kumparan
19 Feb 2019 19:25 WIB

Alasan Cap Go Meh Selalu Dirayakan dengan Meriah

Arak-arakan budaya perayaan Cap Go Meh di Jalan Mayor Oking, Bekasi Timur, Selasa, (19/2). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Bagi masyarakat keturunan Tionghoa, Festival Cap Go Meh menjadi salah satu momen berharga dan tentunya dinanti-nanti.
ADVERTISEMENT
Perayaannya pun sangat semarak, mulai dari menghidangkan lontong cap go meh yang khas, pertunjukan barongsai, lampion merah menghias jalan, hingga festival megah dan meriah setiap tahunnya. Seperti yang dilakukan oleh penduduk Singkawang, Kalimantan Barat.
Festival Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat
Pasalnya, Cap Go Meh menjadi puncak sekaligus penutup masa perayaan Imlek. Bagi keturunan Tionghoa yang masih mempraktikkan tradisi tertentu, seperti tidak menyapu, keramas, mencuci baju, hingga menangis ketika Imlek, pantangan tersebut baru akan berakhir setelah Cap Go Meh usai.
Istilah Cap Go Meh berasal dari dialek Hokkian yang dibawa leluhur China yang datang ke Indonesia. Secara harafiah, Cap Go Meh dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai 15 hari setelah Imlek, menurut kalender Lunar.
Tatung berparade saat Festival Cap Go Meh di Singkawang, Kalimantan Barat
Sebab, apabila istilah ini dipenggal per kata, maka 'Cap' memiliki arti 10, 'Go' berarti lima, sedangkan 'Meh' diartikan sebagai malam. Perayaan Cap Go Meh tidak hanya dilangsungkan di Indonesia saja, lho, tapi di negara-negara lain juga. Hanya saja, setiap negara memiliki penyebutan istilah yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Negara tetangga yang memiliki penyebutan Festival Cap Go Meh sama dengan Indonesia adalah Singapura dan Malaysia. Meskipun, dunia luar lebih akrab mengenalnya sebagai Lantern Festival atau Festival Lampion.
Lampion yang Dipasang di Jalan Foto: Pixabay
Di Vietnam, Cap Go Meh disebut sebagai Tết Thượng Nguyên, sedangkan di negara asalnya China, Cap Go Meh disebut sebagai Yuanxiao atau Shangyuan. Dan di Hong Kong, Cap Go Meh lebih dikenal sebagai Yuen Siu.
Dulunya, perayaan Cap Go Meh di China hanya dilakukan oleh kalangan istana dan sifatnya tertutup. Cap Go Meh baru bisa dinikmati oleh rakyat umum setelah Dinasti Han berakhir.
Proses Kirab di Perayaan Cap Go Meh Kongco Cao Fuk Miao Denpasar. Foto: Denita BR Matondang/kumparan
Perayaan ini diselenggarakan untuk memberi penghormatan pada Dewa Thai Yi, yang dipercaya sebagai dewa tertinggi di langit pada zaman Dinasti Han (206 SM - 221 M). Dewa Thai Yi diyakini sebagai kendali atas bumi, seperti menimbulkan kekeringan, badai, kelaparan, wabah.
ADVERTISEMENT
Namun, di satu sisi, ia juga mengajarkan kebajikan menolong orang yang menderita dari sengsara. Masyarakat China juga percaya bahwa dewa yang maha agung itu memiliki 16 ekor naga.
Maka untuk memperingatinya, dirayakanlah Cap Go Meh. Perayaan Cap Go Meh, awalnya dilakukan oleh Kaisar Pertama Tiongkok, Qinshuang. Ia merayakannya setiap tahun melalui upacara-upacara indah, sambil menerbangkan lampion sebagai tanda mengembalikan cahaya ke langit.
Festival Cap Go Meh 2018 di Singkawang Foto: Dok. Kementerian Pariwisata
Lampion digunakan sebagai pertanda kesejahteraan hidup bagi seluruh anggoota keluarga. Hal ini jugalah yang kemudian jadi alasan mengapa Cap Go Meh identik dengan Festival Lampion.
Selain lampion, ada beragam aktivitas lainnya yang dilakukan penduduk keturunan Tionghoa dalam merayakan Cap Go Meh. Di Penang, Malaysia, biasanya para wanita lajang, termasuk yang sudah memiliki pasangan tapi belum menikah, akan berkumpul bersama dan melemparkan jeruk ke laut.
Perayaan Cap Go Meh 2018 Foto: Jamal Ramadhan/kumparan
Tradisi ini kemudian menyebar dan menjadi salah satu bagian menarik dari perayaan tutup Imlek itu. Aktivitas seru lainnya kala Cap Go Meh, antara lain tarian liong, pertunjukan barongsai, bermain kembang api, petasan, dan memakan onde-onde, serta lontong sayur, yang populer sebagai lontong cap go meh.
ADVERTISEMENT
Meriah sekali, kan? Bagaimana denganmu, tertarik merayakan Festival Cap Go Meh?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan