Ngopi, SULTAN, dan Estafet Pelayanan Ferdian Brillian di TDA 9.0
Dari ritual kopi selepas Subuh hingga gagasan ruang dialog digital, Ferdian membawa gaya kepemimpinan terbuka untuk mendampingi pengusaha

JAKARTA - Deg-degan, merinding, lalu diam beberapa detik sambil menarik napas panjang. Begitulah reaksi Ferdian Brillian ketika mengetahui dirinya akan memimpin Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas sebagai Presiden TDA 9.0.
Pikirannya saat itu bukan langsung tertuju pada jabatan baru. Ia justru membayangkan besarnya amanah yang perlu dijaga selama tiga tahun ke depan.
“Aslinya saya deg-degan. Merinding. Beberapa detik saya cuma diam sambil menarik napas panjang. Pikiran saya bukan tentang jabatan, tetapi besarnya amanah yang harus dijaga selama tiga tahun ke depan,” kata Ferdian.
Ferdian tercatat mulai menjabat sebagai Presiden TDA pada Juni 2026. Sebelumnya, ia menjadi Sekretaris Jenderal TDA pada Juni 2023 hingga Juni 2026. Perjalanannya di kepengurusan nasional juga mencakup posisi Direktur Membership Services pada 2015–2017 dan Direktur Special Events pada 2017–2019.
Di luar organisasi, Ferdian memiliki latar belakang teknologi informasi, pengembangan bisnis, kemitraan, dan pendidikan. Profil profesionalnya mencatat pengalaman sebagai Director of Commercial and Partnership di PT Motiolabs Digital Indonesia serta dosen Telkom University yang mengampu bidang sistem informasi, manajemen hubungan pelanggan, dan kewirausahaan.
Ritual kopi sebelum hari dimulai
Di balik jadwal organisasi dan bisnis, Ferdian memiliki ritual pagi yang sederhana. Selepas Subuh, ia biasanya duduk di ruang tamu, membaca, menikmati kopi, sesekali bengong, lalu menyusun pikirannya sebelum memulai aktivitas.
Namun, kopi bukan satu-satunya “bahan bakar” dalam bekerja. Untuk keputusan yang berdampak kepada banyak orang, ia lebih memilih membuka percakapan bersama tim.
“Minum kopi itu ritual pagi saya. Setelah Subuh saya biasanya duduk di ruang tamu, baca, ngopi, bengong, lalu menyusun pikiran sebelum hari dimulai,” ujarnya.
“Kalau ada keputusan yang berdampak ke banyak orang, saya hampir selalu memilih berdiskusi. Buat saya, keputusan terbaik lahir dari percakapan, dipikirkan, lalu diputuskan.”
Kebiasaan tersebut menggambarkan pendekatan kepemimpinannya: menyediakan waktu untuk berpikir, tetapi tidak mengambil keputusan penting seorang diri.
Tiga kali gagal, justru terpilih saat tidak berniat maju
Cerita terpilihnya Ferdian juga memiliki sisi yang tidak terduga. Ia mengaku pernah tiga kali dicalonkan menjadi Presiden TDA, tetapi belum terpilih. Pada pencalonan keempat, ketika dirinya justru tidak memiliki niat untuk maju, hasilnya berbalik.
“Yang paling lucu justru terpilih menjadi Presiden TDA. Saya sudah tiga kali dicalonkan sebelumnya dan tidak terpilih. Nah, yang keempat ini saya benar-benar tidak punya niat maju. Eh, malah jadi,” tuturnya sambil tertawa.
Pengalaman itu membuat perjalanan menuju posisi Presiden TDA terasa tidak seperti perlombaan mengejar jabatan. Menurut Ferdian, posisi tersebut datang sebagai bagian dari proses panjang berorganisasi, belajar, dan mengambil tanggung jawab dari satu periode ke periode berikutnya.
Kalau gaya kepemimpinan menjadi aplikasi
Latar belakang Ferdian di dunia teknologi ikut mempengaruhi cara ia membayangkan organisasi. Ketika diminta mengubah gaya kepemimpinannya menjadi sebuah aplikasi, ia memilih nama SULTAN, singkatan dari Sustainable Leadership Transformation Network.
Inspirasi tersebut datang dari forum digital seperti Kaskus dan Quora, tempat pengguna dapat mengajukan pertanyaan, menyampaikan gagasan, memberi tanggapan, dan berinteraksi.
“Saya membayangkan ada ruang tempat siapa pun bisa menyampaikan gagasan, memberi masukan, dan berdiskusi secara terbuka,” katanya.
