kumparan
20 Jan 2019 13:40 WIB

Regulasi dan Pendeteksian Bakat Gamer Harus Diperhatikan Pemerintah

Indonesia Millennial Summit 2019 (Foto: Agaton Kenshanahan/kumparan)
Aktivitas gaming di Indonesia kian populer semenjak kemunculan game online dan maraknya kompetisi eSports yang bisa diikuti semua kalangan. Enggak terkecuali oleh kalangan anak-anak dan remaja yang masih punya banyak waktu luang untuk bermain game.
ADVERTISEMENT
Namun, kadangkala kita khawatir saat bermain game malah kecanduan. Hal ini pun turut disoroti para praktisi dan pengamat eSports pada Indonesia Millennial Summit 2019, di Jakarta, Sabtu kemarin (19/1).
"Semua hal yang dikonsumsi berlebihan pasti berbahaya, masalahnya adalah game ini kan dimainkan sama anak-anak. Perlu peran yang levelnya bukan komunitas tapi dari sisi pemerintah untuk mengatur, terutama dari sisi perusahaan game-nya. Biar konsumen game ini mainnya enggak kebanyakan," kata Ricky Setiawan, founder media game dan eSports GGWP.
Ricky berterus terang kalau di Indonesia ini belum ada regulasi untuk mengatur kecanduan main game. Padahal, negara lain sudah ada yang menerapkan regulasi macam ini.
"Contohnya kalau di China mereka membatasi anak di bawah 17 tahun. Kalau enggak salah sekitar 2 atau 3 jam dia main game, akunnya otomatis mati sendiri. Itu perlu satu orang hanya punya satu akun," ujar Ricky.
ADVERTISEMENT
Regulasi game yang sudah ada di Indonesia menurut Ricky hanya sebatas pada pencegahan sisi negatif game. Pemerintah mengatur penggunaan game yang melibatkan kekerasan sesuai dengan umur gamer-nya.
"Kalau soal kekerasan karena game sih pemerintah sekarang sudah bikin Indonesia Games Rating System (IGRS) jadi jelas mana yang untuk anak-anak, mana untuk dewasa. Walaupun, soal kekerasan (dalam game) masih bisa diperdebatkan," kata Ricky.
Selain menyorot soal regulasi kecanduan, hal yang mengemuka untuk ditindaklanjuti pemerintah ialah soal pendeteksian para gamer. Hal ini diungkapkan oleh Giring Ganesha selaku President of IESPL.
"Tidak dimungkiri kalau memang kita bisa mendeteksi dari setiap gamer yang ada di Indonesia itu bagus. Dari seluruh gamer itu (diamati) kalau dia cuma medioker, cuma pengin senang-senang dengan game ya sudah enggak apa-apa, santai. Tapi kalau sudah mulai terlihat kecanduan, main kepanjangan itu pemerintah wajib tahu sebetulnya," jelas Giring.
ADVERTISEMENT
Sebaliknya, kata Giring, apabila seseorang diketahui cukup bagus dan berbakat dalam main game pemerintah juga wajib untuk mengetahuinya. Supaya ke depannya sang gamer itu bisa dilatih dan membawa ekosistem eSports dan gaming Indonesia jadi besar.
"Soalnya dari mana kita bisa tahu gitu, ini orang sudah main berjam-jam, tapi kalau tanpa target percuma. Sama aja kayak gini deh, ada orang datang ke saya, 'Mas saya mau belajar nyanyi,' tapi fals semua. Dipaksain enggak bisa. (Gaming) itu kan bakat dan harus dilatih terus menerus," pungkas Giring, lalu disambut tepuk tangan peserta yang hadir.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan