Financial Legacy: Raja Azmi Ungkap Kunci Agar Bisnis Bertahan hingga 100 Tahun

Jakarta - Pengusaha dan pelaku UMKM diajak untuk mulai membangun warisan bisnis (financial legacy) yang mampu bertahan lintas generasi. Hal itu dibahas dalam sesi bertajuk Financial Legacy: Mengelola Keuangan dan Investasi untuk Keberlanjutan Bisnis 100 Tahun yang digelar di Plenary Hall Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (21/06/2026).
Sesi tersebut menghadirkan pakar keuangan sekaligus mantan eksekutif industri penerbangan asal Malaysia, Raja Azmi, yang kini aktif sebagai komisaris dan pelatih keuangan bagi pelaku UMKM di negaranya.
Dalam paparannya, Raja Azmi menegaskan bahwa keberhasilan sebuah bisnis tidak hanya dilihat dari keuntungan yang diraih saat ini, tetapi juga dari kemampuan perusahaan untuk bertahan, berkembang, dan memberikan manfaat hingga generasi berikutnya.
“Saya ingin meminta sesuatu kepada semua yang ada di ruangan ini. Mulai hari ini, bolehkah Anda memikirkan satu hal yang ingin Anda tinggalkan sebagai legasi sebelum meninggal dunia?” ujar Raja Azmi di hadapan peserta Pesta Wirausaha Nasional (PWN) TDA 2026.
Menurut Raja Azmi, setiap pengusaha perlu memiliki pandangan jangka panjang mengenai warisan yang ingin ditinggalkan, baik dalam bentuk keberlangsungan bisnis, manfaat sosial, maupun kontribusi bagi masyarakat.
Ia mengungkapkan, saat ini dirinya fokus membantu UMKM di Malaysia dalam membangun fondasi keuangan yang lebih sehat. Menurutnya, banyak bisnis sulit berkembang karena pemilik usaha terlalu berfokus pada pencapaian jangka pendek tanpa menyiapkan strategi keberlanjutan.
Dalam sesi tersebut, Raja Azmi juga membagikan studi kasus kecelakaan udara Tenerife tahun 1977 yang dikenal sebagai salah satu tragedi penerbangan paling mematikan dalam sejarah dunia. Melalui kasus itu, ia mengajak peserta memahami pentingnya komunikasi, koordinasi, serta pengendalian ego dalam mengambil keputusan.
“Ketika kita menjalankan bisnis, jangan terlalu bergantung kepada ego. Harus ada komunikasi dan koordinasi yang kuat. Banyak masalah dalam perusahaan terjadi karena ego dan asumsi yang tidak diverifikasi,” katanya.
Selain komunikasi dan koordinasi, Raja Azmi menekankan pentingnya membangun perusahaan dengan tiga fondasi utama, yaitu visi, misi, dan nilai (values). Menurutnya, banyak organisasi telah memiliki visi dan misi yang baik, tetapi belum mampu menanamkan nilai-nilai yang menjadi pedoman bagi seluruh anggota perusahaan.
“Visi dan misi saja tidak cukup. Sebuah bisnis juga harus memiliki nilai seperti integritas, tanggung jawab, kerja sama, dan rasa hormat. Nilai-nilai inilah yang menjaga perusahaan tetap bertahan dalam jangka panjang,” ujarnya.
Mengutip sejumlah data mengenai bisnis keluarga di Indonesia, Raja Azmi menyebut hanya sebagian kecil perusahaan keluarga yang mampu bertahan hingga generasi ketiga. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa keberlanjutan bisnis membutuhkan perencanaan suksesi dan tata kelola yang matang.
Ia menilai keberhasilan membangun financial legacy tidak hanya bergantung pada pengelolaan keuangan dan investasi, tetapi juga pada kemampuan pemilik usaha menyiapkan regenerasi kepemimpinan sejak awal.
“Jika ingin bisnis bertahan 100 tahun, maka yang harus dibangun bukan hanya keuntungan hari ini, tetapi juga sistem, nilai, dan kepemimpinan yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya,” kata Raja Azmi.
Melalui sesi ini, peserta Pesta Wirausaha Nasional 2026 diajak melihat keberlanjutan bisnis sebagai perjalanan lintas generasi. Dengan fondasi keuangan, sistem, nilai, dan kepemimpinan yang kuat, bisnis yang dibangun hari ini diharapkan mampu terus memberikan manfaat ekonomi maupun sosial di masa depan.
