Bisnis
·
29 Januari 2021 14:41

Iva Johan, Distributor Makanan Ringan dengan 1.500 Jaringan Retail

Konten ini diproduksi oleh TDA
Iva Johan, Distributor Makanan Ringan dengan 1.500 Jaringan Retail (175187)
Iva Johan. Foto: dok
TULUNGAGUNG - Niat baik Iva Johan menolong orang lain berbuah manis. Pada 2012 lalu, dia membantu tetangganya membuat usaha roti dengan meminjamkan modal.
ADVERTISEMENT
"Awalnya pengen membantu tetangga yang sering mengeluh. Akhirnya kita kerja sama. Saya bagian bantu modal, dia yang jalankan," kenangnya.
Satu tahun berjalan, usaha tersebut berkembang pesat dan memiliki 18 sales motoris yang setiap hari keliling ke sejumlah toko.
Iva Johan, Distributor Makanan Ringan dengan 1.500 Jaringan Retail (175188)
Salah satu produk dari Iva Johan. Foto: dok
Namun, meskipun berkembang pesat dan mendapatkan omzet besar, tetapi hutang ke produsen roti semakin besar. "Saya merasa ada yang salah dan hanya fokus jualan belum mengerti keuangan, menghitung laba rugi, akhirnya saya putuskan untuk pisah kerja sama dan kita jalan sendiri-sendiri. Mulai lagi dari nol dan justru menanggung beban hutang yang cukup besar saat itu," paparnya.
Tak hanya menanggung beban hutang, setiap hari Ivan harus merasakan tidak nyaman lantaran dikejar oleh debt colector.
ADVERTISEMENT
Akhirnya, di tahun 2014, dia memutuskan untuk tidak bekerja sama dengan produsen roti dan membuat merk sendiri, di bawah CV Saudagar Indo Raya (SIR).
"Dari sini petualangan saya menjadi pengusaha dimulai. Bisnis distribusi snack ini sebenarnya jalur high cost dan kompetitor banyak, tapi justru disitu tantangannya," bebernya.
"Kita nggak perlu cari pelanggan baru. Selain itu, karena kita sudah membangun jalur pemasaran dan nggak perlu modal membuat toko," kiatnya.
Saat ini, CV SIR telah memasarkan produk hingga ke banyak kota, yakni Tulungagung, Kediri, Blitar, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, dan Ngawi.
Tak hanya itu, CV SIR juga telah memiliki jaringan retail sebanyak 1.500 toko dengan 18 mitra distributor dan agen di wilayah Jawa Timur.
ADVERTISEMENT
"Kami juga memiliki 12 sales motoris yang keliling ke outlet–outlet, memiliki mobil operasionl pick up, dan jaringan reseller online," paparnya.
Di tengah pandemi ini, dia mengaku mengalami penurunan omzet lantaran adanya perubahan perilaku konsumen dan pembatasan aturan sosial distancing. Namun, dia melakukan adaptasi dengan membuka 2 toko online di marketplace. "Penjualan sampai saat ini di atas 8.000 barang," katanya.
Tak lupa, dia membagikan tips bisnis, yakni fokus pada satu produk dan terus belajar karena perubahan itu cepat.
"Jadilah ikan besar di kolam kecil dari pada ikan besar di kolam besar. Artinya, kita lebih baik fokus ke satu produk atau produsen. Di situ kita jadi leader (pemimpin) dari pada jualan berbagai macam merk cuman ga maksimal atau hanya rata-rata aja," pesannya.
ADVERTISEMENT
Perlu diketahui, dia merupakan member Komunitas Tangan Di Atas (TDA) wilayah Tulungagung sejak tahun 2014. Dia merasa banyak manfaat yang diperoleh selama menjadi member.
"Bersyukur saya ketemu dengan mas Wahyu member TDA Kediri. Kita sharing bisnis dan nambah jaringan. Usaha saya juga mulai berkembang dan ada produk baru yaitu makanan keripik yang saya ambil dari Ketua TDA Malang," bebernya.