Konten Media Partner

Lewat Batik, Satriyawan Abu Yasid Kenalkan Budaya Sultra

TDAverified-green

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

SULAWESI - Memperkenalkan budaya Sulawesi Tenggara (Sultra) dan memanfaatkan peluang bisnis, itulah yang dilakukan Satriyawan Abu Yasid.

Satriyawan Abu Yasid, Owner batik Bohama, mengenakan batik corak Sulawesi Tenggara (Sultra).(foto:dok/pribadi).
zoom-in-whitePerbesar
Satriyawan Abu Yasid, Owner batik Bohama, mengenakan batik corak Sulawesi Tenggara (Sultra).(foto:dok/pribadi).

Pengusaha batik dengan brand BOHAMA, mulai menjalankan bisnis batiknya pada tahun 2018. Untuk memulai bisnis batiknya, Satriyawan memanfaatkan peluang. Sebab daerah Sulawesi Tenggara mengharuskan karyawan dan pegawai menggunakan batik di hari tertentu.

" Jadi, diawali dari keinginan saya untuk mengangkat kearifan lokal Sulawesi Tenggara. PNS dan karyawan swasta di Sultra diwajibkan menggunakan tenunan Sultra di hari tertentu. Lalu saya melihat disitu ada peluang bisnis, juga mengangkat budaya Sultra dalam bentuk tenun batik," jelasnya.

Kemasan batik Bohama dan sejumlah corak produksi butik Bohama.(dok/pribadi)

Dia menyebutkan bahwa bisnis batik membutuhkan frekuensi publikasi yang tinggi dan networking yang baik di kantong-kantong konsumen. Hal ini, juga berpotensi mengangkat akar budaya sulawesi tenggara dalam bentuk batik ke pasar nasional dan internasional.

Adapun harga batik dibandrol mulai harga 240 ribu sampai Rp 300 ribu. Sedangkan saat ini motif batik tersedia 15 jenis, yang akan terus digali dan bersumber dari kearifan lokal Sultra.

Batik tulis khas Bohama.(dok/bohama).

"Semua motif itu khas Sulawesi Tenggara. Harganya biasa dan yang harga Rp 300 ribuan itu karena proses pembuatannya dua kali pewarnaan. Batik kami merupakan batik tulis," terangnya.

Rencananya, untuk pengembangan bisnisnya Satriyawan akan membuka butik batik BOHAMA, yang saat ini sedang proses pengerjaan.

Bagaimana supaya bisa sukses di tahun awal perintisan? Satriyawan membagikan tipsnya yang sederhana. Yakni, disiplin, kerja keras dan istiqomah. " Jadi, apa yang kita usahakan ini juga berkah bagi orang lain," katanya.

Salah satu jenis corak batik bohama.(dok/butik Bohama).

Selama ini, untuk mengenalkan batik miliknya, Satriyawan melakukan promosi melalui media sosial instagram dengan akun @batik.bohama.

Sementara itu, bergabung dengan komunitas TDA dimulai sejak tahun 2019. Satriyawan mengakui banyak manfaat yang diperolehnya. Salah satunya membawa dampak yang signifikan terhadap pengembangan bisnis.

" Senang bergabung dengan komunitas TDA, selain mendapatkan mentor yang hebat juga mengadakan kegiatan sosial yang rutin," pungkasnya.