“Organisasi berkembang bukan karena satu orang paling pintar, tetapi karena banyak orang berani berpikir, mengeksekusi, dan bertanggung jawab bersama.”
Bagi Ferdian, aplikasi imajiner tersebut bukan sekadar kumpulan fitur teknologi. SULTAN menggambarkan organisasi yang menyediakan ruang untuk mendengar, memberikan umpan balik, menghubungkan ide, dan memastikan gagasan dapat bergerak menjadi tindakan.
Dari digitalisasi anggota menuju kepemimpinan nasional
Salah satu pengalaman yang paling membekas bagi Ferdian terjadi pada 2015. Saat menjadi Direktur Keanggotaan TDA, ia mendapat tugas dari Presiden TDA 4.0 Mustofa Romdloni untuk mulai mentransformasi sistem keanggotaan ke dalam bentuk digital.
Bersama tim Direktorat Keanggotaan, Ferdian mengembangkan konsep dasar dan sistem yang menurutnya masih digunakan hingga kini.
Pengalaman tersebut mengajarkannya bahwa transformasi organisasi tidak selalu dimulai dari perubahan besar. Kadang-kadang, perubahan bermula dari membangun fondasi yang manfaatnya baru terlihat bertahun-tahun kemudian.
Perjalanan Ferdian di TDA kemudian berlanjut dari pengelolaan keanggotaan, penyelenggaraan kegiatan, posisi Sekretaris Jenderal, hingga menerima tanggung jawab sebagai Presiden. Rekam jejak profesionalnya juga memperlihatkan perhatian pada pembangunan sistem, tim, pengembangan bisnis, dan kemitraan strategis.
Bukan tentang berada paling depan
Ketika diminta melengkapi kalimat “Menjadi Presiden TDA itu ternyata…”, Ferdian tidak menjawabnya dengan daftar program atau target organisasi.
“Menjadi Presiden TDA itu ternyata bukan tentang memimpin. Ini tentang menerima giliran untuk melayani,” katanya.
Ia melihat kepemimpinan TDA sebagai sebuah estafet. Para pendiri memulai perjalanan komunitas dua dekade lalu, kemudian setiap periode kepengurusan menjaganya agar tetap hidup dan berkembang.
“Hari ini saya hanya mendapat giliran membawa tongkat estafet itu beberapa langkah. Tugas saya bukan membuat orang mengingat siapa Presiden TDA 9.0,” ujarnya.
“Yang lebih penting adalah memastikan ketika estafet ini saya serahkan nanti, TDA menjadi organisasi yang lebih kuat, lebih relevan, dan lebih bermanfaat dibandingkan ketika saya menerimanya.”
Membuat perjalanan pengusaha terasa lebih ringan
Di tengah rencana penguatan organisasi, Ferdian menginginkan satu perubahan yang sederhana dan mudah dirasakan anggota: menjadi pengusaha tidak lagi terasa seperti perjalanan yang harus dijalani sendirian.
“Saya ingin anggota merasakan satu hal sederhana: menjadi pengusaha terasa lebih ringan karena ada TDA,” katanya.
“Ketika menghadapi tantangan, mereka tahu ada tempat bertanya dan bercerita. Ketika ingin berkembang, ada tempat belajar. Ketika membutuhkan kolaborasi, ada ekosistemnya.”
Menurut Ferdian, ketika rasa saling mendampingi tersebut mulai tumbuh di antara anggota, semangat “Let’s Go Together” tidak lagi berhenti sebagai tema kepemimpinan, tetapi hidup dalam keseharian komunitas.
Sebagai Presiden TDA 9.0, Ferdian membawa tiga fokus: menumbuhkan generasi pengusaha yang tangguh dan beretika, membangun sinergi antara anggota, industri, dan institusi, serta mengembangkan pusat sumber daya bisnis berbasis teknologi. Pendekatan tersebut berjalan bersama nilai silaturahmi, integritas, keterbukaan pikiran, orientasi pada tindakan, dan keseimbangan hidup.
Tentang Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas
Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas merupakan organisasi kewirausahaan yang berdiri sejak 2006 dengan visi menjadi komunitas pengusaha yang memberikan kontribusi positif bagi peradaban.
TDA memiliki lebih dari 62.000 anggota yang tersebar di 119 daerah, 29 wilayah, serta memiliki perwakilan di lima negara. TDA menjalankan berbagai program edukasi, mentoring, workshop, pengembangan komunitas, business matching, kolaborasi ekosistem, dan kegiatan sosial untuk memperkuat kepemimpinan, kapabilitas, serta jejaring entrepreneur Indonesia.
