Mukerwil TDA Jateng 9.0 Tegaskan Arah Growth, Kaderisasi, dan Penguatan 13 Kota

Semarang - Komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA) wilayah Jawa Tengah menggelar Musyawarah Kerja Wilayah atau Muskerwil TDA Jateng 9.0, di Griya Persada Bandungan, Semarang, pada Minggu (13/9/2026).
Gelaran itu sebagai forum konsolidasi pengurus wilayah dan ketua daerah untuk menyusun arah kerja, memperkuat struktur organisasi, serta mematangkan strategi pertumbuhan komunitas wirausaha di Jawa Tengah.
Mengusung semangat TDA Jateng Growth, forum ini menjadi ruang penting bagi pengurus wilayah untuk memastikan gerakan komunitas tidak hanya berjalan dengan semangat, tetapi juga ditopang sistem, data, kaderisasi, dan tata kelola yang lebih rapi.
Ketua TDA Wilayah Jawa Tengah Eko Novianto mengatakan TDA Jateng menegaskan bahwa kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah oleh kejahatan yang terorganisir dengan baik.
Menurutnya, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa organisasi komunitas perlu dikelola secara serius agar manfaatnya semakin terasa bagi member dan ekosistem bisnis daerah. Eko menekankan Muskerwil menjadi momentum untuk menyatukan langkah pengurus wilayah dan daerah.
“Periode TDA Jateng 9.0 harus menjadi fase growth yang lebih tertata. Kita ingin TDA Jateng bergerak bukan hanya ramai kegiatan, tetapi kuat secara struktur, rapi secara data, dan berdampak nyata bagi member di setiap kota,” ujar Eko.
Dia menyebut salah satu agenda utama yang dibahas adalah penguatan struktur TDA Wilayah Jawa Tengah. Dalam rancangan kerja wilayah, terdapat peran Dewan Penasihat Wilayah, Tim Support Wilayah, serta Dewan Pengawas, Kerja Sama, dan Kepatuhan.
“Struktur ini disiapkan agar koordinasi antar kota lebih solid dan setiap program memiliki dukungan yang jelas,” ungkapnya.
Penguatan Struktur dan Data Member
Forum ini juga menyoroti peran strategis sekretariat wilayah sebagai pusat data member TDA Jateng, data bisnis member, serta administrasi organisasi.
Dia mengatakan dengan basis data yang lebih rapi, pengurus wilayah diharapkan mampu membaca kebutuhan member secara lebih tepat dan menyusun program yang relevan.
“Selain sekretariat, fungsi bendahara wilayah juga menjadi perhatian penting. Tata kelola keuangan yang sehat dinilai menjadi fondasi agar kegiatan komunitas bisa berjalan transparan, bertanggung jawab, dan berkelanjutan,” bebernya.
Sementara itu, agenda kaderisasi menjadi salah satu pembahasan paling strategis. TDA Jateng mencatat terdapat 13 TDA kota dalam wilayah Jawa Tengah, yaitu Solo, Semarang, Salatiga, Banyumas Raya, Pemalang, Jepara, Grobogan, Pati, Rembang, Kendal, Tegal, Brebes, dan kota lainnya dalam cakupan wilayah.
Dalam pemetaan kaderisasi, kota-kota tersebut dikelompokkan berdasarkan perkembangan: label biru, hijau, kuning, dan merah.
Berdasarkan materi Muskerwil, terdapat tiga kota label biru, tiga kota label hijau, empat kota label kuning, dan nol kota label merah. Pemetaan ini menjadi dasar untuk menentukan strategi pendampingan, penguatan komunitas, serta akselerasi program di tingkat kota.
Eko menambahkan bahwa kekuatan TDA Jateng ada pada kolaborasi antarwilayah dan antaranggota.
“TDA kuat karena orang-orangnya mau bergerak bersama. Tugas kita sekarang adalah membuat gerakan itu lebih terorganisir, lebih terukur, dan lebih mudah diteruskan oleh kader-kader berikutnya,” kata Eko.
Muskerwil TDA Jateng 9.0 juga membahas fungsi pengawasan, kerja sama, dan kepatuhan sebagai bagian penting dalam menjaga arah organisasi. Dengan penguatan fungsi ini, setiap agenda, kemitraan, dan kegiatan wilayah diharapkan berjalan sesuai nilai dan aturan organisasi.
Kaderisasi dan Edukasi Jadi Perhatian
Secara umum, Muskerwil ini menegaskan bahwa TDA Jateng 9.0 memasuki fase penguatan organisasi. Fokusnya bukan hanya memperbanyak agenda, tetapi membangun sistem kerja yang lebih rapi, memperkuat data, menyiapkan kader, dan memastikan setiap program memberi manfaat nyata bagi member.
Dengan konsolidasi ini, TDA Jateng berharap dapat menjadi ruang tumbuh yang semakin solid bagi para pengusaha di Jawa Tengah. Muskerwil bukan sekadar rapat kerja, tetapi titik awal untuk memperkuat gerakan TDA Jateng agar lebih terarah, kolaboratif, dan berdampak.
Vito, Ketua Kota Semarang, mengatakan pemetaan tersebut membantu daerah memahami posisi dan kebutuhan masing-masing.
“Dengan adanya pemetaan kota, kami di daerah jadi lebih jelas melihat apa yang harus diperkuat. Ada kota yang butuh kaderisasi, ada yang butuh penguatan program, ada juga yang perlu dukungan kolaborasi antarwilayah,” ungkapnya.
Sedangkan perwakilan ketua daerah lainnya menilai Muskerwil menjadi ruang yang penting untuk menyamakan ritme antara wilayah dan kota.
“Selama ini setiap kota punya karakter dan tantangan sendiri. Lewat Muskerwil, kami bisa menyatukan arah, berbagi pengalaman, dan memastikan program daerah tetap sejalan dengan visi wilayah,” ujarnya.
Selain kaderisasi, bidang edukasi wilayah juga menjadi perhatian. Program edukasi nantinya tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan pengusaha, mulai dari pengembangan bisnis, peningkatan kapasitas kepemimpinan, hingga penguatan jejaring antaranggota.
