Owner Tuneeca Berharap Presiden TDA 7.0 Terpilih, Bikin TDA Didengar Pemerintah

BANDUNG - Ibrahim Mochamad Bafagih owner brand ternama baju muslimah Tuneeca yang bermarkas di Kota Bandung, bergabung dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA) tahun 2008.
Selama kurang lebih 14 tahun menjadi bagian TDA. Dia menganggap komunitas ini ibarat rumah baginya. Sebab, TDA merupakan tempat untuk kembali menambah semangat, ataupun mengupdate ilmu setelah melakukan aktivitas di dunia bisnis.
"TDA itu rumahnya mereka yang berwirausaha, kenapa saya bilang rumah? karena wirausaha itu sesuatu yang cukup sulit dan tidak banyak orang yang bisa masuk. Hingga sukses di bidang wirausaha. Banyak sekali tantangan mulai dari customer, penjualan, pengelolaan keuangan, dan tantangan yang lain. Ketika kami mengalami tantangan, maka TDA selalu terbuka memberikan solusi rumah yang berisi sabahat, mentor kita bisa belajar, bersenda gurau, dan disitulah saya mengatakan TDA itu rumah," ungkapnya.
Menurutnya, kondisi kepengurusan TDA saat ini sudah banyak progres yang berhasil. Salah satunya TDA awareness dan database, yang bisa digunakan untuk pembuat regulator atau pemerintah. Terlebih, di tengah kondisi saat ini bertepatan dengan pandemi atau Covid-19.
"Jadi setiap kepengurusan itu selalu meninggalkan legacy atau jejak. Saat ini banyak progres yang dikatakan berhasil. Kondisi saat ini member kehilangan semangat. Tidak sedikit juga yang kehilangan usaha atau tutup. Ini mungkin perlu disemangati dan menjadi sebuah tantangan ke depan. Siapapun yang diamanahin TDA, mampu untuk melaksanakan," bebernya.
Baim, sapaan akrabnya berharap untuk kepengurusan periode selanjutnya dapat melanjutkan program yang telah dibuat.
"Saya berharap Capres TDA 7.0 di tahun 2021 sampai 2023 nanti, mungkin tinggal melanjutkan program dari 6.0. Yaitu TDA semakin dikenal di Indonesia. Menjadikan TDA didengar pemerintah atau pembuat kebijakan. Semakin diakui. Dari situ TDA semakin berkontribusi sebagai rumah wirausaha. Tetapi juga mampu untuk menyentuh regulator membuat kebijakan," terangnya.
Kemudian, terkait dengan database untuk TDA pasport dilanjutkan kembali. Semakin update sebab untuk mengetahui perubahan member dan demokrasi. Tak hanya itu, dia juga menyebutkan nantinya capres yang terpilih, masih harus menyelesaikan tantangan di tengah pandemi.
"Nantinya capres yang terpilih bisa memikirkan apa yang dibutuhkan. Karena masih ada tantangan aktivitas-aktivitas berjalan online, dan kita nggak tau kapan bisa kopdar atau aktivitas offline. Tantangan selanjutnya menjadikan TDA organisasi yang akuntabel, transparan, dan akan menggerakkan member-member yang di banyak kota semakin apresiasi, dan semakin mensupport program nasional di seluruh Indonesia," bebernya.
Baim menambahkan, jika hampir semua anggota tidak menginginkan posisi di keorganisasian, karena ini menyangkut dengan beban amanah untuk mengelola organisasi lokal maupun nasional. "Namun, ketika diminta kesediaan untuk meluangkan waktu di TDA, ya ini kan sudah sebuah rumah dan amanah yang harus dijalankan," katanya.
Baim sendiri pernah menjabat sebagai Wakil Ketua TDA Bandung di tahun 2011-2015, Ketua di tahun 2017-2018 dan di tahun 2018-2021 menjabat sebagai bendahara TDA nasional.
