kumparan
1 Apr 2018 7:38 WIB

Iyomante, Tradisi Memuja Beruang yang dilakukan Suku Ainu di Jepang

Tradisi Memuja Beruang Oleh Suku Ainu. (Foto: Wikimedia Commons)
Kepercayaan animisme dan dinamisme yang terjadi pada suku-suku di masa lampau tidak jarang ikut mempengaruhi bentuk tradisi atau budaya suatu suku. Misalnya saja tradisi mengusir sial di Jepang yang dikenal dengan nama Setsubun, ritual memakan abu jasad yang dilakukan oleh suku Yanomami agar keluarganya dapat menuju surga, atau ritual memuja beruang yang dianggap sebagai titisan dewa.
ADVERTISEMENT
Ya, ritual memuja beruang atau Iyomante dilakukan oleh sebuah suku yang mayoritas tinggal di Hokkaido, Jepang yang dikenal sebagai Suku Ainu. Dilakukan pada musim semi, ritual ini dasarnya adalah bentuk pemakaman dewa gunung yang dipuja oleh suku Ainu. Ritual Iyomante dilakukan berupa upacara 'mengirimkan' kembali jiwa beruang ke dunia ilahi.
Tradisi Memuja Beruang Oleh Suku Ainu. (Foto: Wikimedia Commons)
Beruang yang dikorbankan bukanlah sembarang beruang. Tetapi beruang yang ditangkap dengan induk betinanya ketika masih anak-anak. Induk betina tersebut kemudian dikorbankan terlebih dahulu dalam sebuah upacara dengan tujuan agar roh induk betina ini kelak akan melindungi dan memberkati anak-anaknya.
Anak-anak beruang yang kehilangan induk tersebut akan dipelihara oleh suku Ainu hingga tiba di waktunya nanti untuk dikorbankan. Anak-anak beruang ini dipelihara selayaknya anak mereka. Disusui sama seperti anak manusia oleh wanita suku Ainu, diberi kandang, dan diurus dengan baik selama kurang lebih dua tahun.
Tradisi Memuja Beruang Oleh Suku Ainu. (Foto: Flickr/Paranoid Gerl)
Setelah dua tahun, anak beruang yang telah dewasa kemudian dibunuh menggunakan panah bambu yang telah dilumuri racun dari sebuah bunga yang bernama Aconitum Yesoense, dengan cara mencekiknya di antara dua batang kayu. Beruang yang telah mati tersebut akan dikuliti, ditata, dan ditempatkan di depan altar yang telah digantung bersama dengan sesajen di jendela suci.
ADVERTISEMENT
Upacara diakhiri dengan penembakan panah menuju gunung setelah kepala beruang diletakkan di altar. Rangkaian akhir ini diharapkan mampu mengembalikan jiwa beruang kepada dewa gunung sebagai 'utusan desa' yang terbaik dan terpilih. Suku ini meyakini bahwa dewa gunung akan memberkati desa setelah mereka melakukan Iyomante.
Tradisi Memuja Beruang Oleh Suku Ainu. (Foto: Flickr/ Summoning_ifrit)
Meski terdengar kejam, beruang sebenarnya sangat dihormati oleh suku Ainu. Mereka bahkan menganggap beruang adalah bentuk penyamaran dewa gunung kepada makhluk bumi. Karena beruang dapat memberikan banyak manfaat bagi manusia, seperti bulu untuk pakaian, daging untuk dimakan, tulang untuk membuat peralatan rumah, hingga dapat dipelihara selayaknya binatang peliharaan.
Dalam ritual Iyomante, suku Ainu akan mengenakan pakaian terbaik yang mereka miliki, berdoa pada api, dewa gunung, dan rumah yang ditinggali. Mereka merayakan upacara ini dengan makan, minum, serta menari.
Tradisi Memuja Beruang Oleh Suku Ainu. (Foto: National Museum of Denmark)
Ritual Iyomante telah dilarang oleh pemerintah Jepang sejak tahun 1960-an. Hingga saat ini, suku Ainu masih memuja beruang, namun pemujaan ini dilakukan tanpa membunuhnya, hanya dalam bentuk festival untuk menghibur wisatawan.
ADVERTISEMENT
Meski berada di Hokkaido, Jepang, suku Ainu berbeda dengan masyarakat Jepang. Suku ini bahkan tidak bertani seperti halnya penduduk Jepang.
Suku Ainu biasanya mengumpulkan makanan dan berburu. Suku ini berada di beberapa daerah seperti di pulau Kurile, pulau Sakhalin, dan pulau Hokkaido.
Jika kamu ingin menyaksikan festival beruang, tarian tradisional, mengunjungi museum, hingga menilik hasil kerajinan tangan dari suku ini, kamu bisa mengunjungi Desa Ainu di Hokkaido, Jepang.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan