Konten Media Partner

13 Tahun Jadi Karyawan, Kini Yeti Riyadi Mantap Jadi Entrepreneur

TDAverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Yeti Riyadi, bergabung di komunitas Tangan Di Atas (TDA) tahun 2013.(dok/pribadi).
zoom-in-whitePerbesar
Yeti Riyadi, bergabung di komunitas Tangan Di Atas (TDA) tahun 2013.(dok/pribadi).

JAKARTA - Bermodal keinginan untuk memiliki usaha sendiri, Yeti M Riyadi, nekat keluar dari perusahaan Multi Nasional yang telah membesarkan namanya selama 13 tahun. Namun perempuan yang berdomisili di Jakarta ini, akhirnya memilih resign. Kini Yeti berhasil merintis usaha, sekaligus memberdayakan masyarakat disekitarnya.

"Saya resign itu  tahun 2013, dan langsung bergabung ke komunitas Tangan Di Atas (TDA). Saya banyak belajar di sana tentang ilmu bisnis dan wirausaha," katanya mengawali cerita.

Yeti memberanikan diri resign. Karena menurut dia, ketika kita jadi karyawan, maka 5 tahun ke depan  pasti akan tetap menjadi karyawan.

''Tapi ketika kita berusaha jadi diri sendiri, kita seperti tertantang mau jadi apa. Selain itu, saya juga ingin  punya banyak waktu buat ibadah. Nggak harus izin kantor," ujar dia.

Salah satu produk keluaran @wade.co.id (dok/pribadi).

Setelah resign sebagai Asisten Manajer, perempuan asli Boyolali, Jawa Tengah ini, memulai karir sebagai konsultan corporate social responsibility (CSR).  Bahkan buzzer.

Menurut Yeti, bisnis tak melulu soal untung dan rugi. Melainkan seberapa banyak kita memberikan manfaat ke orang-orang di sekeliling kita. Hal tersebut yang kemudian mendasari tekatnya untuk mantap memulai usaha.

Tak hanya disitu, tahun 2015 ia juga membangun sebuah usaha bernama Szep. Produk pertamanya ialah baju muslim, yang kemudian berkembang ke beberapa lini. Terbaru, juga ada pakaian khusus anak-anak yang sedang naik daun, yakni brand Wade.

"Karena konsultan sempat ngga jalan di masa pandemi, saya bangun kolaborasi antar member TDA, untuk bikin baju anak ini (Wade). Kelebihan baju ini, harganya murah tapi nggak murahan," tegasnya.

Di promosikan melalui akun instagram dan facebook wade.co.id, brand ini rupanya langsung laris di pasaran. Berbahan combad 24s, Wade memberikan kesan bahan pakaian yang nyaman dipakai, tidak panas. Bahkan kualitas jahitannya juga tak kalah dengan brand terkenal lainnya.

"Karena sebelumnya pernah produksi baju, begitu brand yang terbaru ini keluar, banyak banget temen-temen yang menghubungi. Ada yang beli banyak sampai mau ngejualin," tukas Yeti.

Hal tersebut kemudian disambutnya sebagai upaya untuk memberdayakan sesama perempuan dari segi ekonomi. "Lalu saya mulai memberdayakan ibu-ibu. Karena saya nggak bisa bantu finansial, maka saya putuskan buat bantu kasih produk untuk dijual kembali. Nanti setiap produk yang laku dijual, ada bonusnya, mereka juga ngga perlu keluar modal," pungkasnya.

Dalam waktu dekat, Yeti tengah mempersiapkan diri untuk melaunching produk baru lagi. Yakni Szep Skin, berupa minuman serbuk kolagen. Berbagai inovasi akan terus digulirkan Yeti, sebagai langkah untuk mengembangkan Szep menjadi holding company terpercaya.

Bergabung di TDA sejak 2013. Perempuan yang saat ini sebagai Direktur Kerjasama Eksternal dan Penggalangan Sumber Daya TDA 6.0 ini berpesan, bahwa dalam memulai sebuah usaha dibutuhkan keyakinan dan keberanian untuk terus mewujudkannya.

"Kadang ide itu banyak bermunculan di kepala. Tapi nggak ada yang terealisasikan. Jangan lupa libatkan Tuhan dalam setiap langkah. Jangan putus asa meski sempat terpuruk. Karena untuk menjadi pengusaha itu dibutuhkan tantangan yang luar biasa," ujarnya.