Di Balik Rahasia Hebohnya Bibimbap

Diplomat dan mahasiswa Program Doktoral Pengkajian Amerika Universitas Gadjah Mada (UGM).
Tulisan dari M. Aji Surya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Seoul. Salah satu kuliner yang paling dikenal orang di seluruh dunia dari Korea adalah Bimbimbap. Inilah makanan favorit yang cocok dengan lidah siapapun. Tidak heran, kalau kemudian makanan ini disuguhkan di segala macam tempat. Mulai di pesawat hingga warung-warung pinggir jalan.
Bibimbap, konon, merupakan kuliner asli Korea. Pada jaman baheula atau masa Joseon, bibimbap disantap hanya pada saat panen raya tiba. Para petani mencampur seluruh nasi, sayur dan lauk untuk dimakan berjamaah. Inilah makanan kaum proletar. Unsur-unsurnya pun mudah didapat dan cara bikinnya juga sangat mudah. Namun jangan lupa, inilah makanan sehat.
Jujur saja, seberapa masyhurnya, bibimbap pada dasarnya merupakan kuliner yang sangat sederhana. Tidak unik. Yang jelas harus ada hanyalah nasi, sayuran dan gochujang (saus khas). Sedangkan lainnya bisa dianggap sebagai tambahan saja. Nasi, aneka sayur itu diaduk-aduk sedemikian rupa dengan tambahan "saus warna merah" yang rasanya manis agak pedas. Hm, apa sensasinya?
Makanan khas ini hanya mak nyos kalau disantap saat masih panas. Makanya selalu dihidangkan saat kondisi nasi baru keluar dari rice cooker. Bahkan untuk menjaga agar panas tidak mudah enyah, mangkok bibimbap terbuat dari batu yang dipanaskan di microwave.
Ketika bibimbap sampai di lidah, yang paling terasa adalah rasa manis (sedikit pedas) campur gurih. Dua rasa ini datang dari sayuran dan saus. Rasa lain muncul saat lidah menggoyang-goyang telor mata sapi atau unsur imbuhan lain. Namun yang paling sensasional adalah saat gigi menggerus sayuran setengah matang yang diselingi taburan nasi. Mungkin, cara penyajian yang menggunakan mangkok batu juga membuat penikmat merasa ada sesuatu yang khas.
Bibimbap punya banyak versi toppingnya. Tapi yang paling penting, bibimbap harus mengandung 5 variasi warna. Pertama hitam/warna gelap, yang biasanya dari jamur atau lembaran rumput laut. Kedua merah/orange, dari cabe, wortel atau buah jujube. Ketiga hijau dari timun atau bayam. Keempat putih dari kecambah, lobak dan nasi. Terakhir kuning sebagai tengah hidangan dari labu, kentang atau telur.
Ada banyak macam bibimbap, namun yang terkenal adalah Jeonju, Jinju dan Tongyeong. Sebenarnya yang membedakan hanya toppingnya saja. Selebihnya sami mawon.
Kalo jeonju itu bibimbap original, menggunakan lebih banyak sayur dan daging. Jinju bibimbap terkenal dengan topping daging berbumbu yg masih mentah. Sedangkan tongyeong terkenal dengan topping seafood karena Tongyeong memang merupakan daerah pantai.
Bibimbap merupakan makanan murah meriah dan mengenyangkan. Satu porsi di restoran besar pada kisaran 9 ribu Won (Rp 100 ribu), sedangkan di warung-warung pinggir jalan hanya 6 ribu won. Silakan pilih, tidak perlu mengecek kantong dalam-dalam. ()
