Pengurus TDA Jatim 3 9.0 Hidupkan Kembali Aktivitas TDA Pasuruan

Pasuruan - Pengurus Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Wilayah Jatim 3 9.0 bersama senior dan member TDA Pasuruan menggelar pertemuan, Selasa (25/8/2026). Pertemuan itu menjadi ruang silaturahmi dan konsolidasi untuk menghidupkan kembali aktivitas TDA di Pasuruan.
Pertemuan dihadiri sejumlah senior dan member TDA Pasuruan, di antaranya Ino, Abim, Ridho, Bayu, Rudi, dan Abidin. Ketua TDA Wilayah Jatim 3 Rizki Pam mengatakan, pertemuan lintas generasi tersebut menjadi kesempatan untuk kembali mempererat hubungan antaranggota.
“Selain itu kami juga membicarakan bagaimana aktivitas TDA di Pasuruan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi anggotanya,” jelasnya.
Menurutnya, bagi komunitas pengusaha, aktivitas menjadi bagian penting dalam membangun hubungan antaranggota. Pertemuan, diskusi, berbagi pengalaman, hingga kegiatan bersama dapat membuka ruang bagi anggota untuk saling belajar, memperluas jejaring, dan menemukan peluang kolaborasi.
“Karena itu, pertemuan antara Pengurus TDA Jatim 3 9.0 dengan para senior dan member TDA Pasuruan tidak hanya diarahkan sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang untuk mendengarkan pengalaman dari perjalanan TDA Pasuruan sekaligus melihat peluang aktivitas yang dapat dikembangkan ke depan,” katanya.
Semangat kolaborasi tersebut juga terbuka bagi anggota TDA dari berbagai wilayah dan daerah. Dia berharap, dengan keterlibatan yang lebih luas, aktivitas di Pasuruan dapat menjadi ruang pertemuan bagi lebih banyak pengusaha untuk saling berbagi pengalaman, membangun koneksi, dan bertumbuh bersama.
“Sebagai tindak lanjut, Abidin, owner Chicken Sabeum, akan menyiapkan agenda lanjutan pada September 2026. Agenda tersebut diharapkan menjadi langkah berikutnya untuk menjaga kesinambungan komunikasi dan mendorong lebih banyak aktivitas bersama di Pasuruan,” terangnya.
Agenda Lanjutan September
Pengurus TDA Wilayah Jatim 3 berkomitmen menjaga komunitas tetap aktif. Bukan hanya soal seberapa banyak kegiatan yang dilakukan, tetapi juga bagaimana setiap kegiatan menghadirkan ruang untuk bertemu, belajar, berbagi, dan memberikan manfaat.
Sebab, komunitas membutuhkan aktivitas agar hubungan antaranggota tetap hidup.
“Karena organisasi tanpa aktivitas kurang lebih seperti warung tanpa buka namanya ada, tetapi manfaatnya sulit ditemukan,” pungkasnya.
