Perkuat Komunitas TDA, Hernawan Capres TDA 7.0 Tekankan 3 Program

BANDUNG - Hernawan Adi Wibowo yang kini menjabat sebagai Chairman PERMADANI TDA 6.0 menganggap, bahwa komunitas Tangan Di Atas (TDA) merupakan rumah kedua.
Sebab dia bergabung mulai tahun 2011, sebagai seorang pengusaha yang baru memulai bisnis dengan hutang ratusan juta rupiah.
Beruntung, di awal dia merintis bisnis bertemu dengan komunitas yang banyak memberikan manfaat untuk pengembangan bisnisnya.
Hernawan menceritakan jika bergabung di TDA pertama kali saat tinggal di kos kecil berdua dengan istri.
"Saya sebut TDA sebagai rumah ke dua, karena komunitas ini sangat berperan dalam pengembangan bisnis. Beruntung sekali menjadi bagian dari TDA mendapatkan manfaat berupa ilmu, koneksi, investor bahkan di awal-awal gabung TDA, sampai dapat pinjaman uang untuk biaya persalinan istri dan beli susu anak dari member TDA juga. Karena itu bagi saya pribadi, Komunitas TDA sudah seperti rumah kedua bagi saya," ungkapnya.
Selama kurang lebih 10 tahun bergabung dengan komunitas ini, menurutnya TDA adalah komunitas pengusaha yang besar dan tersebar di hampir 100 kota di Indonesia. Tak hanya itu, TDA juga telah menjadi komunitas yang diakui oleh banyak pihak, baik dari pemerintah maupun swasta.
"TDA memiliki peran penting untuk menjadi media bagi membernya untuk belajar, berjejaring, bertumbuh dan juga berkolaborasi bersama," bebernya.
Hermawan sendiri pernah menjadi Bendahara TDA Bandung 3.0, Bendahara TDA Bandung 4.0, Bendahara TDA Nasional 5.0 dan Chairman PERMADANI TDA 6.0.
Sementara itu, Hernawan masuk dalam daftar capres TDA 7.0, beberapa program yang perlu dilakukan, diantaranya Program Edukasi KMB, Program Kolaborasi dan Program Permodalan.
Menurut Hermawan, program edukasi Kelompok Mentoring Bisnis (KMB), nantinya terbagi menjadi 3 KMB. Yakni, KMB Daerah, KMB Wilayah dan KMB Nasional yang berjalan rutin dan termonitor pusat. Sedangkan program kolaborasi, kata Hermawan, yaitu menyelenggarakan event-event yang membuka peluang terjadinya kolaborasi antar member TDA. Yang besar berkolaborasi membantu yang kecil, atau sesama yang kecil berkolaborasi supaya menjadi besar. ''Dan yang terakhir program permodalan dengan maksud membantu member TDA yang sudah menjalani proses edukasi, untuk mendapatkan akses permodalan dengan skema yang mudah dan aman untuk membantu mengembakan bisnis member," jelasnya.
Dia menyebutkan bahwa sistem yang dibutuhkan TDA 7.0, sistem membership dan database yang baik, yang telah dibuat oleh kepengurusan sebelumnya. Sehingga tugas BOD selanjutnya memperbanyak data member, sehingga semua member bisa masuk ke database TDA Nasional.
"Dari database ini nantinya kita bisa tahu apa yang dibutuhkan member dan apa yang bisa kita lakukan untuk member. Peluang-peluang kolaborasi juga bisa dilakukan lebih mudah dengan adanya database nasional ini," terangnya.
Hernawan menambahkan, ke depan TDA sebaiknya meneruskan program-program yang sudah dibangun BOD sebelumnya, agar program-program TDA dapat berjalan secara berkesinambungan bukan hanya musiman. ''TDA perlu memperluas jaringan lebih banyak lagi ke beberapa Kementrian yang memiliki hubungan dengan kewirausahaan supaya bisa memberikan impact yang lebih besar lagi bagi iklim kewirausahaan di Indonesia,'' ujarnya.
Selain itu, di sisi internal, penguatan pada 3 program yang bisa membantu member TDA bertumbuh bisnisnya. Yaitu Edukasi, Kolaborasi dan Permodalan.
"Di awal member akan memerlukan edukasi untuk mendirikan dan menjalankan bisnis. Setelah itu perlu diberikan peluang untuk berkolaborasi dengan member-member TDA yang lain atau pihak eksternal. Selain kolaborasi, bantuan permodalan juga bisa jadi salah 1 jalan untuk membuat bisnis Member TDA bertumbuh semakin besar," jelasnya.
