Dulu PKL yang Digusur Satpol PP, Indra Kini Jadi Pemilik Usaha Legen Ber-BPOM
ยทwaktu baca 3 menit

SURABAYA - Sejak tahun 2016, Indra Tony Syayuti merupakan pengusaha minuman segar dari olahan nira siwalan atau akrab disebut legen dengan merek Legend Tren.
Dia mulai berjualan legen dalam kemasan gelasan di Jalan Ketintang Madya Surabaya. Usahanya laris manis dan ramai pelanggan. Namun sayangnya, harus digusur oleh petugas Satpol PP.
"Karena banyak pelanggan, ramai dan tempat kami di pinggir jalan melanggar Perda terkait larangan berjualan di pinggir jalan. Akhirnya kami digusur," kenangnya.
Diapun memutar otak. Pada Juli 2017, dia mengemas minuman legen tersebut secara higienis. Lalu menjualnya secara online.
Akhirnya di tahun 2020, Legend Tren telah mengantongi ijin BPOM dan HACCP pertama. "Kami satu-satunya di dunia sebab ada 15 negara penghasil nira lontar atau nira siwalan, terbesar di India. Legend Tren termasuk yang pertama dan satu-satunya di dunia. Untuk negara lain masih belum bisa mengolah potensi pohon lontar," jelasnya.
Meski telah mendapatkan surat izin dengan lengkap, bisnis yang dijalaninya tetap mendapat banyak lika-liku. Seperti sulitnya mengurus legalitas kesehatan.
"Karena yang pertama, sehingga tidak ada acuan baku terkait standarisasi minuman nira lontar atau nira siwalan dalam kemasan yang higienis. Membutuhkan waktu 4 tahun untuk bisa mendapatkan sertifikat BPOM dan lainnya," jelasnya.
Selain itu, dia juga pernah digerebek oleh aparat ketika belum memiliki ijin edar. "Image negatif masyarakat dengan minuman nira lontar nira siwalan," bebernya.
Di tengah pandemi Corona ini, tepatnya pada Februari 2021, Legend Tren berhasil mencatatkan rekor baru dengan memiliki PEB Eksport Mandiri dan berhasil menembus pasar ekspor di beberapa negara, diantaranya Hongkong, Taiwan, Malaysia, Singapura, Turki, dan Mesir.
Untuk mengembangkan bisnisnya, dia tidak ingin hanya memproduksi minuman segar saja, tetapi juga akan banyak membuat turunan produk dari hasil pengolahan bahan baku yakni pohon lontar. "Untuk melestarikan kearifan lokal asli Indonesia. Jika di Jepang ada Sake, Korea ada Soju, maka di Indonesia ada Legend Tren," ujarnya.
Dia terus menekuni bisnis Legend Tren lantaran belum ada produsen nira lontar atau nira siwalan yang memiliki standart keamanan pangan BPOM, HACCP, dan belum ada produsen nira lontar yang bisa memproduksi secara massal, karena nira lontar mudah basi.
"Bisnis ini memiliki peluang ekspor sangat besar, belum ada kompetitor, bisa berbisnis dengan melestarikan alam," katanya.
Tips bisnis selama ini adalah fokus, memiliki blue print bisnis, berdoa, ikhlas, dan hasilnya pasrah pada Allah SWT.
Perlu diketahui, dia merupakan member komunitas Tangan Di Atas (TDA) sejak tahun 2018. "Banyak manfaat yang saya peroleh. Memiliki jaringan pebisnis yang lebih keren dan banyak motivasi untuk terus mengembangkan bisnis," ujarnya.
"Saya senang bergabung dengan TDA. Banyak orang sukses yang lebih dari saya, menambah jaringan, jadi sangat memotivasi saya untuk bisa seperti mereka," pungkasnya.
