kumparan
11 Sep 2019 19:22 WIB

Riset: Perempuan yang Mengalami Seksisme Lebih Sering Terkena Depresi

Ilustrasi perempuan. Foto: Shutterstock
Diskriminasi gender atau seksisme saat ini tengah banyak terjadi dan sedang diperjuangkan secara global. Seringnya, perempuan menjadi kelompok yang paling rentan untuk menjadi korban. Mereka mengalaminya di berbagai tempat, mulai dari di tempat kerja, transportasi umum, atau bahkan di tempat-tempat pendidikan.
ADVERTISEMENT
Contoh yang banyak terjadi adalah di tempat kerja. Perempuan seringkali dianggap tidak mampu untuk menduduki posisi strategis hanya karena dirinya seorang perempuan.
Melihat fenomena ini, University College London (UCL) di Inggris melakukan sebuah studi dengan hasil yang menyatakan bahwa perempuan yang mengalami diskriminasi gender memiliki risiko tiga kali lipat lebih tinggi untuk terkena depresi.
Ilustrasi perempuan mengalami diskriminasi gender di tempat kerja. Foto: Shutterstock
Para peneliti di sana telah melakukan riset untuk membuktikan apakah benar ada keterkaitan antara pengalaman perempuan yang mengalami diskriminasi gender dan kesehatan mental seseorang. Mereka menganalisa data dari 2.956 perempuan berusia 16 tahun ke atas yang merupakan responden dari Studi Longitudinal Rumah Tangga Inggris pada tahun 2009 dan 2010.
Selain mengalami depresi, studi yang diterbitkan dalam jurnal Health Psychology menemukan fakta bahwa 26 persen dari partisipan perempuan yang percaya bahwa dirinya mendapat diskriminasi gender, juga mengaku mengalami tekanan secara psikologis.
ADVERTISEMENT
Diskriminasi gender yang dialami para partisipan perempuan terjadi di banyak tempat. Beberapa di antaranya adalah di jalanan sebanyak 77 persen, di transportasi umum 39.9 persen, dan ruang publik seperti stasiun atau terminal bus sebanyak 38.9 persen.
“Kami menemukan bahwa perempuan yang didapati mengalami diskriminasi gender lebih sering terkena depresi dan merasa tertekan secara psikologis dan kesehatan mentalnya lebih sering menurun. Begitu juga dengan kepuasan hidup dan kesehatan juga turut menurun,” ungkap Dr Ruth Hackett, dari Institute of Epidemiology and Health Care di UCL dan penulis utama dari studi soal diskriminasi gender dan kesehatan mental ini, seperti dikutip dari The Independent.
Ilustrasi perempuan stres Foto: dok.Shutterstock
Menurut Dr Ruth Hackett, seksisme atau diskriminasi gender seringnya menjadi penghalang bagi perempuan yang ingin menjalani gaya hidup sehat, baik secara fisik maupun mental. Menurunnya rasa percaya diri akibat diskriminasi tersebut membuat perempuan lebih banyak merasa khawatir di berbagai aspek kehidupannya. Mulai dalam hal karier, percintaan, bahkan hingga penampilan.
ADVERTISEMENT
“Jadi penelitian ini menjadi salah satu bukti bahwa diskriminasi gender tidak hanya masalah yang berkaitan dengan moral saja, tetapi juga berpengaruh terhadap kesehatan mental seseorang,” tutup Dr Sarah Jackson, dari Institute of Epidemiology and Health Care di UCL yang juga berperan sebagai penulis senior dalam studi tersebut.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·