Kumparan Logo

Kepala PVMBG: Wisatawan Diminta Jauhi Kawah Tangkuban Parahu

kumparanTRAVELverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tangkuban Parahu erupsi. Foto: Dok: istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Tangkuban Parahu erupsi. Foto: Dok: istimewa

Kawasan Wisata Gunung Tangkuban Parahu ditutup sementara pascarupsi yang terjadi pada Jumat sore ini (26/7), pukul 15.48 WIB. Berdasarkan pantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) sebaran abu vulkanik mencapai radius 1-2 kilometer (km).

Abu vulkanik teramati di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat mendapatkan informasi dari warga di Kecamatan Cisarua bahwa abu mengarah ke sana. Sedangkan laporan dari BPBD, abu erupsi tidak terlihat dari kantor BPBD Bandung Barat yang berjarak 17-20 km dari gunung.

"Sekarang tinggal embusan asap saja yang tingginya sekitar 200 meter dari dalam kawah itu hanya berupa embusan-embusan aja. Berupa erupsi freatik yang berupa kumpulan uap air dan tekanan-tekanan gas dan ini sifatnya sesaat dan mudah-mudahan ini selesai. Kejadian ini juga pernah terjadi di Tangkuban Parahu pada tahun 2013," ujar Kepala PVMBG Kasbani saat dihubungi kumparan melalui sambungan telepon pada Jumat (26/7).

Situasi di depan pintu masuk Gunung Tangkuban Parahu. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Kasbani menjelaskan, wisatawan diminta untuk menjauhi kawah Tangkuban Parahu ketika erupsi terjadi.

"Setidaknya paling tidak radius 500 meter, tapi setidaknya jangan ke kawah dulu ya, karena erupsi freatik dapat terjadi setiap saat tetapi erupsi yang besar belum mengarah ke sana. Wisatawan jangan masuk ke sekitar kawah sekitar itu harus agak jauh jangan terlalu mendekat," tambah Kasbani.

Situasi di pos pemantauan Gunung Tangkuban Parahu. Foto: Rachmadi Rasyad/kumparan

Terkait dengan fenomena erupsi ini, PVMBG sedang mengevaluasi status Gunung Tangkuban Parahu yang berada pada level I (Normal). Pada status ini, PVMBG memberikan rekomendasi.

Pertama, masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu, pengunjung, wisatawan, pendaki tidak diperbolehkan turun mendekati dasar kawah Ratu dan Kawah Upas dan tidak boleh menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks Gunung Tangkuban Parahu, serta ketika cuaca mendung dan hujan dikarenakan terdapatnya gas-gas vulkanik yang dapat membahayakan kehidupan manusia.

Kedua, masyarakat di sekitar Gunung Tangkuban Parahu para pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata Gunung Tangkuban Parahu agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba-tiba dan tanpa didahului oleh gejala-gejala vulkanik yang jelas.

Abu vulkanik dari Gunung Tangkuban Parahu yang erupsi. Foto: Dok. BNPB

Pascaerupsi Gunung Tangkuban Parahu, Badan Geologi mengeluarkan peringatan bahaya bagi pesawat yang melintas di sekitar wilayah gunung atau Volcano Observatory Notice for Aviation (VONA).

Notifikasi VONA berwarna oranye mengindikasikan lontaran abu masih berada di bawah 1.000 kaki. Level ini dapat membahayakan penerbangan. VONA juga menyebutkan distribusi abu vulkanik mengarah ke timur laut dan selatan.

Masyarakat di sekitar gunung untuk tetap tenang dan tidak terpancing oleh isu-isu yang tidak benar, serta memonitor peringatan maupun informasi dari pemerintah daerah atau Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Lebih lanjut, berikut rekomendasi yang dikeluarkan oleh PVMBG terkait erupsi Gunung Tangkuban Perahu:

1) Masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu, pedagang, wisatawan, dan pendaki tidak diperbolehkan mendekati Kawah Ratu dan Kawah Upas dengan radius 500 meter, serta tidak diperbolehkan menginap dalam kawasan kawah-kawah aktif yang ada di dalam kompleks G. Tangkubanparahu.

2) Masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Tangkubanparahu agar mewaspadai meningkatnya konsentrasi gas gas vulkanik dan dihimbau tidak berlama-lama berada di bibir kawah aktif G. Tangkubanparahu agar terhindar dari paparan gas yang dapat berdampak bagi kesehatan dan keselamatan jiwa.

3) Masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu, pedagang, wisatawan, pendaki, dan pengelola wisata G. Tangkubanparahu agar mewaspadai terjadinya letusan freatik yang bersifat tiba- tiba dan tanpa didahului oleh gejala vulkanik yang jelas.

4) Masyarakat di sekitar G. Tangkubanparahu diharap tenang, beraktivitas seperti biasa, tidak terpancing isu-isu tentang letusan G. Tangkubanparahu, tetap memperhatikan perkembangan kegiatan G. Tangkubanparahu yang dikeluarkan oleh BPBD setempat dan selalu mengikuti arahan dari BPBD setempat.

5) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi selalu berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (BPBD Provinsi Jabar) dan BPBD Kabupaten Bandung Barat serta BPBD Kabupaten Subang.