Pencarian populer

Guanyin of Nanshan, Arca Menjulang Dewi Cinta di Kaki Langit Hainan

Patung Dewi Kwam Im dari kejauhan. (Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan)

There is no right path or wrong path. There is only the path you choose.

- Kuan Yin, Goddess of Mercy, Love, and Compassion

“Saya tahu orang Indonesia banyak yang Islam dan Kristen, lebih sedikit yang Buddha. Tapi Dewi Kwam Im senang dikunjungi siapapun. Walau dewi umat Buddha, dia akan memberkati semua yang datang. Meski kamu bukan Buddhis, ia akan memberi tahu Tuhanmu, ‘Wahai Tuhan, anak buahmu tadi menyambangi aku,’” kata pemandu kami--yang meski mengucapkan kalimat itu dengan ekspresi datar, namun memicu ledakan tawa di sana-sini.

Asiang, si pemandu wisata yang mengenakan kaos bertuliskan “Sometimes wrong choice bring us to right places” itu, tak ikut tertawa meski ia pasti sadar kalimatnya diterjemahkan sebagai lelucon.

“Semua agama baik. Semua Tuhan baik. Dewi Kwam Im juga baik. Tapi jangan minum arak atau bir dekat kuil, nanti Dewi marah,” ujar Asiang, melempar peringatan penting kepada tamunya--dengan wajah tetap hambar.

Asiang tak bermaksud macam-macam dengan segala ucapannya itu. Guide humoris tanpa ekspresi itu hanya ingin menyampaikan: tak masalah kamu mengunjungi Dewi Kwam Im meski bukan penganut Buddha, sebab ini bukan sekadar tentang agama, (tapi juga wisata).

Dewi Kwam Im (atau Kuan Yin atau Guan Yin atau Guanyin dalam berbagai ejaan) yang dibicarakan Asiang adalah dewi pemberi berkah, cinta, dan welas asih. Dalam bahasa Tiongkok, Guanyin merupakan bentuk pendek dari Guanshiyin yang bermakna “Dia yang Menangkap Suara Dunia”.

Kwam Im disebut mempunyai kekuatan gaib untuk membantu semua orang yang berdoa kepadanya. Ia juga diyakini pemeluk Buddha Tiongkok sebagai Awalokiteswara Bodhisattva, yaitu makhluk yang mendedikasikan diri demi kebahagiaan makhluk lain di alam semesta--perwujudan sifat welas asih dari Buddha.

Filosofi Buddha yang kental itu membuat pemerintah China membangun patung raksasa Dewi Kwam Im di pantai selatan Hainan--pulau sekaligus provinsi paling selatan China yang berukuran enam kali luas Pulau Bali. Arca itu berdiri di dekat Kuil Nanshan di Sanya, kota di pesisir selatan Hainan, dan karenanya disebut Guanyin of Nanshan.

Patung Dewi Kwam Im di China. (Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan)

Arca dewi cinta dan pemberi berkah itu menjulang tegak 108 meter di kaki langit Hainan, menjadikannya patung Kwam Im tertinggi di dunia. Tapi, pembangunan arca agung tersebut bukan cuma soal agama, melainkan juga wisata dan politik.

Dalam proses mewujudkan patung itu, pemerintah China melibatkan 108 biksu termasyhur dari berbagai kelompok Buddhis di China Daratan, Taiwan, Hong Kong, hingga Makau. Puluhan ribu peziarah ikut turun tangan.

Ini proyek besar China yang, menurut China Daily, pada satu perkara setidaknya dapat menyatukan Taiwan--provinsi pemberontak di timur laut Hainan--dengan China.

Taiwan, seperti Hong Kong dan Makau, memiliki sejarah dan sistem berbeda dengan China Daratan. Ketiganya menganut asas demokrasi dan kapitalisme seperti negara-negara Barat, berbeda dengan pemerintah pusat China yang menerapkan sistem otokratik dan sosialisme.

Taiwan, Hong Kong, Makau, Hainan di selatan China. (Foto: Google Maps.)

Taiwan--yang menempati kepulauan tersendiri di Laut China Selatan, terpisah dengan China Daratan--sejak lama dianggap pembangkang.

Bernama resmi Republik Tiongkok (beda tipis dengan China yang menyebut diri Republik Rakyat Tiongkok), Taiwan sesungguhnya jelmaan Partai Nasionalis Tiongkok atau Kuomintang--partai politik tertua dalam sejarah modern Tiongkok yang menggulingkan Dinasti Qing pada 1912, dan dengan demikian meruntuhkan sistem kekaisaran yang telah berlangsung di China selama dua milenium atau 2.000 tahun.

Kuomintang, dikomandani Chiang Kai Shek, mundur dari China Daratan ke Pulau Taiwan pada 1949 setelah kalah dalam perang saudara dengan Partai Komunis China pimpinan Mao Zedong. Kaum nasionalis di Taiwan dan komunis di China Daratan kemudian sama-sama mengklaim sebagai pemerintah Tiongkok yang sah, menyulut ketegangan antarsaudara yang tak pernah pudar.

Taipei, Taiwan. (Foto: jaboczw/Pixabay)

Taiwan sampai sekarang berada di bawah pemerintahan darurat berdasarkan Undang-Undang Darurat selama Pemberontakan Komunis. Namun Kuomintang kini sesungguhnya mendukung reunifikasi Taiwan dengan China Daratan. Hanya, ia kalah suara dengan Partai Progresif Demokrat yang menginginkan Taiwan merdeka dari China.

Sementara Hong Kong dan Makau diberi status Daerah Administratif Khusus oleh China. Artinya, kedua wilayah itu berhak memiliki otonomi luas dan sistem pemerintahan berbeda dari Beijing, kecuali di bidang pertahanan dan politik luar negeri. Ini bagian dari kebijakan Satu Negara Dua Sistem yang digagas Deng Xiaoping--pemimpin tertinggi China setelah Mao Zedong--demi persatuan Tiongkok.

Hong Kong. (Foto: nextvoyage/Pixabay)

Hong Kong--pulau kecil di tenggara Tiongkok yang menjadi salah satu pusat keuangan penting dunia--dihuni mayoritas penduduk asal Provinsi Guangdong. Mereka kabur dari Guangdong ketika Partai Komunis China mengambil alih pemerintahan pada 1949, sama seperti kaum nasionalis yang lari ke Taiwan.

Hong Kong untuk periode cukup lama sempat menjadi koloni Inggris sebelum akhirnya tahun 1997 dikembalikan ke China.

Makau. (Foto: Healthycliff Syndor/Unsplash)

Seperti Hong Kong, Makau yang berada di pesisir selatan China juga lama berada dalam pemerintahan asing. Selama 400 tahun, sejak abad ke-16, wilayah yang berjarak 61 kilometer dari Hong Kong itu menjadi jajahan Portugal.

Makau ialah koloni Eropa tertua di Tiongkok, yang akhirnya dikembalikan ke China pada tahun 1999.

Patung Dewi Kwam Im di China. (Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan)

Taiwan, Hong Kong, Makau, dan China Daratan, semua dalam lindungan Kwam Im. Cinta sang Dewi menyatukan segala perbedaan. Filosofi itulah antara lain yang kira-kira terpatri dalam arca tinggi penyangga langit tersebut.

Itu sebabnya patung Dewi Kwam Im di Hainan memiliki tiga sisi yang bisa dipandang dari segala penjuru--dan memandang segala penjuru: satu menghadap China Daratan, dua menatap Laut China Selatan.

Dari tiga sisi Guanyin of Nanshan itu, satu memperlihatkan Kwam Im menimang sutra di tangan kiri, dengan tangan kanan menunjukkan gestur Vitarka Mudra dalam ritual Hindu dan Buddha, yakni tiga jari--jari kelingking, jari manis, jari tengah--diangkat, dan jari telunjuk dan ibu jari membentuk lingkaran.

Satu sisi lain memperlihatkan dua tangan Kwam Im saling menangkup menggenggam, sembari memegang untaian manik-manik doa. Sementara satu sisi lagi menampakkan Kwam Im memegang teratai.

Shi Mingsheng, guru yang mengelola urusan Kuil Nanshan di Sanya, seperti dilansir China Daily pada 2005, sesaat sebelum peresmian Guanyin of Nanshan, mengatakan Kwam Im adalah Buddha yang dapat meringankan dan mengangkat penderitaan manusia.

Dan menurut ajaran Buddha, sambung Shi, penderitaan manusia itu termasuk yang diakibatkan oleh pemisahan kerabat dan sahabat setanah air. Ucapan Shi ini sudah tentu merujuk pada perpecahan akibat perbedaan sikap politik antara China Daratan dan saudara sebangsanya di luar daratan.

Itu pula salah satu alasan Guanyin of Nanshan didirikan di lepas pantai Hainan yang berada di sisi selatan China seperti Taiwan, Hong Kong, dan Makau; juga menghadap Laut China Selatan--kawasan yang kerap bergolak dengan sejumlah pulau di dalamnya jadi rebutan antarnegara Asia Timur dan Asia Tenggara.

“Patung Kwam Im dibangun di Hainan karena Hainan adalah pintu China di perairan, gerbang di selatan yang perlu diamankan,” demikian kira-kira kata Asiang, pemandu kami.

Shenghui, Wakil Ketua Asosiasi Buddhis China, mengatakan Dewi Kwam Im di selatan China akan melindungi dan menjaga semua orang China di seluruh dunia, juga memberkati dan menaungi China dan dunia.

Di tengah ambisi dan laju China di berbagai bidang yang meroket melesat, kasih Kwam Im rupanya dibutuhkan pemerintah sosialis komunis Negeri Tirai Bambu itu.

Seorang perempuan berdoa kepada Dewi Kwam Im. (Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan)

Guanyin of Nanshan yang diresmikan 24 April 2005 setelah enam tahun dibangun itu kini menjadi lokasi wisata memukau, sekaligus tempat ziarah umat Buddha di Asia.

Para peziarah jauh-jauh datang dari China Daratan di utara serta negara-negara lain, termasuk Indonesia, untuk berbaris memasuki kuil di bawah kaki sang Dewi, dan berdoa di dalamnya kepada arca emas Kwam Im--atau sekadar bersimpuh kepada arca raksasanya dari luar kuil, demi limpahan berkah darinya.

There are the waves and there is the wind, seen and unseen forces. Everyone has these same elements in their lives, the seen and unseen--karma and free will. The question is: how are you going to handle what you have? You are riding the karmic wave underneath and the wind can shift. Everyone must take what they see and deal with that which is unseen.

- Kuan Yin

Kota Sanya di selatan Hainan dari ketinggian. (Foto: Anggi Kusumadewi/kumparan)
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: