Kumparan Logo

Twitter Tanggapi Aktivisme di Platform-nya: Pengguna Kami Berpengaruh

kumparanTECHverified-green

comment
11
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Twitter. Foto: Reuters
zoom-in-whitePerbesar
Twitter. Foto: Reuters

Belum lama ini, mahasiswa dari berbagai universitas melakukan aksi unjuk rasa untuk menentang beberapa Rancangan Undang-Undang (RUU) baru. Ada yang dilakukan di daerah masing-masing, dan ada yang berkumpul di Gedung DPR RI, Jakarta.

Ada satu kesamaan dalam pergerakan mereka: aktivisme dimulai dari seruan di Twitter. Seruan aksi ini menjadi trending topic nomor satu di Twitter Indonesia dalam beberapa hari terakhir, mulai dari #GejayanMemanggil sampai #HidupMahasiswa dan #STMmelawan.

Menanggapi hal tersebut, Twitter Indonesia mengakui bahwa platform media sosial mereka memang tempat untuk para penggunanya membicarakan segala hal yang sedang terjadi.

"Twitter itu adalah tempat di mana orang datang untuk mencari apa yang sedang terjadi, di mana orang sedang membicarakan. Pembicaraan itu bisa banyak sekali," kata Dwi Adriansah, Country Industry Head Twitter Indonesia, saat ditemui di Jakarta, Kamis (25/9).

Ilustrasi main Twitter. Foto: Melly Meiliani/kumparan

"Jadi, memang Twitter adalah tempat untuk percakapan publik, basically. Dan apapun yang terjadi, itu merefleksikan percakapan publik," sambungnnya.

Selain itu, Dwi menganggap bahwa pengguna mereka adalah orang-orang yang memiliki pengaruh. Menurutnya, setiap pengguna Twitter adalah influencer bagi para pengikutnya.

"Orang yang ada di Twitter itu adalah orang-orang yang cenderung receptive. Jadi, lebih receptive dalam menerima message apa yang mereka terima. Dan mereka influential. Influential ini bukan berarti orang-orang yang followers-nya banyak ya, tapi orang-orang yang bisa driving culture. Bold mereka, create statement. Dan yang paling penting adalah orang-orang yang punya impact terhadap lingkungan sekitarnya," tambahnya.

2,2 Juta percakapan Twitter soal polusi

Twitter setidaknya memberikan satu contoh di mana pengguna mereka memiliki pengaruh terhadap lingkungan sekitarnya. Arvinder Gujral, Managing Director Twitter untuk Asia Tenggara, mengklaim bahwa terdapat 2,2 percakapan mengenai isu polusi di platform media sosial mereka.

Twitter sendiri tidak begitu merinci dalam periode kapan 2,2 juta percakapan itu terjadi. Mereka hanya mengatakan bahwa percakapan tersebut terjadi di antara satu hingga dua bulan terakhir.

Platform media sosial Twitter. Foto: Thomas White/Reuters

Adapun percakapan dengan jumlah jutaan itu tidak hanya merujuk pada kicauan yang secara tepat menyebut 'polusi'. Dwi mengatakan bahwa jumlah tersebut dihitung oleh pihaknya melalui identifikasi dari sejumlah tweet yang terkait dengan isu tersebut.

"Keywords yang kita gunakan gak hanya kata-kata polusi. Tapi, bisa aja ada orang yang membagikan AirVisual Jakarta. Hari ini Jakarta tertutup sebagainya, gitu. Jadi kita identifikasi beberapa keywords yang memang terkait dengan polusi. Awalnya dijadiin satu, kita cari sebenarnya percakapan yang terkait dengan polusi ini berapa banyak sih jumlahnya. Dan kita menemukan 2,2 juta," jelas Dwi.