Konten Media Partner

Kisah Lian Ibrahamsyah, Pengusaha Pertanian dan Peternakan Organik di Lampung

TDAverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Lian Ibrahamsyah. Foto: dok
zoom-in-whitePerbesar
Lian Ibrahamsyah. Foto: dok

LAMPUNG - Sejak tahun 2006, Lian Ibrahamsyah merupakan pengusaha di bidang pertanian dan peternakan organik dengan merek Alam Hijau.

Di tahun 2010, dia mulai trading hasil pertanian. Namun di tahun 2012, dia memutuskan berhenti trading lantaran merasa tidak cocok dengan bisnis ini. Lalu dia beralih ke dunia konstruksi telekomunikasi, sesuai dengan disiplin ilmu yang dia pelajari sebelumnya.

Dia merasa, bekerja di dunia konstruksi telekomunikasi membuatnya bekerja seperti kesetanan. "Yang dipikirkan hanya bagaimana mendapatkan tender dan laba besar," ungkapnya.

Alam Hijau. Foto: dok

"Ketika kekurangan modal pinjam di bank. Tanpa sadar bahwa yang saya lakukan tersebut salah menurut keyakinan agama Islam. Dan Allah memerangi saya dengan cara-Nya," ujarnya.

Di tahun 2018, dia tersadar bahwa yang dia lakukan tidak ada keberkahan dan memutuskan hijrah total. "Setelah mengalami perjalanan jatuh bangun, tiba-tiba tersadar dengan apa sebenarnya makna dan tujuan dari hidup. Akhirnya tahun 2018, memutuskan untuk berhijrah dan meninggalkan bisnis yang menurut saya pribadi saya tidak bisa menjalankannya dengan halal dan thoyyib," ujarnya.

Lian kemudian memutuskan kembali menekuni bisnis lamanya. Kembali ke dunia pertanian mengembangkan integrated organic farming, dengan memadukan pertanian dan peternakan organik. "Karena bisnis pertanian, dalam waktu panjang tidak akan pernah mati selama umat manusia masih ada di bumi dan rezekinya direct (langsung) dari Allah," jelasnya.

Dia menekuni bidang pertanian selama kurang lebih 6 tahun hingga dapat menghasilkan aset berupa kebun.

Tak lupa, Lian membagikan tips berbisnis, yakni mengenali tujuan bisnis, mempelajari ilmu, memahami financial, dan membangun network.

"Kenali dulu apa tujuan kita berbisnis. Ultimate goal dari kita berbisnis, yang arahannya tidak hanya sukses dunia, tetapi juga sukses akhirat," jelasnya.

"Mempelajari ilmunya terutama yang terkait dengan fikih muamalahnya, memahami financial itu kunci dalam bisnis dan bergabung dengan komunitas bisnis berkumpul dengan orang yang memberi frekuensi positif bagi bisnis kita, dan yang terakhir jauhi riba ingat mazhab cash," pesannya.

Komunitas bisnis yang Lian maksud adalah Tangan Di Atas (TDA) Dia resmi bergabung sejak tahun 2009-2010. "Ilmu bisnis TDA sangat lengkap lintas mahdzab. Merasakan TDA adalah rumah untuk tumbuh berkolaborasi," pungkasnya.