Konten Media Partner

Future Bisnis AI: Raymond Chin Sebut UMKM yang Tak Adopsi AI Terancam Mati

TDAverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Founder Genesis dan entrepreneur muda, Raymond Chin. foto/gatot/tda
zoom-in-whitePerbesar
Founder Genesis dan entrepreneur muda, Raymond Chin. foto/gatot/tda

Jakarta - Pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kini bukan lagi sekadar pilihan bagi pelaku usaha. Founder Genesis dan entrepreneur muda, Raymond Chin, menegaskan bisnis yang tidak mulai mengadopsi AI berisiko tertinggal bahkan mati di tengah percepatan perubahan teknologi.

Pernyataan tersebut disampaikan Raymond saat menjadi pembicara dalam sesi Future Bisnis AI: Membangun Percepatan Bisnis dengan AI pada rangkaian Pesta Wirausaha Nasional (PWN) TDA 2026 yang berlangsung di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (21/06/2026).

Dalam sesi tersebut, Raymond membagikan pengalaman sekaligus pandangannya mengenai perkembangan AI setelah selama enam bulan terakhir menghabiskan rata-rata lebih dari enam jam setiap hari untuk mempelajari dan membangun berbagai sistem berbasis teknologi tersebut.

“Dulu saya berpikir bisnis yang menggunakan AI akan menang. Setelah enam bulan mendalami AI secara intensif, pandangan saya berubah. Sekarang saya percaya bisnis yang tidak menggunakan AI akan mati. Itu dua hal yang berbeda,” ujar Raymond di hadapan peserta.

Menurut Raymond, AI telah memasuki fase baru di mana teknologi tersebut bukan lagi sekadar tren masa depan, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan dan aktivitas bisnis saat ini. Ia mencontohkan perkembangan penggunaan ChatGPT yang telah digunakan oleh sekitar satu miliar pengguna secara global.

“AI itu sudah hadir. Ini bukan teknologi masa depan lagi. Prediksinya, AI akan menambah nilai ekonomi global hingga triliunan dolar. Pertanyaannya, apakah kita mau mengambil peluang itu atau membiarkannya lewat begitu saja?” katanya.

Raymond menilai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) justru memiliki peluang besar untuk memanfaatkan AI karena memiliki struktur organisasi yang lebih fleksibel dibandingkan perusahaan besar.

“Semakin besar perusahaan, semakin sulit mengubah kebiasaan yang sudah terbentuk. Sementara UMKM bisa lebih cepat mencoba, mengevaluasi, lalu beradaptasi dengan teknologi baru,” ujarnya.

Ia menjelaskan, perusahaan besar kerap menghadapi tantangan berupa birokrasi dan proses pengambilan keputusan yang panjang ketika menerapkan teknologi baru. Sementara UMKM dapat bergerak lebih cepat karena memiliki struktur yang lebih sederhana.

Selain lebih adaptif, UMKM juga memiliki keunggulan karena lebih dekat dengan pelanggan. Kondisi tersebut membuat pelaku usaha kecil lebih mudah memahami kebutuhan pasar dan menerapkannya dalam strategi bisnis berbasis AI.

Dalam kesempatan itu, Raymond juga menegaskan bahwa AI bukan hanya milik perusahaan besar dengan biaya tinggi atau membutuhkan tim teknologi khusus.

“AI tidak harus mahal. Tidak harus punya tim IT besar. Dan AI bukan hanya untuk korporasi. Yang menjadi tantangan sebenarnya adalah bagaimana kita memaksimalkan penggunaannya,” kata dia.

Menurut Raymond, tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap AI sudah cukup tinggi. Namun, pemanfaatan AI dalam sektor bisnis masih belum maksimal.

Ia menyebut banyak pengguna AI di Indonesia masih memanfaatkannya sebatas pengganti mesin pencari atau untuk menjawab pertanyaan sederhana. Padahal, AI kini telah berkembang hingga mampu membantu menjalankan berbagai proses bisnis secara otomatis melalui sistem agentic workflow yang dapat menyelesaikan pekerjaan secara bertahap.

Untuk membantu pelaku UMKM memulai adopsi AI, Raymond memperkenalkan framework sederhana bernama MCD, yakni Map, Clean, dan Deploy.

Tahap pertama adalah memetakan masalah atau pekerjaan yang paling banyak menyita waktu dalam operasional bisnis. Tahap kedua adalah membersihkan dan merapikan data agar dapat digunakan secara optimal oleh AI. Sedangkan tahap ketiga adalah memilih dan menerapkan tools AI yang sesuai dengan kebutuhan usaha.

“Jangan mulai dari tools-nya. Tools AI jumlahnya puluhan ribu. Kalau fokus ke tools, kita justru bingung. Mulailah dari masalah yang ingin diselesaikan,” ujarnya.

Raymond menekankan bahwa kualitas data menjadi faktor penting dalam penerapan AI. Menurutnya, prinsip garbage in, garbage out berlaku dalam penggunaan AI, di mana hasil yang diberikan sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan.

“Problem terbesar AI bukan AI-nya. Problem terbesarnya adalah data. AI sudah sangat pintar, selama datanya tersedia dan tertata dengan baik,” kata Raymond.

Dalam praktik bisnisnya, Raymond mengaku telah menggunakan AI untuk membantu mengotomatisasi berbagai pekerjaan, mulai dari pembuatan invoice, laporan keuangan, notulen rapat, pengelolaan email, hingga produksi konten dalam jumlah besar.

Ia juga menyebut terdapat tiga platform AI utama yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha, yakni ChatGPT, Gemini, dan Claude. Menurutnya, ketiga platform tersebut kini mampu membantu mengotomatisasi sebagian besar pekerjaan administratif dan operasional bisnis.

“Kalau teman-teman memilih salah satu dari tiga tools itu saja, sebenarnya sudah bisa mengotomatisasi sekitar 90 persen pekerjaan rutin yang ada di bisnis,” ujarnya.

Melalui pemanfaatan AI secara tepat, Raymond optimistis UMKM Indonesia dapat meningkatkan produktivitas, mempercepat pertumbuhan usaha, dan memiliki daya saing lebih kuat di tengah perkembangan ekonomi digital.