Kumparan Logo

Ketika 3 Biksu Muda Jadi Juara Turnamen eSports di Thailand

kumparanTECHverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Biksu muda yang mengikuti turnamen eSports di Thailand. Foto: Nkc Academic/Facebook
zoom-in-whitePerbesar
Biksu muda yang mengikuti turnamen eSports di Thailand. Foto: Nkc Academic/Facebook

Ada yang menarik dari turnamen eSports yang digelar oleh salah satu kampus di Thailand, yakni Khon Kaen University di Nong Khai pada pekan lalu. Tidak disangka, pemenang dari turnamen eSports tersebut adalah tim yang beranggotakan tiga biksu muda.

Para biksu muda ini berhasil memenangi salah satu game yang dipertandingkan di ajang 2019 KKU Nong Khai Fair, yaitu Speed Drifters. Mereka rupanya berasal dari sekolah menengah Balee Sathit Suksa yang terletak di wilayah utara Thailand.

Seorang pendamping akademik serta biksu dari sekolah tersebut, Kokkiad Chaisamchareonlap, mengatakan bahwa ketiga biksu muda ini memang memiliki keinginan untuk mengikuti kompetisi tersebut dan tidak disangka mereka berhasil menjadi juara.

"Para siswa ingin mencoba ikut kompetisi, jadi kami memberi mereka kesempatan itu. Kami tidak berharap untuk benar-benar menang (awalnya)," katanya, seperti dikutip dari Coconuts Bangkok.

Biksu muda yang mengikuti turnamen eSports di Thailand. Foto: Nkc Academic/Facebook

Berkat prestasi yang diraihnya, kini ketiga biksu dan Kokkiad menjadi terkenal karena foto-foto mereka saat mengikuti kompetisi tersebut telah tersebar luas secara online. Namun, tidak ada informasi tentang jumlah hadiah yang didapat oleh ketiga biksu muda ini setelah memenangi turnamen tersebut.

Dapat kritikan

Walau prestasi yang diraih para biksu, tapi nyatanya ada saja netizen yang memberikan kritik tidak relevan terkait kemenangan para biksu. Beberapa warga Thailand mengkritik penampilan para biksu muda itu karena mengenakan jubah mereka selama kompetisi.

"Biasanya saya tidak mempermasalahkan hal-hal keagamaan, tetapi saya pikir ini tidak pantas. Ini tidak ilegal dan juga tidak ekstrem, tetapi saya merasa para biksu seharusnya tidak mengenakan jubah untuk bersaing dalam turnamen,” tulis pengguna Twitter @ParnkungTH.

Ilustrasi eSport. Foto: Athit Perawongmetha/Reuters

Kokkiad menampik kritik seperti itu sebagai hal yang tidak masuk akal. Ia berpendapat para siswanya hanyalah anak-anak, yang perlu tumbuh, serta mengembangkan keterampilan dan mengeksplorasi minat mereka.

“Kami ingin memberi para siswa kesempatan. Banyak dari mereka yang tidak datang dari keluarga miskin atau keluarga yang rusak. Ketiganya ingin bersaing, mereka meminta. Jadi kami memberi mereka kesempatan,” ungkapnya.

Perkenalan dengan esports

Sesuai dengan perkembangan zaman, Kokkiad mengatakan meskipun sekolah Balee Sathit Suksa didedikasikan untuk siswa biksu pemula, mereka hanya belajar agama selama 20 jam seminggu, sisa waktu mereka dikhususkan untuk mata pelajaran lainnya.

Ilustrasi eSport. Foto: Athit Perawongmetha/Reuters

Para siswa pun diperkenalkan dengan eSports melalui kelas komputer. Beberapa menyukainya, sehingga mereka mulai berlatih setiap hari di waktu luang mereka. Perlu diketahui, Balee Sathit Suksa bukan satu-satunya sekolah agama yang mengirim siswanya untuk mengikuti turnamen esports 2019 KKU Nong Khai Fair.

Secara tidak langsung, ini membuktikan bahwa eSports benar-benar bisa menjangkau semua kalangan tidak terbatas dengan stigma-stigma yang ada.