kumparan
13 Jul 2019 11:22 WIB

Tim EVOS Sampai RRQ Tanggapi Aturan Bayar Rp 15 M Liga Mobile Legends

Trofi juara Mobile Legends Professional League (MPL). Foto: Moonton
Turnamen Mobile Legends Professional League (MPL) di Indonesia sedang jadi topik panas industri eSports karena adanya pergantian sistem ke franchise league untuk musim keempat yang akan segera digelar. Perubahan sistem membuat tim peserta MPL Season 4 yang jumlahnya ada delapan harus membayar 'biaya masuk' sebesar 1 juta dolar AS atau sekitar Rp 15 miliar. Pada musim-musim sebelumnya, tim yang ikut turnamen cukup melewati proses kualifikasi, tanpa harus membayar.
ADVERTISEMENT
Satu tim Mobile Legends yang dikenal berprestasi di MPL musim sebelumnya, Louvre Esports, measa menjadi "korban" dari perubahan kebijakan dari Moonton, yang merupakan pengembang dan penerbit game Mobile Legends, sekaligus penyelenggara MPL. Louvre gagal tampil di MPL Season 4 karena disebut terlambat menyelesaikan pengajuan keikutsertaan.
Padahal, Louvre merupakan runner-up MPL Season 3 dan juga runner-up Mobile Legends Southeast Asia Cup (MSC) 2019. Tentu hal ini membuat persaingan di MPL Season 4 menjadi berkurang tanpa kehadiran Louvre.
Erick Herlangga, pemilik Louvre Esports, telah mengajukan protes keras terkait aturan bayar Rp 15 miliar ini. Ia membuat sebuah petisi di Change.org yang meminta Moonton membatalkan aturan tersebut. Petisi ditujukan untuk Presiden Joko Widodo, Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, dan Kepala Bekraf Triawan Munaf, yang diminta bantuannya agar bisa membantu mediasi antara Louvre dengan Moonton.
Erick Herlangga, pemilik tim Louvre Esports, tampak memeluk pemainnya. Foto: Louvre Esports
Moonton tidak mengelak adanya aturan bayar Rp 15 miliar seperti yang diungkap Erick. Namun, Moonton menegaskan apa yang mereka lakukan itu bukanlah praktik jual beli slot, melainkan sebagai investasi dalam sistem franchise league.
ADVERTISEMENT
Moonton menjelaskan, dalam sistem franchise ini nantinya lebih dari 50 persen pendapatan MPL dari sponsor dan hak penyiaran bakal didistribusikan kepada tim yang ikut turnamen. Hal ini dilakukan agar manajemen tim yang berpartisipasi dapat menggunakan dana tersebut untuk membiayai tim secara stabil setiap musim.
"Dengan investasi satu kali secara bersama-sama sebesar Rp 15 miliar per tim dan investasi dari Moonton, banyak inisiatif akan direncanakan dan diluncurkan dalam waktu dekat yang akan bermanfaat bagi komunitas eSports Indonesia," jelas Moonton.
Walau dana Rp 15 miliar itu sangat besar, tapi daya tarik game Mobile Legends di Indonesia memang tidak terbantahkan. Hal inilah yang membuat delapan tim eSports tersebut bersedia membayar demi berpartisipasi dalam MPL Season 4.
ADVERTISEMENT
EVOS dan RRQ
Dari delapan tim peserta MPL Season 4, ada dua tim yang dipastikan ikut serta; EVOS Esports dan RRQ. EVOS merupakan salah satu tim eSports tajir di Indonesia. Maret lalu, mereka mendapatkan investasi sebesar Rp 50 miliar dari investor asing dan lokal. EVOS juga tersohor karena di sana ada Justin Tobias, alias JessNoLimit. Ia pemain Mobile Legends yang punya banyak penggemar. RRQ juga tersohor untuk urusan Mobile Legends karena tim ini dibela Muhammad Ikhsan alias Lemon.
