Pencarian populer
24 Oktober 2018 18:31 WIB
..
..

Passion Meet Up, Ajang Belajar Meraih Sukses di Usia Muda

Founder Tuku Andanu Prasetyo (Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan)

Meraih sukses di usia muda bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Sukses bukanlah sesuatu yang mengawang-awang, dan bisa diraih oleh siapapun yang punya ide dan pandai melihat peluang. Hal itulah yang ditekankan oleh kelima pembicara dalam acara Passion Meet Up, sebuah ajang belajar dan berbagi cerita yang digelar oleh MLDSPOT bersama kumparan (kumparan.com) pada Sabtu (20/10) lalu.

Tengok saja cerita Yukka Harlanda, seorang Sarjana Teknik Sipil ITB yang terjun ke dunia bisnis sepatu bersama Brodo. Dalam acara yang digelar untuk membangkitkan kembali semangat sumpah pemuda ini, Yukka menceritakan perjalanannya membangun bisnis sepatu meski tidak punya latar belakang bisnis atau hobi mendesain sepatu sebelumnya..

Yukka bercerita, Brodo sebetulnya berawal karena masalah pribadinya yang berujung pada peluang bisnis. Meski berawal dari ketidaksengajaan dan bahkan bisa dibilang keisengan belaka, bisnisnya bisa berjalan dengan sangat baik dan bahkan kini sudah begitu sukses.

“Kadang kalau mulai juga suka bingung, kayak gue juga gak bisa gambar. Tapi selama market-nya ada dan produk kita fit, ya bisa aja menjual barang jadi best seller,” aku Yukka.

“Kadang-kadang untuk mulai itu kayaknya engak perlu repot ya. Approach kita selalu lebih praktis daripada pragmatis soal planning dan lain-lain. Karena yang membuktikan ya customer,” kata Yukka.

Sama seperti Yukka, Andanu Prasetyo atau yang lebih dikenal dengan panggilan Tyo juga melalui hal yang kurang lebih sama saat baru membangun usaha kedai kopinya yang bernama Toko Kopi Tuku. Meski sebelumnya sudah memiliki usaha restoran yang cukup sukses bernama Toodz House, dirinya mengaku tidak memiliki passion terhadap kopi sebelum memulai Tuku. Ia pun tidak punya rencana besar apapun ketika mulai membangun Tuku.

Meski begitu, ia percaya bahwa visi untuk meraih kesuksesan itu bisa dibangun seiring dengan usaha yang ia lakukan.

“Kita harus ingat bahwa visi besar itu bisa kita didapatkan langkah demi langkah. Karena saat (usaha) berjalan kita akan menemukan caranya yang memudahkan kita mendapatkan visi kita,” ujar Tyo.

Begitu sederhananya niat awal Tyo membangun Tuku sampai-sampai ia tidak menyangka Tuku akan punya nama besar seperti sekarang. Ia mengaku bahwa kedatangan Presiden Jokowi pada tahun 2017 lalu memang sangat berpengaruh bagi bisnisnya.

“Kedatangan Bapak (Jokowi) membuat kami memikirkan ulang tentang bisnis ini, apa yang harus dilakukan ke depannya,” aku Tyo.

Passion Meet Up, kumparan x MLDSPOT. (Foto: Agaton Kenshanahan/kumparan)

Cerita Yukka dan Tyo tersebut agak berbeda dengan Didi Diarsa, pendiri KAYUH Wooden Bike. Sejak awal Didi sudah memiliki gagasan bahwa bahan kayu yang begitu banyak dimiliki Indonesia dapat menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh negeri ini, salah satunya adalah kemacetan.

Bahkan meski usahanya tersebut menemui banyak kendala, Didi bergeming dengan niat dan usahanya. Lewat berbagai riset dan percobaan yang dilakukan selama lebih dari enam bulan, KAYUH Wooden Bike akhirnya mampu menghasilkan sesuatu yang tidak mampu dilakukan oleh produsen sepeda kayu lainnya di dunia: membengkokkan kayu karet hingga menghasilkan desain sepeda kayu yang sangat unik dan tidak mudah ditiru oleh produsen lain.

“Ada jutaan pohon karet di Indonesia, dan ketika sudah tidak menghasilkan, biasanya hanya jadi asap (karena dibakar). Tapi kami mampu membuktikan bahwa kayu karet yang sudah tua pun bisa dimanfaatkan menjadi sesuatu yang berguna,” tuturnya.

Meski memiliki cerita yang berbeda, ketiganya memiliki kesamaan dalam membangun bisnisnya: yang terpenting bukanlah niat atau idenya, tetapi bagaimana mereka berusaha untuk mewujudkannya. Hal itu juga yang ditekankan oleh Giffi Yohanes, pendiri Garage Engine sekaligus pemenang MLDSPOT Content Hunt Season 2 kategori Inspiring Products.

“Yang penting adalah memulai dulu. Karena kalau enggak dimulai, gimana mau mencapai kesuksesan itu,” ujarnya

Semangat yang sama juga diceritakan oleh Ronald Steven, yang menjadi music director dalam gelaran opening dan closing ceremony Asian Games 2018. Ia bisa terjun dan meraih sukses dunia musik karena karakter keras kepalanya yang ingin hidup dari musik, dan bukan bidang lain. “Kalau enggak ada musik, gue mungkin dagang bakmi!” cetusnya, yang membuat para passionate people yang hadir dalam acara yang digelar di Teater Salihara, Jakarta Selatan, ini.

Semangat kelima inspiring people ini menjadi cerminan semangat anak muda Indonesia masa kini, yang tidak kalah dengan semangat para pemuda di masa lalu ketika Sumpah Pemuda dikumandangkan. Mereka tak hanya mendengungkan ide mereka, namun juga mewujudkannya lewat aksi nyata. Hasilnya, mereka bisa meraih kesuksesan yang mungkin bagi sebagian orang hanya jadi impian belaka.

Semangat itulah yang coba ditularkan oleh kelimanya. Harapannya, akan lebih banyak passionate people yang terinspirasi untuk bergerak dan menghidupi passion-nya untuk meraih kesuksesan. Apakah kamu salah satunya?

Story ini merupakan bentuk kerja sama dengan MLDSPOT

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: