Perempuan juga bisa menjalankan hal-hal yang tidak dibayangkan Kartini dulu, bisa menjadi dokter, ilmuwan, pakar teknologi hingga pilot dan astronot.

Jika Kartini melihat itu sekarang, ia pasti akan sangat bangga. Mungkin ia juga akan sedikit iri, karena ia tidak mendapat dukungan untuk meraih cita-citanya yang tinggi seperti perempuan Indonesia saat ini.

R.A Kartini (kiri). Foto: Dok. Wikimedia Commons

Pengalaman Kartini menjadi refleksi bagi kita saat ini, betapa pentingnya perempuan didukung untuk berkarya. Satu pepatah yang terkenal, “If you educate a boy, you educate a man. If you educate a girl, you educate a nation” memiliki makna yang sangat dalam.

Jika kita mendidik seorang anak laki-laki, artinya kita (hanya) mendidik seorang pria. Tapi jika kita mendidik seorang anak perempuan, artinya kita akan mendidik seluruh bangsa. Pepatah ini berangkat dari sifat alamiah perempuan yang berbagi dan mengasuh.

Perempuan yang terdidik tidak hanya akan mendidik dirinya sendiri, tapi otomatis akan mendidik anak-anaknya dan komunitas yang lebih luas, seperti yang dilakukan Kartini dalam keterbatasannya.

“Bahkan kemudian ketika ia menjadi seorang istri ke-4, Kartini tetap mencurahkan segenap upaya, dayanya dan perjuangannya untuk memanfaatkan, dalam tanda kutip, kesempatan yang ada itu. Dia mendirikan sekolah, membuka sekolah, bahkan itu di kantor bupati dan itu diizinkan oleh bupatinya. Artinya apa? Ketika dia menjadi seorang istri bupati, dia pun kemudian bergerak memberikan sekolah gratis bagi perempuan-perempuan yang ada di Jawa waktu itu. Apa yang dia inginkan? Dia ingin bahwa anak- anak perempuan di Jawa itu terdidik, tercerahkan, mampu berbahasa Belanda. Bahasa yg mampu mengantarkan mereka tidak hanya di lingkup Jawa tapi juga di luar,” jelas Asep Kambali.

Sekolah R.A Kartini. Foto: Dok. Wikimedia Commons

Hanya melalui kontribusinya berbentuk surat dan pemikiran, Kartini telah menjadi inspirasi besar bagi banyak perempuan Indonesia. Coba bayangkan jika Kartini benar- benar menempuh pendidikan tinggi, dan seandainya Kartini didukung untuk maju. Mungkin akan ada lebih banyak buku penting hasil pemikirannya, banyak sekolah untuk anak perempuan dan berbagai kontribusi lainnya untuk mendukung perempuan.

“Kalau dia (Kartini) jadi sekolah ke Belanda, dapat dibayangkan bahwa seorang perempuan yang tangguh dan hebat seperti dia kemudian akan menjadi sosok pemimpin yang dahsyat saya kira,” tutup Asep Kambali.

Simak artikel lainnya mengenai Support System Untuk Perempuan pada topik #UntukPerempuan

#UntukPerempuan merupakan bagian dari kampanye Shopee Indonesia dalam rangka menyambut Hari Perempuan Internasional dan Hari Kartini sebagai bentuk dukungan untuk perempuan di seluruh Indonesia.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: