Riset: 70 Persen Pekerja Milenial Idap Depresi

Millennialverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penyebab Milenial Gemar Berpindah Tempat Kerja (Foto: Dok. Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Penyebab Milenial Gemar Berpindah Tempat Kerja (Foto: Dok. Pixabay)

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh perusahaan pembantu karyawan, Bensinger DuPont & Associates, menemukan bahwa jika dibandingkan dengan generasi baby boomer dan Gen X, generasi milenial adalah generasi yang paling depresi dalam dunia kerja.

Setidaknya satu dari lima pekerja milenial mencari bantuan untuk menghalau depresi.

Dikutip dari Inverse, penelitian bertajuk "Depression and Work: The Impact of Depression on Different Generations of Employees" menyoroti dampak "presenteeism," yaitu ketika kamu pergi bekerja tetapi merasa kamu tidak fungsional karena efek dari depresi.

70 persen generasi milenial nyatanya merasa depresi, lebih banyak dari Gen-X yang hanya berkisar di 68 persen dan baby boomer pada angka 63 persen.

Depresi (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Depresi (Foto: Pixabay)

Lantas, mengapa milenial menjadi generasi yang paling depresi? Lynne Lancaster, salah satu penulis buku 'When Generations Collide' mengatakan kepada OZY bahwa orang-orang mungkin berpikir bahwa milenial ingin dan bisa melakukan semua pekerjaannya dari jarak jauh, tetapi kenyataannya mereka lebih bisa memanfaatkan teknologi untuk menjalin hubungan, seperti meningkatkan hubungan mereka dengan keluarga, teman dan kolega.

"Anak milenial memang pandai teknologi, mereka menikmati itu. Tetapi bukan berarti mereka selalu lebih suka dengan interaksi manusia dalam dunia nyata," ujar Lancaster.

Studi ini menunjukkan bahwa jika para pemilik perusahaan ingin mempekerjakan milenial, mereka juga harus membantu melatih pekerja milenial tersebut untuk mengatasi depresi. Mungkin bisa dengan pendekatan lain. Dimulai dari desain tempat kerja yang menyenangkan, atau setidaknya punya fasilitas untuk refreshing dan mendukung kinerja.