Kumparan Logo

Ubud Segera Ditetapkan Jadi Destinasi Wisata Kuliner Dunia oleh UNWTO

kumparanTRAVELverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ubud, Gianyar Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ubud, Gianyar Foto: Shutter Stock

Ubud selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi paling cantik di Pulau Bali. Hamparan rumput hijau, kuliner yang lezat, hingga banyaknya hotel serta resort yang menawarkan ketenangan membuat banyak orang memilih Ubud sebagai destinasi untuk honeymoon.

Melihat hal ini, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mengusulkan Ubud, Gianyar, Bali, sebagai UNWTO Prototipe Destinasi Gastronomi. Nantinya, usulan tersebut akan ditinjau dan disahkan oleh tim UNWTO (UN World Tourism Organization atau Badan Pariwisata Dunia).

Program yang diinisiasi sejak 2017 lalu oleh Kemenpar ini telah menuju tahap pengembangan produk wisata gastronomi di Ubud. Menteri Pariwisata Arief Yahya, menuturkan bahwa mereka ingin Indonesia memiliki destinasi wisata kuliner berstandar global atau berkelas dunia.

Menpar Arief Yahya Foto: Dok. Kementerian Pariwisata

“Kita ingin Indonesia punya destinasi wisata kuliner yang mendunia. Untuk itu, kalau kamu mau jadi global player, kamu harus mendapat sertifikasi global standard. Salah satunya adalah melalui UNWTO,” ujar Arief Yahya, dalam sambutannya di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Kementerian Pariwisata, Jakarta, Selasa (11/6).

Sejalan dengan hal itu, Tim Percepatan dan Pengembangan Destinasi Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar yang diwakili Vita Datau, mengatakan bahwa alasan Kemenpar menetapkan gastronomi destination ini, karena Indonesia memiliki kekayaan dan keanekaragaman budaya yang luar biasa.

“Indonesia bisa jadi negara gastronomi terkaya. Karena kita punya 1.340 tribes atau suku, 300 etnik, 2.500 ikan air tawar, 2.400 ikan air asin, dan 88 juta hektare hutan tropis,” tutur Vita.

Konferensi Pers Gastronomi Destination Ubud Foto: Dok. Kementerian Pariwisata

Dengan adanya penetapan destinasi gastronomi ini, diharapkan akan mengangkat pariwisata dan ekonomi masyarakat lokal, seperti mampu membuka lapangan kerja baru di industri FnB (Food and Beverage).

“Spending pariwisata itu 30-40 persennya ada di kuliner. Secara keseluruhan di kita kuliner dan belanja itu bisa mencapai 75 persen spending-nya,” kata Arief.

Sementara itu, lemahnya kuliner Indonesia berbicara di kancah internasional juga menjadi alasan pemerintah mulai menginisiasi UNWTO Prototipe Destinasi Gastronomi.

Turis asing sedang berbelanja oleh-oleh di Pasar Ubud, Bali. Foto: Helinsa Rasputri/kumparan

"Hampir semua negara memiliki national food, dan kita enggak ada. Contohnya, Malaysia punya nasi lemak, Singapura, laksa, Thailand ada tom yam, dan Jepang punya sushi. Sedangkan, Indonesia memiliki banyak makanan yang khas, tapi kita tidak punya national food dan destinasi kuliner kelas dunia," tutur Arief.

Oleh sebab itu, dengan sertifikasi melalui UNWTO, diharapkan Indonesia akan segera memiliki destinasi wisata kuliner berkelas dunia. Selain itu, Kemenpar juga telah menetapkan lima makanan khas Indonesia yaitu soto, rendang, nasi goreng, sate, dan gado-gado.

Nantinya, jika Ubud berhasil menjadi destinasi wisata kuliner khas dunia, hal ini akan diterapkan juga di kota-kota lainnya, seperti Bandung dan Joglosemar (Jogja, Solo, dan Semarang).

“Diharapkan program ini akan selesai secepatnya dan Ubud menjadi prototype gastronomi holistik pertama di Indonesia dan dunia,” tutup Vita.