kumparan
27 Apr 2018 7:45 WIB

Bukan Afrika, Leluhur Penduduk Madagaskar Berasal dari Indonesia

Penduduk Madagaskar. (Foto: Flickr/Alain Diguet)
Apa yang pertama kali kamu bayangkan ketika mendengar kata Madagaskar? Kartun hewan yang dapat bernyanyi? Atau pulau di tepi laut yang diisi dengan hewan asal Afrika? Semuanya bisa jadi benar, tapi tahukah kamu kalau nenek moyang penduduk di negara ini berasal dari Indonesia?
ADVERTISEMENT
Mungkin memang terdengar agak aneh, karena letak Indonesia di Asia, sedangkan Madagaskar berada di Afrika. Dilansir The Conversation, pada awal milenium kedua sebelum orang Eropa menyambangi Afrika Timur, ternyata orang-orang Banjar dari Kalimantan Tenggara berlayar sejauh 7.000 kilometer melewati Samudera Hindia dan menjajah negara Komoro serta Madagaskar.
Seorang ahli Geologi bernama Jared Diamond menuturkan, bahwa pulau-pulau di Afrika Timur, seperti Komoro dan Madagaskar mendapat pengaruh Afrika dan Asia. Kalimantan sudah lama menjadi 'tersangka utama', hanya saja tidak adanya bukti kuat untuk diidentifikasi.
Warga Madagaskar. (Foto: Flickr/gillouvannes56)
Setelah empat tahun, penelitian internasional yang beranggotakan tim Profesor Herawati Sudoyo, dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman akhirnya mampu mengidentifikasi orang Banjar sebagai sumber yang berpengaruh dalam penduduk di negara ini.
ADVERTISEMENT
Penelitian dilakukan dengan menganalisis genom 3 ribu individu yang berasal dari 190 populasi regional di sekitar Samudera Hindia dan 30 populasi dari Indonesia, Madagaskar, dan Komoro. Selain menganalisa gen, faktor lainnya yang diteliti, yaitu linguistik atau bahasa dan arkeologi.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa penduduk Malagasy memiliki komposisi genetika 68 persen Afrika dan 32 persen Asia. Selain itu, hasil penelitian dengan menggunakan kajian Principal Component Analysis dan TreeMix Analysis menunjukkan bahwa komponen Asia yang dimiliki penduduk Malagasy memiliki kemiripan dekat penduduk yang berasal dari Kalimantan Tenggara, seperti Banjar, Dayak, Ngaju, dan Ma'anyan.
Upacara Famadihana di Madagaskar (Foto: AFP/Rijasolo)
Secara genetika, peneliti juga menemukan leluhur ganda dari populasi Malagasi dan Komoro melalui pendekatan statistik. Penelitian tersebut menyimpulkan bahwa orang Banjar dan komunitas Swahili dari Afrika Timur mendatangi kepulauan Komoro pada abad ke-8 dan berada di Madagaskar pada abad ke-11. Hasilnya, penduduk dari leluhur Banjar berkisar antara 37-64 persen di Madagaskar dan hanya 20 persen di Komoro, karena komunitas Swahili sangat besar di Komoro.
ADVERTISEMENT
Hal ini diperkuat pula dengan bentuk persebaran budaya yang berada di Madagaskar dan Komoro, seperti teknik pembuatan besi, alat musik yang menyerupai gambang, perahu cadik, serta budidaya padi, pisang, ubi jalar, dan talas mirip seperti bahan makanan Asia Tenggara.
Yang lebih mengejutkan lagi, meski berada sangat jauh, kosakata bahasa Malagasi sebagian besar berasal dari bahasa digunakan penduduk di sepanjang lembah sungai Barito di Kalimantan Tenggara. Sekitar 90 persen kosakata Malagasi berasal dari bahasa duku Ma'anyan, 10 persennya berasal dari bahasa Afrika, terutama Sabaki, cabang Bantu.
Avenue of Baobabs, Madagaskar (Foto: Instagram @sarahkeep)
Persebaran ini berasal dari kegiatan berlayar yang dilakukan penduduk suku Banjar bersama dengan kerajaan Melayu Hindu-Buddha di masa lampau, seperti Kerajaan Sriwijaya di abad keenam hingga abad ke-13. Sedangkan pusat perdagangannya berada di tenggara pulau Borneo yang berpenduduk lokal suku Ma'anyan. Hal ini yang membuat terjadinya perpindahan penduduk dari Asia Tenggara, khususnya Indonesia ke Afrika Timur.
ADVERTISEMENT
Terdapat empat fase migrasi yang terjadi di Afrika Timur. Fase pertama yaitu perluasan rute dagang Silk Road pada abad pertama hingga kelima yang mengangkut barang dari China, Eurasia, dan Asia Selatan. Fase kedua terjadi pada abad keenam hingga ke-10, yaitu saat terjadinya penyebaran Islam melalui perdagangan dari Arab. Fase ketiga yaitu munculnya rute maritim pada abad ke-11 dan abad ke-15, yang kemudian diikuti dengan kedatangan Eropa pada abad ke-16 yang menjadi fase terakhir.
Migrasi antara Banjar yang 'melahirkan' budaya baru karena berpadu dengan Afrika Timur di Madagaskar dan Komoro terjadi pada fase kedua. Yang mana budaya tersebut berada dan hidup berdampingan selama berabad-abad dan memunculkan budaya baru. Melalui penelitian ini dapat disimpulkan pula bahwa perdagangan mampu mendorong kontak manusia dan berpadunya populasi.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·