Konten Media Partner

KUBIS TDA Ciamis, Belajar Bisnis dari H. Cuncun hingga Membangun Lemona Group

TDAverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
KUBIS TDA Ciamis, Belajar Bisnis dari H. Cuncun hingga Membangun Lemona Group
zoom-in-whitePerbesar

Ciamis - Belajar bisnis tidak selalu harus melalui teori dan ruang kelas. Bagi Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Ciamis, pengalaman langsung dari pengusaha yang telah melewati berbagai fase dalam membangun usaha menjadi ruang belajar yang penting.

Semangat itu kembali hadir dalam kegiatan Kunjungan Bisnis (KUBIS) TDA Ciamis yang digelar Jumat (18/9/2026) di Kawasan Wisata Edukasi Lembur Galuh, Desa Sukamaju, Kecamatan Baregbeg, Kabupaten Ciamis. KUBIS merupakan program rutin bulanan TDA Ciamis yang mempertemukan para pengusaha untuk belajar langsung dari wirausahawan lain.

Kali ini, peserta menyimak perjalanan bisnis H. Cuncun, pemilik Lemona Group, yang berbagi pengalaman merintis dan mengembangkan usahanya. Kegiatan berlangsung mulai pukul 13.00 hingga 17.30 WIB.

Acara diawali makan siang bersama yang disiapkan tuan rumah. Selanjutnya, kegiatan masuk ke sesi utama yang dipandu Kang Zoy sebagai pembawa acara.

Setelah itu, H. Cuncun memaparkan model bisnis Lemona Group sekaligus berbagai pengalaman yang dilaluinya selama membangun usaha.

Menariknya, H. Cuncun tidak banyak berbicara mengenai teori bisnis. Ia lebih banyak membagikan pengalaman teknis dan keputusan sederhana yang pernah diambil dalam menjalankan usaha. Hal itu justru membuat peserta semakin tertarik menggali lebih jauh.

Pertanyaan demi pertanyaan muncul dari peserta yang berasal dari Ciamis dan Tasikmalaya. Mereka mencoba mencari hal-hal praktis yang dapat diterapkan atau disesuaikan dengan bisnis masing-masing.

Salah satu pesan yang cukup kuat dari H. Cuncun adalah pentingnya memiliki mental seorang wirausaha. Menurutnya, keterbatasan modal, kendaraan, bahkan kondisi cuaca tidak semestinya menjadi alasan untuk berhenti berusaha.

Ia kemudian menceritakan pengalamannya ketika belum ada layanan pesan-antar makanan seperti sekarang. Saat itu, ia sudah mengantarkan makanan kepada pelanggan menggunakan sepeda.

Pengalaman lain datang ketika ia pernah mengalami kegagalan membuat adonan. Alih-alih membuangnya, ia mencoba mencari cara agar adonan yang gagal tersebut dapat diolah menjadi produk lain yang tetap bisa diterima pasar.

Bagi H. Cuncun, pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa seorang pengusaha dituntut mampu mencari jalan keluar ketika menghadapi persoalan. Namun, menurutnya, tantangan seorang pengusaha tidak berhenti ketika bisnis mulai menghasilkan.

“Ada jebakan lain yang justru bisa muncul ketika seseorang mulai merasakan kesuksesan, yakni keinginan untuk terlihat lebih sukses,” bebernya.

Ia mengingatkan para peserta agar tidak mudah menambah beban hidup hanya demi menunjukkan pencapaian kepada orang lain.

“Jika sepeda masih cukup untuk mendukung aktivitas usaha, tidak perlu memaksakan diri membeli motor dengan berutang. Begitu pula ketika motor masih memadai, tidak perlu tergesa-gesa mengambil cicilan mobil,” katanya.

Menurutnya, keputusan menambah aset atau utang harus benar-benar mempertimbangkan kebutuhan bisnis. Sebab, jangan sampai pengusaha justru menambah beban operasional yang tidak esensial sehingga mengganggu kesehatan usaha.

Hal serupa berlaku ketika mendapatkan tawaran pinjaman modal. H. Cuncun mengingatkan agar pengusaha tidak tergoda melakukan ekspansi sebelum bisnis benar-benar siap. Di sisi lain, ia juga menekankan pentingnya hubungan yang baik dengan orang-orang yang bekerja bersama dalam membangun usaha.

Ia pernah mengumpulkan para pekerjanya dan secara khusus meminta mereka merelakan atau meridhai apabila selama bekerja ada hak yang belum sempurna terpenuhi atau sikapnya pernah membuat mereka kurang nyaman. Baginya, keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari seberapa besar usaha berkembang, tetapi juga dari bagaimana hubungan antara pemilik usaha dan orang-orang yang ikut bekerja di dalamnya.

Sementara itu, pesan tersebut kemudian disambungkan dengan nilai yang dibawa TDA Ciamis. Ketua TDA Ciamis, H. Asep Wisnu, mengingatkan para peserta untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam menjalankan aktivitas perdagangan.

“Sebagai pengusaha muslim, penting untuk menjaga sikap amanah, jujur, dan memiliki integritas dalam setiap aktivitas bisnis,” terangnya.

KUBIS kali ini pun tidak berhenti pada sesi pemaparan. Dialog berlangsung dua arah dengan peserta yang aktif menggali pengalaman narasumber. Suasana belajar terasa lebih dekat karena pertanyaan yang muncul banyak berangkat dari persoalan nyata yang sedang dihadapi para peserta dalam menjalankan usahanya.

Bagi TDA Ciamis, KUBIS menjadi salah satu cara untuk menghadirkan pembelajaran bisnis yang tidak berjarak. Para peserta tidak hanya mendengar kisah keberhasilan, tetapi juga mendapatkan gambaran tentang keterbatasan, kegagalan, pengambilan keputusan, hingga menjaga nilai-nilai dalam perjalanan membangun usaha.

Dari Lembur Galuh, pesan yang dibawa pulang para peserta pun sederhana: menjadi pengusaha membutuhkan keberanian untuk memulai, kecerdikan mencari jalan keluar, kemampuan menahan diri, serta integritas dalam menjalankan usaha. Karena pada akhirnya, bisnis bukan hanya tentang seberapa besar yang berhasil dibangun, tetapi juga bagaimana proses membangunnya memberi manfaat bagi banyak orang.