Pencarian populer

Perlukah Kita Memakai Skin Care dari Usia Remaja?

Ilustrasi remaja pakai skin care. Foto: Shutterstock
Beberapa waktu lalu, Twitter sempat dihebohkan oleh cuitan viral yang menampilkan razia skin care di sebuah Sekolah Menengah Atas (SMA). Dari cuitan yang diunggah tersebut, terlihat banyak produk skin care yang disita, seperti sunscreen, moisturizer, pembersih wajah, hingga lip balm.
ADVERTISEMENT
Netizen Indonesia pun banyak yang tak habis pikir dan mempertanyakan apa maksud dari razia tersebut. Terlebih, kebanyakan dari produk yang disita adalah kebutuhan sehari-hari untuk kesehatan kulit.
"Emang skincare ngeganggu KBM? Namanya juga manusia punya kebutuhan dan keperluan masing-masing," cuit akun @yasminmumtaz di Twitter.
Kesehatan kulit memang menjadi prioritas bagi sebagian perempuan. Namun, apakah remaja SMA sebenarnya sudah perlu menggunakan skin care? Dan di usia berapakah seorang perempuan harus mulai menggunakannya?
Menjawab rasa penasaran tersebut, kumparanWOMAN menghubungi dr. Ika Anggraini Sp.DV yang berpraktik di klinik kecantikan BAMED Jakarta.
"Tidak ada patokan apakah anak remaja atau usia tertentu harus mulai menggunakan skin care. Kita harus tau masalah kulit setiap orang terlebih dahulu," ungkap dr. Ika lewat sambungan telepon pada Selasa (13/8).
ADVERTISEMENT
"Tapi jika hanya berbicara perawatan kulit saja, dari bayi pun kita harus sudah mulai merawat kulit," tambahnya. Saat bayi, orangtua dianjurkan untuk mengaplikasikan krim di sekitar pantat dan kaki bayi untuk menghindari ruam dari popok.
Lalu ketika remaja, saat terlihat ada permasalahan seperti jerawat, tentu harus mulai mengobati dan mencegahnya dengan skin care khusus. Dan ketika beranjak dewasa, penggunaan skin care dengan unsur anti-aging perlu ditambahkan. Sehingga, tidak ada patokan pasti tentang usia yang tepat untuk menggunakan skin care karena permasalah kulit setiap orang pasti berbeda.
Ilustrasi remaja pakai skin care. Foto: Shutterstock
Meski demikian, dokter Ika tak menampik bahwa remaja di zaman sekarang memiliki masa pubertas yang lebih cepat. Peningkatan fluktuasi hormon khususnya hormon androgen, menjadi salah satu pemicu munculnya jerawat pada remaja. Sehingga, penggunaan skin care jadi hal yang dibutuhkan dalam kondisi kulit tersebut.
ADVERTISEMENT
"Dari segi pengobatannya, kita sesuaikan dengan tingkat keparahan dari jerawat tersebut. Jika ringan, cukup diberikan obat luar. Namun apabila sudah berat, bisa ditamabahkan obat oral seperti antibiotik untuk semakin mencegahnya," papar dokter Speasialis Dermatologi dan Venereologi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia ini.
Namun, ia menegaskan agar remaja tidak mudah tergiur dengan tren-tren penggunaan skin care yang silih berganti. Terutama jika mereka tidak memiliki masalah kulit sama sekali. Coba-coba skin care justru bisa mengakibatkan kulit menjadi bermasalah.
Ilustrasi Skincare Foto: Shutterstock
"Saat seseorang pakai skin care terlalu dini, misalnya mengikuti tren 10 step Korean beauty routine, lalu punya tipe kulit berminyak, skin care yang dia aplikasikan banyak dan berlebihan tersebut malah bisa menyumbat pori-pori. Alhasil, kulitnya yang sebelumnya tidak apa-apa, jadi breakout," papar dr Ika.
ADVERTISEMENT
Ia menambahkan contoh lain, misalnya seorang remaja memiliki kulit kering, lalu iseng mencoba tren skin care dengan kandungan AHA BHA, hal tersebut malah membuat kulitnya menjadi tambah kering.
Dokter Ika menyimpulkan, bahwa tidak masalah seorang remaja menggunakan skin care tertentu. Dengan syarat, ia memahami kulitnya sendiri dan menyadari apakah dirinya sudah benar-benar membutuhkan perawatan kulit tersebut.
"Tidak ada patokan umur, yang penting kita harus sangat hati-hati dalam memilih skin care," tutup dr Ika.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.86