Pencarian populer

Industri Game Desak WHO Batalkan 'Penyakit Mental Kecanduan Game'

com-Main Game Online 1 (Foto: Thinkstock)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menghabiskan waktu hingga tahunan untuk membuktikan bahaya game bagi manusia. Hal ini berujung pada keputusan untuk memasukkan aktivitas bermain game yang dilakukan secara terus menerus, sebagai masalah kesehatan.

Keputusan tersebut tertuang dalam ICD-11 pada Juni 2018 dan dimasukkan dalam kategori disorders due to addictive behavior alias kecanduan. ICD (International Statistical Classification of Disease and Related Problem) sendiri adalah sebuah sistem klasifikasi penyakit yang ditentukan berdasarkan gejala, tanda, dan penyebabnya.

Definisi kecanduan menurut WHO, adalah situasi di mana seseorang tidak dapat mengendalikan kebiasaan bermain game, memprioritaskan bermain game di atas kebutuhan yang lain dan, terus bermain game meski mengetahui adanya konsekuensi negatif.

Pecandu game online. (Foto: Wikimedia)

Menanggapi hal tersebut, Asosiasi Software Hiburan atau Entertainment Software Association (ESA) berupaya untuk melobi WHO mencabut keputusan yang telah ditetapkan sejak bulan Juni 2018 tersebut. Mereka akhirnya melakukan diskusi bersama WHO pada 3 Desember 2018.

"Pertemuan dengan WHO, kami bisa berdialog tentang dampak positif apa saja yang bisa diberikan video game kepada 1,6 juta pemain di seluruh dunia," ujar Presiden dan CEO ESA Stanley Pierre-Louis.

"Kami yakin diskusi berkelanjutan dan edukasi sebenarnya diperlukan sebelum menetapkan klasifikasi apapun. Bahkan, para pakar kesehatan mental telah memberikan peringatan berulang kali bahwa mengklasifikasikan penyakit gaming dapat menimbulkan mis-diagnosa kepada pasien yang sebenarnya benar-benar membutuhkan pertolongan," jelasnya.

Tim DoTA2, YouPorn, di Gamergy 2014, Spanyol (Foto: Flickr/ artubr)

Setelah diskusi tersebut, WHO akhirnya telah menyiapkan keputusan ICD terbaru yang bakal dipresentasikan di ajang World Health Assembly pada bulan Mei mendatang. Mereka juga mulai melakukan eksperimen untuk melihat apa saja dampak bermain game sejak 1 Januari.

Negara yang menjadi anggota eksperimen ini dapat memilih bagaimana cara implementasi klasifikasi dampak dari aktivitas main game yang dilakukan terus menerus. Namun pakar kesehatan mental negara tersebut harus melaporkan kepada WHO bagaimana sistem klasifikasi yang diterapkan di negaranya sebelum melakukan eksperimen.

Sebelumnya, ESA juga sudah memberikan pernyataan untuk menolak definisi penyakit gaming disorder. Menurut mereka, melakukan aktivitas bermain game selama berjam-jam tidak berarti menentukan adanya kelainan, melainkan karena alasan mencintai hobi bermain game.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23