Ayrton Senna dan Semangat Timnas Brasil 1994

Tulisan dari Info Sport tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hari Buruh 1994.
Hari itu, seorang legenda meninggalkan dunia dengan cara yang sangat keras.
Ayrton Senna da Silva, juara tiga kali Formula 1 asal Brasil, meninggal setelah mobil Williams Fw16 yang ia kendarai menghantam tikungan Tamburello di sirkuit Imola.
Sehari sebelumnya, pebalap asal Austria, Roland Ratzenberger juga tewas di sirkuit tersebut.
Kematiannya jelas mengguncang dunia.
Dale Earnhardt Sr., pebalap NASCAR, bahkan melakukan penghormatan pada Senna di sirkuit Talladega, Alabama, langsung setelah berita kematian Senna menyebar.
"Saya turut berduka pada keluarga Ayrton Senna. Dia pebalap hebat dan saya turut kecewa dia pergi seperti itu, sangat menyakitkan," ujar Earnhardt, dikutip dari laman resmi NASCAR.
Kematian Senna juga memotivasi Tim Nasional Brasil di ranah sepak bola. Seperti yang diketahui, sekitar satu setengah bulan setelah kematiannya, Brasil mentas di Piala Dunia.
Ajang yang pada saat itu dihelat di tanah air Earnhardt, Amerika Serikat, jelas harus menjadi ajang pembuktian dari Tim Samba.
Kematian Senna jelas jadi pelecut semangat tim asuhan Carlos Alberto Parreira.
Dua minggu sebelum kematiannya, Senna sempat bertemu tim nasional Brasil yang sedang mengadakan pertandingan persahabatan di Perancis.
Leonardo, gelandang kiri Tim Samba mengingat bahwa Senna mengatakan padanya, "Ini tahun kita."
Tragisnya, itu tak terjadi.
Berita kematian Senna diterima secara mengharukan, ketika enam puluh ribu fans di pertandingan antara Palmeiras dan Sao Paulo berteriak “Ole, ole, ole!” dan “Senna, Senna!”.
Sebuah penghormatan yang luar biasa mengingat Senna adalah fans dari Corinthians, rival kedua tim tersebut.
Tiga hari rakyat Brasil berkabung, dan tiga hari pula ia menerima perlakuan bak raja yang menjadi martir.
Pria asal Rio de Janeiro tersebut jelas menjadi motivasi bagi rakyat Brasil yang pada saat itu krisis gelar juara setelah terakhir pada 1970, Pele mengangkat Piala Jules Rimet di Meksiko.
Senna memenangi GP Amerika Serikat musim 1986 setelah ia sempat tercecer ke posisi delapan ketika balapan. Ia merayakannya dengan mengibarkan bendera Brasil setelah balapan selesai.
Sungguh sebuah pelipur lara, terlebih sehari sebelumnya Perancis menumbangkan Zico dan kawan-kawan lewat adu penalti pada perempat final Piala Dunia Meksiko.
Timnas Brasil berangkat ke Amerika Serikat pada bulan Juni dengan perasaan berat, namun tetap menunjukkan determinasi dan dorongan yang ditunjukan Senna di trek aspal.
Gaya seorang Senna yang cepat dan ganas , namun efektif, selama menjadi pebalap F1 ditunjukkan oleh Dunga dan kawan-kawan di lapangan hijau.
Mereka menumbangkan Rusia dan Kamerun, lalu sedikit terhenti ketika ditahan oleh Swedia-nya Thomas Ravelli.
Lalu pada perdelapan final mereka menghadapi tuan rumah Amerika Serikat, di tanggal empat Juli.
Gol Bebeto pada menit ke-72 sudah cukup untuk mengirim Paul Caligiuri dan kawan-kawan ke bangku penonton.
Brasil lalu melawan Belanda di perempat final. Belanda, bermain tanpa totaalvoetbal dan jelas tanpa sang kapten Ruud Gullit, tetap menjadi lawan yang menyulitkan.
Ronald Koeman dan kawan-kawan berhasil menyamakan kedudukan, 2-2 setelah sebelumnya Brasil berhasil unggul via gol dari Romario dan Bebeto.
Tendangan bebas dari Branco, yang menggantikan Leonardo sebagai bek kiri, menjebol gawang Ed De Goey pada menit ke-81 dan mengubah skor menjadi 3-2.
Brasil kembali berhadapan dengan Swedia di semifinal , di mana pada akhirnya gol dari Romario di menit ke-80 menjadi "tiket emas" Brasil ke final.
****
17 Juli 1994 menjadi tanggal bersejarah bagi Dunga dan kawan-kawan, di mana 94,00 orang memenuhi Rose Bowl di Pasadena, California, untuk menyaksikan Tim Samba berhadapan dengan Italia.
Kedua tim bermain sama-sama "saklek" sehingga pertandingan tersebut berlanjut hingga adu penalti, pertama kali dalam sejarah Piala Dunia.
Sepakan penalti Dunga, kapten tim, menjadikan skor 3-2 dan gelar untuk Senna sepertinya sudah di depan mata.
Pada akhirnya, tendangan Roberto Baggio melesat tinggi ke arah penonton bak Field Goal di American Football dan mengunci gelar keempat Brasil.
24 tahun adalah waktu yang lama untuk krisis gelar juara, namun tim ini jelas tak mau lupa daratan.
Mereka lalu mengenang Ayrton Senna lewat sebuah spanduk bertuliskan Senna....... Acceleramos Juntos. O Tetra E Nosso!
"(Senna, kita mengebut bersama. Gelar keempat milik kita!)"
Hal tersebut memperlihatkan bahwa legenda akan selalu dikenang.
Sebuah penghormatan bagi sang martir di trek aspal, dari sang penerus ikon lainnya di lapangan hijau.
****
Berikut adalah artikel dari Sportsnet mengenai kisah Ayrton Senna dan timnas Brasil di Piala Dunia 1994.
