kumparan
21 Sep 2019 13:23 WIB

Keseruan Aksi #JedaUntukIklim: Demi Masa Depan Bumi yang Lebih Baik

Aksi Jeda untuk Iklim. Dok: Stefanny Tjayadi/kumparan
Suara seruan “No Action No Future” menggema dari Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Jumat (20/9) kemarin. Beberapa elemen masyakarat tergabung dalam aksi #JedaUntukIklim untuk menyerukan aksi perubahan gaya hidup demi mengakhiri krisis iklim yang sedang terjadi.
ADVERTISEMENT
“No action no future!” seru para penggiat aksi yang membawa banyak poster berisikan ajakan untuk mulai mencintai lingkungan dan ajakan mengubah gaya hidup manusia sekarang.
Sekitar 500 orang lebih melakukan long march, dari Balai Kota menuju Taman Aspirasi yang berada di depan Monas, menghadap Istana Negara. Orasi terus mereka lakukan di sepanjang long march dan menarik perhatian masyarakat yang lewat di jalan Medan Merdeka. Semua poster seruan ajakan mereka buat dari kardus-kardus bekas dan bahkan ada yang memakai baju dari karung goni.
Aksi Jeda untuk Iklim. Dok: Stefanny Tjayadi/kumparan
“Kita ikut aksi ini karena kita menuntut pemerintah mengganti energi fosil jadi energi ramah lingkungan dan terbarukan,” ujar sekelompok pemuda yang menggunakan sarung dan peci. Mereka berasal dari Pesantren Attarbiyah Wathoniyah (PATWA), Cirebon, Jawa Barat. Kebanyakan dari mereka merupakan anak SMA kelas 1 sampai 3.
Aksi Jeda untuk Iklim. Dok: Stefanny Tjayadi/kumparan
Sebuah pembangkit listrik tenaga matahari yang dibawa oleh salah satu peserta aksi juga menarik perhatian. Enggak cuma itu, ada juga yang bawa go-kart berbahan bakar listrik dari generator mini dan sepeda motor Royal Enfield yang juga udah dimodifikasi dengan bahan bakar listrik.
Aksi Jeda untuk Iklim. Dok: Stefanny Tjayadi/kumparan
Sesampainya di Taman Aspirasi, Monas. Para peserta aksi kemudian duduk-duduk sambil mendengarkan orasi dari beberapa elemen masyarakat pecinta lingkungan.
ADVERTISEMENT
“Kami meminta pemerintah untuk lebih memperhatikan kerusakan lingkungan demi anak-cucu kita!” ujar orator tersebut yang disambut tepukan tangan oleh peserta.
Sekelompok ibu-ibu bahkan terlihat mencolok dengan posternya yang bertuliskan: “Bukan SJW, tapi hanya seorang ibu yang peduli masa depan anaknya.”
Anggalia Putri dari Yayasan Madani Indonesia dalam aksi Jeda untuk Iklim. Dok: Stefanny Tjayadi/kumparan
“Banyak orang yang anggap pegiat lingkungan, tuh, SJW, (mereka) anggap saya SJW lingkungan. Padahal, saya hanya ingin memperjuangkan agar anak saya yang sekarang berusia 5 tahun bisa menikmati apa yang orang tuanya pernah nikmati. Saya mau dia bisa lihat hewan dan tumbuhan endemik Indonesia yang sekarang terancam punah. Saya mau dia bisa lihat hutan hijau, bukan lapangan gersang tanpa tumbuhan seperti gurun,” ujar Anggalia Putri dari Yayasan Madani Indonesia yang ikut meramaikan aksi Jeda untuk Iklim di Taman Aspirasi, Monas.
ADVERTISEMENT
Enggak cuma seruan aksi untuk menuntut pemerintah agar ikut serta dalam jaga iklim dunia, ada juga empat orang anak muda yang ikut serta aksi untuk menyadarkan para pendaki gunung untuk menjaga kawasan yang mereka daki karena masuk dalam kawasan cagar alam.
Komunitas Jaga Rimba dalam aksi Jeda untuk Iklim. Dok: Stefanny Tjayadi/kumparan
“Daki gunung lagi jadi tren, tapi realitasnya, banyak cagar alam yang dirusak pendaki. Contohnya, cagar alam Gunung Papandayan. Di sana, satwa endemik macan tutulnya kini terancam punah. Cagar alam itu enggak sama kayak tempat wisata,” ungkap Salsabila dan Oktario, salah satu penggagas akun Instagram @jaga_rimba, sebuah akun yang didedikasikan untuk memberi tahu orang tentang cagar alam gunung-gunung di Indonesia.
“Kita juga mau jaga indigenous people yang ada di cagar alam itu, seperti yang ada di Desa Ibun, Gunung Guntur,” tambah Salsabila.
ADVERTISEMENT
Jeda untuk Iklim ini bukan cuma aksi yang dilakukan di Jakarta, lho. Tapi, ada 20 kota besar lainnya di Indonesia yang akan melakukan aksi menuntut pemerintah untuk melakukan sesuatu demi perubahan iklim dan lingkungan yang lebih baik. Jeda untuk Iklim sendiri juga merupakan bagian dari aksi global yang diselenggarakan di seluruh dunia bernama Global Climate Strike. Aksi ini pertama kali diinisiasi oleh seorang cewek asal Swedia berusia 16 tahun, Greta Thunberg.
Salah seorang peserta aksi memegang poster Greta. Dok: Stefannya Tjayadi/kumparan
Reporter: Stefanny Tjayadi
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan