Kisah Yessie Natasia: 13 Tahun Membangun dan Berjuang di Bisnis Fashion

SURABAYA - Salah satu cara bertahan di dunia bisnis adalah konsistensi. Hal itulah yang dilakukan Yessie Natasia dalam menggeluti bisnis di dunia fashion dengan mendirikan brand local Fashionistas sejak tahun 2007.
"Fashionistas berdiri di tahun 2007 yang berawal dari motivasi personal untuk memiliki sebuah pakaian yang tak hanya bagus namun juga unik dan one of a kind," terang Yessie, pada Selasa (06/04/2021).
Waktu itu, Yessie melihat adanya peluang bisnis saat melihat kebutuhan baru dalam fashion yang tak lagi hanya sebagai media agar terlihat fashionable dan stylish, namun juga sebagai mode yang memiliki direct emotional link antar fashion item dan customer.
"Dalam perjalanan dari 2007 hingga saat ini, telah banyak improvement, adjusment, dan development yang telah dilakukan oleh Fashionistas," ujarnya.
Dia juga berpandangan, Fashionistas menghadirkan fashion dengan konsep yang mampu membantu para perempuan Indonesia dalam menentukan style lebih dari sekedar apa yang mereka inginkan, tetapi apa yang sebenarnya mereka butuhkan.
Lebih lanjut, perempuan 34 tahun ini menceritakan, dirinya selama lebih dari 10 tahun membangun dan mempertahankan Fashionistas, sehingga telah banyak yang dia lalui.
"Proses up and down-nya, keberhasilan dan kegagalannya. Aku sadar kemajuan bisnisku ini tak lepas dari dukungan lingkungan dan orang-orang yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung. Maka dari itu, menuju masa sekarang ini, tujuan Fashionistas tak lagi hanya fokus terhadap produksi pakaian namun kami mempunyai misi untuk give back ke local scene dan memberikan social impact dimulai dari kota dimana Fashionistas lahir, yaitu Surabaya," jelasnya.
"Dalam usahaku untuk turut berkontribusi dalam bisnis lokal, aku tidak hanya memproduksi dari konveksi Fashionistas pribadi, namun juga bekerja sama dengan beberapa konveksi lokal lainnya. Selain itu, Fashionistas juga membuka kesempatan kerja part time bagi mahasiswa selagi mereka kuliah sejak 2011," imbuhnya.
Perempuan yang tinggal di Surabaya ini mengatakan, salah satu hal yang menjadi nilai tambah dari bisnisnya adalah upayanya untuk membuka kesempatan bagi para anak kuliahan untuk bisa memiliki pengalaman bekerja paruh waktu.
"Mencari pekerjaan paruh waktu bukanlah hal yang mudah ditemukan di Surabaya. Tak banyak pelaku bisnis yang melakukannya," bebernya.
Di samping itu, Yessie juga aktif memberikan workshop dan seminar untuk ikut turut andil dalam perkembangan bisnis lokal di Surabaya khususnya.
Tak berhenti disitu, dia terus berkolaborasi dengan local brand lain, lini bisnis lain, dan banyak influencer sebagai bentuk usahanya untuk mencapai sustainable economy bagi berbagai pihak.
"Dalam menghadapi krisis di tengah pandemi yang terjadi sejak awal tahun 2020, Fashionistas turut membantu dengan program charity-nya. Aku mengumpulkan donasi yang digunakan sepenuhnya untuk membantu para pejuang kesehatan kita. Awalnya sungguh tidak mudah, di era seperti ini di kala masyarakat cenderung menahan pengeluaran mereka dan tentu aku tidak berharap muluk-muluk," bebernya.
"Namun, tidak aku sangka animonya sangat tinggi. Hanya dalam waktu singkat, aku dan Fashionistas berhasil mengumpulkan donasi yang jumlahnya mencukupi untuk menutup biaya produksi 1.000 buah hazmat suit yang kemudian dibagikan ke tenaga kesehatan di berbagai rumah sakit di Jawa Timur," sambungnya.
Semua effort dan tenaga yang Yessie kerahkan selama ini, semata-mata karena dia sadar bahwa semua orang harus menghadapi masalah ini secara bersama-sama.
"Bisnis yang aku jalankan ini seperti halnya sebuah ekosistem alami dimana masing-masing organisme saling berketerkaitan satu dengan yang lain, dan sebagai salah satu organisme dalam ekosistem tersebut, Fashionistas hanya bisa tumbuh baik apabila habitatnya sehat dan subur," ujarnya.
Ke depannya, dia ingin Fashionistas menjadi brand yang menjalankan prinsip conscious business. Dengan melakukan sistem less waste cutting production, penggunaan eco friendly packaging, dan menghadirkan collection yang timeless dan menerapkan sistem slow fashion.
"Menjadi brand yang seimbang antara profit dan purpose. Menjadi sebuah medium yang tak hanya memberikan dampak ekonomi bagiku, namun juga memberikan dampak positif bagi seluruh Fashionistas team, konveksi lokal yang berada dibawah naunganku, komunitas dan lingkungan sosial disekitarnya. Menjadikannya sebuah bisnis yang tak hanya force of profit, melainkan juga force of good," ujarnya.
Lebih lanjut, sejak bergabung dengan Komunitas Tangan Di Atas (TDA) sejak 2 Agustus 2019, Yessie merasakan perjalanan selama 2 tahun ini terasa sangat spesial, karena di grup TDA tersebut selalu ada sharing setiap hari. Mulai dari sharing ringan tanya jawab, maupun sharing yang ada di WhatsApp group secara rutin.
"Selain itu, saya aktif ikut sharing TDA secara offline sebelumnya pandemi. Dan saat pandemi itu kelasnya secara online dan saya tetap rutin ikut. Saya rutin ikut karena setiap ilmu yang saya dapatkan bisa langsung saya terapkan di bisnis saya," terangnya.
Dia juga kerap diajak sharing secara online. Seringkali TDA juga mengajak dirinya dalam program Digitak yang ada di live stream YouTube TDA, kemudian juga diajak webinar.
"Sehingga saya merasa di TDA saya cocok banget karena selain mendapatkan banyak ilmu bisnis saya juga bisa membantu sharing terkait knowledge yang saya punya," ucapnya.
"Sama satu lagi saya senang banget waktu ikut program mentoringnya, jadi di mentoring itu dibagi ke dalam grup-grup kecil yang berlangsung selama 6 bulan. Di situ saya ngerasain banget saya bisa mengevaluasi dan bisnis saya bisa berjalan ke arah yang lebih baik," lanjutnya.
Terakhir, Yessie juga mengatakan ada 3 prinsip yang harus dipegang dalam memulai usaha. "Ada 3 prinsip utama yang aku pegang yaitu do not avoid failures in running business. In the end, failures teach us a lot of things to be better. We rise by lifting others. We will not getting less by giving or sharing more," pungkasnya.