Sebagai dua nama besar di kancah Mobile Legends, keduanya memberikan pandangan masing-masing terkait penerapan franchise league di MPL.
Tim Mobile Legends di EVOS saat bertanding di turnamen Piala Presiden eSports 2019. Foto: Jofie Yordan/kumparan
CEO EVOS Esports, Ivan Yeo, menganggap bahwa aturan investasi Rp 15 M itu sebagai sebuah cara baru untuk mengembangkan eSports di Indonesia. Ia meyakini sistem baru tersebut dapat membuat eSports di Indonesia jadi mainstream.
ADVERTISEMENT
“Tujuan utama kami di EVOS adalah untuk menciptakan sebuah ekosistem eSports, yang membuat pemain-pemain kami dapat menunjukkan talenta mereka dalam panggung terbesar yang tersedia. Liga franchise di MPL S4 sejalan dengan tujuan kami terkait ekosistem eSports tersebut dan kami yakin ini akan menjadi tempat terbaik untuk pemain-pemain kami dalam menunjukkan talenta mereka,” kata Ivan, dalam email kepada kumparan.
Sementara itu, CEO RRQ Andrian Pauline atau biasa disapa AP, mengakui jika angka Rp 15 miliar itu sangat besar dan terbilang berat untuk tim sekelas RRQ. Tim ini membutuhkan arus kas yang positif untuk mendanai operasional.
Skuat baru tim RRQ divisi Mobile Legends. Dari kiri ke kanan: LJ, Billy, Lemon, Rave, dan Tuturu. Foto: RRQ/YouTube
Walau begitu, ia mengakui ada benefit-benefit yang akan diterima jika ikut serta dalam sistem franchise MPL. Itu pula yang membuat RRQ rela bayar Rp 15 miliar. Terlebih, RRQ sendiri bisa besar seperti sekarang berkat komunitas Mobile Legends pada awalnya.
ADVERTISEMENT
“Buat saya, ada banyak aspek. Kalau cuma participate doang tentu enggak worth it. Tapi kalau kita bisa dapat benefit lebih, kayak misalnya eksistensi sebuah tim, contohnya RRQ. Kalau RRQ sendiri eksistensi atau fanbase paling besar RRQ kan juga ada di Mobile Legends. Jadi, kita harus ada (di MPL Season 4),” ujar AP, dalam video wawancaranya dengan caster Frans Volva di YouTube.
Belum diketahui apa saja yang akan didapatkan para tim partisipan MPL dengan investasi Rp 15 miliar tersebut. Namun, AP menyebut tidak menutup kemungkinan bahwa itu bisa dalam bentuk penyejahteraan tim-tim eSports Indonesia atau gelaran MPL ke depannya yang akan semakin mewah.
“Perihal sistemnya, kan di-share bahwa ada profit sharing, revenue sharing. Jadi, ya, harus bagus supaya tim partisipan di MPL Season 4 ini dapat benefit seperti yang sudah di-planning,” lanjutnya. “Kalau kalian lihat Rp 120 miliar itu enggak diambil terus dibawa lari. Ini tuh bener-bener ditaruh dan dihabiskan di situ.”
ADVERTISEMENT
AP tidak menjelaskan secara detail skema bagi hasil yang akan didapat dari MPL. Dia bilang, RRQ dan tujuh tim lainnya bersedia membayar karena mau bekerjasama dengan Moonton untuk mengembangkan komunitas Mobile Legends melalui MPL.
Sejauh ini, Moonton belum mengungkap siapa saja delapan tim yang akan bertanding di MPL Season 4. Tapi, menurut rumor yang beredar, kedelapan tim itu nantinya adalah EVOS, RRQ, Aerowolf, Alter Ego, Geek Fam Indonesia, Bigetron, Onic, dan Aura.
