Konten Media Partner

Leadership Legacy: Ary Ginanjar Ungkap Kunci Bisnis Tumbuh Eksponensial

TDAverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Founder ESQ, Ary Ginanjar Agustian. foto/gatot/tda
zoom-in-whitePerbesar
Founder ESQ, Ary Ginanjar Agustian. foto/gatot/tda

Jakarta - Founder ESQ, Ary Ginanjar Agustian, membagikan pengalaman dan filosofi kepemimpinannya dalam sesi Leadership Legacy: Memimpin dengan Hati untuk Pertumbuhan Eksponensial yang digelar di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center, Minggu (21/06/2026).

Dalam sesi talkshow pada Pesta Wirausaha Nasional (PWN) TDA 2026 yang dimoderatori Presiden TDA 8.0, Eko Desriyanto, Ary menegaskan bahwa pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada modal dan strategi, tetapi juga kemampuan pemimpin menemukan serta membangun tim yang tepat.

Ary mengawali paparannya dengan menceritakan perjalanan bisnisnya yang dimulai dari usaha berjualan celana jins. Dari keuntungan awal yang diperolehnya, sebagian diberikan kepada sang ibu, sementara sisanya digunakan untuk mengembangkan usaha.

“Dalam perjalanan beberapa tahun, alhamdulillah saya bisa membangun Menara 165 dan berbagai usaha yang saya miliki saat ini. Tetapi kuncinya bukan saya bekerja sendiri. Kuncinya adalah menemukan orang-orang yang tepat untuk mengelola bisnis,” ujar Ary.

Menurut Ary, banyak pelaku usaha masih terjebak pada pola pikir bahwa keberhasilan bisnis ditentukan oleh kemampuan pribadi seorang pemimpin. Padahal, untuk membawa perusahaan tumbuh dan naik kelas, seorang pemimpin harus mampu mendelegasikan tanggung jawab kepada orang-orang terbaik sesuai bidangnya.

“Saya mencari siapa sales yang hebat, siapa ahli keuangan yang hebat, siapa ahli operasional yang hebat, siapa SDM yang hebat. Lalu mereka saya satukan dalam mimpi yang sama. Karena bisnis pada akhirnya adalah tentang perilaku manusia,” kata Ary mengutip pemikiran pakar manajemen Peter Drucker.

Ary mengatakan dirinya kini dapat lebih fokus mengembangkan bisnis baru karena operasional perusahaan telah dijalankan oleh para profesional yang dipercaya. Bahkan, ia berkelakar bahwa target pribadinya saat ini adalah menjadi “pengangguran” karena seluruh sistem bisnis sudah berjalan dengan baik.

Dalam forum tersebut, Ary juga mengungkapkan rencana pengembangan bisnis baru berupa pembangunan pusat layanan halal di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, ekspansi bisnis hanya dapat dilakukan apabila perusahaan memiliki sumber daya manusia yang tepat.

“Kalau ditanya apa kunci menjadi konglomerat, jawabannya sederhana: pilih orang yang tepat. Saya bisa berada di sini karena memiliki orang-orang yang tepat di sekitar saya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Ary menyoroti pentingnya inovasi dan kemampuan beradaptasi dalam menjaga keberlangsungan bisnis. Ia menceritakan bagaimana dirinya pernah menjalankan berbagai jenis usaha, mulai dari radio panggil (pager), distributor telepon seluler, hingga layanan kesehatan sebelum akhirnya membangun ESQ.

“Kalau kita tidak terus maju dan berkembang, kita pasti hilang. Inovasi bukan sekadar ekspansi, tetapi cara mempertahankan diri agar tetap relevan,” katanya.

Ary juga menegaskan bahwa visi besar yang terus diperjuangkan ESQ adalah mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui pembangunan karakter, moral, dan kewirausahaan masyarakat Indonesia.

“Sebenarnya yang pertama kali meluncurkan gagasan Indonesia Emas 2045 pada 2008 adalah ESQ. Kami percaya Indonesia Emas hanya akan terwujud jika masyarakatnya memiliki karakter yang kuat sekaligus jiwa kewirausahaan yang tinggi,” tutur Ary.

Dalam sesi diskusi, Eko Desriyanto menyoroti tantangan yang dihadapi mayoritas UMKM Indonesia yang umumnya memulai bisnis secara tidak terencana (by accident) dan mengalami kesulitan menemukan talenta terbaik untuk mengembangkan usaha.

Menanggapi hal tersebut, Ary menekankan bahwa keberhasilan bisnis dibangun melalui proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh publik.

“Kita hanya melihat 5 persen puncak gunung es. Padahal 95 persen lainnya adalah kesungguhan, komitmen, tanggung jawab, air mata, kegagalan, inovasi, dan kebangkitan yang membentuk sebuah bisnis,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kemampuan mendelegasikan pekerjaan kepada orang yang memiliki integritas sekaligus kinerja tinggi. Menurut Ary, banyak perusahaan gagal bukan karena kekurangan modal, melainkan akibat salah memilih sumber daya manusia.

“Saya pernah tiga kali perusahaan saya kemasukan orang yang toksik. Karena itu memilih orang bukan hanya soal loyalitas, tetapi juga kemampuan mencapai target. Kombinasi keduanya yang akan membawa perusahaan bertumbuh,” katanya.

Untuk membantu proses identifikasi talenta, Ary memperkenalkan metode Talent DNA yang dikembangkan ESQ. Melalui pendekatan tersebut, perusahaan dapat memetakan karakter dan potensi seseorang sehingga penempatan sumber daya manusia menjadi lebih tepat.

Menutup sesi, Eko menyampaikan bahwa kolaborasi antara TDA dan ESQ akan semakin diperkuat untuk membantu para pelaku UMKM menemukan serta mengembangkan talenta terbaik di organisasinya.

“Teman-teman TDA perlu memahami bahwa pertumbuhan bisnis bukan hanya soal produk dan pasar, tetapi juga bagaimana menemukan orang yang tepat untuk menjalankan visi besar perusahaan. Itulah salah satu pelajaran penting yang kita dapatkan dari Pak Ary hari ini,” ujar Eko.

Sesi Leadership Legacy menjadi salah satu forum yang menyedot perhatian peserta karena menghadirkan pengalaman nyata Ary Ginanjar dalam membangun bisnis selama puluhan tahun. Forum tersebut sekaligus memberikan inspirasi bagi para pelaku usaha untuk memimpin dengan hati demi menciptakan pertumbuhan bisnis yang eksponensial.