Masa depan tim kecil di MPL
Tim-tim besar boleh saja bersedia bayar Rp 15 miliar untuk berpartisipasi dalam turnamen Mobile Legends paling bergengsi di Indonesia, tetapi sistem baru ini sejatinya menyakiti tim eSports kecil. Setidaknya, itu yang dirasakan oleh Reza Apandi alias Daylen. Dia adalah salah satu pemain paling senior di industri eSports Mobile Legends dan juga pendiri tim Saints Indo.
Tim AOV EVOS juara ESL Clash of Nations Asia Tenggara. Foto: ESL Indonesia/Instagram
Menurutnya, sistem ini membuat tim kecil jadi sulit bersaing dan berpartisipasi di MPL. Ini semacam memperbesar tim besar, dan memperkecil tim kecil. Itu dikarenakan MPL akan otomatis dikuasai delapan tim itu saja yang akan bersifat permanen, kecuali ada tim yang menjual slot mereka ke tim lain.
ADVERTISEMENT
"Kalau saya, sih, sebenarnya agak kecewa kalau Moonton bilang mau mendorong perkembangan Esports. Soalnya itu jadi mendorong yang gede makin gede, yang kecil makin kecil," ujar Daylen, saat ditemui kumparan, beberapa waktu lalu.
Saints Indo adalah salah satu tim yang dikenal banyak melahirkan pemain-pemain bintang Mobile Legends, seperti di antaranya JessNoLimit dan Eko 'Oura' Julianto yang kini berada di tim EVOS. Dengan tidak bergabungnya Saints Indo dan tim-tim lain di MPL, Daylen memprediksi nama tim mereka perlahan akan memudar.
"Kalau nama-nama (tim) hilang gini kan orang-orang jadi mikir, 'Ih itu skuat apa sih'. Jadi lama-lama hilang (timnya). Dan player kita yang jago malah ketarik sama yang ikut MPL. Karena semua player mau bermain di MPL," sambung Daylen.
ADVERTISEMENT
Pada MPL musim-musim sebelumnya, diketahui menerapkan babak kualifikasi untuk menjaring tim-tim yang masuk ke MPL. Tapi, setelah adanya sistem franchise, maka tidak ada lagi kualifikasi dan tim yang bayarlah yang berpartisipasi.
Wibi Irbawanto alias '8Ken', caster eSports dan Mobile Legends. Foto: Astrid Rahadiani/kumparan
Wibi Irbawanto alias '8ken', caster MPL dan Mobile Legends Southeast Asia Cup (MSC), yang memiliki latar belakang pekerjaan di bidang hukum, berpendapat bahwa Moonton harus punya solusi bagi tim-tim yang tidak memiliki uang sebanyak Rp 15 miliar, tapi ingin ikut berpartisipasi dan secara kualitas bisa bersaing di MPL.
"Satu hal yang mungkin belum dikasih oleh Moonton dan Mobile Legends dalam konteks ini adalah bagaimana mereka akan membuat atau merapikan komunitas yang ada di bawah MPL," jelas Wibi, saat ditemui kumparan. "Dan yang dijadikan concern oleh orang-orang adalah kalau gue pengin masuk ke MPL dan gue enggak punya Rp 15 miliar, bagaimana caranya? Karena Rp 15 miliar itu kembali lagi bukan uang yang mudah untuk didapatkan dalam konteks apapun."
ADVERTISEMENT
Terkait ini, Daylen punya usul yang mewakili suara tim kecil. Dia berharap Moonton memberi slot bertanding di MPL bagi tim yang mau menempuh jalur kualifikasi. Konsekuensinya, tim yang lolos dari jalur kualifikasi tidak mendapatkan bagi hasil. Itu dinilai cukup adil untuk mendorong tim kecil merangkak naik ke level berikutnya.
Moonton memang belum memberikan penjelasan terkait sistem franchise di MPL. Mereka juga tidak mengungkapkan bagaimana strategi detail dalam mengembangkan eSports di Indonesia melalui MPL.
Pertanyaan-pertanyaan besar masih membayangi para penggemar game Mobile Legends di Indonesia. Apakah satu-satunya cara untuk bertanding di MPL hanya bergabung dengan tim besar?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·