Konten Media Partner

Pesta Wirausaha Wajo 2026, Denny Santoso Ungkap Penyebab Bisnis Tak Bertumbuh

TDAverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Pesta Wirausaha Wajo 2026, Denny Santoso Ungkap Penyebab Bisnis Tak Bertumbuh
zoom-in-whitePerbesar

WAJO - Pakar pemasaran dan bisnis, Denny Santoso, hadir memberikan insight strategis bagi para pelaku usaha dalam acara Pesta Wirausaha Wajo 2026 komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA). Dalam sesi materinya, Denny menegaskan bahwa hambatan atau stagnan bisnis sering kali tidak bersumber dari faktor eksternal, melainkan dari “peta” atau pola pikir internal yang belum diperbarui oleh pemilik usaha itu sendiri.

Ia menjelaskan, banyak pelaku usaha tanpa sadar masih terjebak dalam emosi masa lalu yang membentuk cara berpikir dan cara mengambil keputusan hari ini. Trauma kegagalan, pengalaman ditipu, hingga rasa kecewa yang tidak terselesaikan, kerap menjadi beban psikologis yang menghambat pertumbuhan bisnis, meskipun peristiwa tersebut sudah lama berlalu.

“Kita itu sering kali addicted atau kecanduan dengan perasaan masa lalu. Masa depan ingin kaya, tapi yang dirasakan terus perasaan saat ditipu kemarin. Itu tidak nyambung,” ujar Denny di hadapan ratusan peserta.

Menurutnya, jika memori dan persepsi di dalam kepala tidak pernah diperbarui, maka respons seseorang terhadap realitas yang terus berubah akan selalu tidak relevan. Cara berpikir lama yang dipertahankan dalam situasi baru justru membuat seseorang salah membaca peluang dan salah mengambil keputusan.

Pola Pikir Lama Jadi Penghambat Pertumbuhan Bisnis

Denny menekankan bahwa setiap kejadian di dunia sejatinya bersifat netral dan baru memiliki makna setelah manusia memberinya interpretasi. Sebuah peristiwa yang sama bisa dipersepsikan secara berbeda, tergantung sudut pandang, keyakinan, dan identitas seseorang.

Ia mencontohkan fluktuasi nilai tukar dolar yang dapat dianggap sebagai ancaman bagi importir, namun justru menjadi peluang besar bagi eksportir.

“Data itu tidak ada artinya. Begitu masuk ke kepala kita melalui pancaindra, kepala kitalah yang memberi arti berdasarkan belief (keyakinan) dan identitas kita,” jelasnya.

Dalam konteks bisnis, pola pikir inilah yang menentukan apakah seseorang melihat situasi sebagai krisis atau peluang. Tanpa pembaruan cara berpikir, pengusaha berisiko terjebak dalam perspektif lama yang tidak lagi relevan dengan dinamika pasar saat ini.

VAKOG dan Pentingnya Mengelola Emosi dalam Bisnis

Dalam pemaparannya, Denny juga memperkenalkan model VAKOG (Visual, Auditory, Kinesthetic, Olfactory, Gustatory) sebagai cara memahami bagaimana otak manusia merekam pengalaman secara utuh, mulai dari apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dicium, hingga dikecap.

Model ini menjelaskan bahwa pengalaman hidup tersimpan sebagai paket memori lengkap yang membentuk respons emosional dan perilaku seseorang dalam mengambil keputusan.

“Semua perilaku orang, seburuk apa pun caranya, pasti punya niat baik atau intensi positif bagi pelakunya. Jika kita bisa memisahkan antara niat baik dan cara yang salah, kita akan lebih mudah mengelola emosi dalam bisnis,” tambahnya.

Di akhir materi, Denny berpesan agar para wirausahawan terus meningkatkan kapasitas diri dan memperbarui konsep berpikir mereka seiring perubahan zaman. Ia menegaskan bahwa konsep benar dan salah sering kali hanya soal kecocokan informasi dengan standar berpikir yang ada di dalam kepala masing-masing individu.

“Jika Anda ingin bisnis bertumbuh, pastikan meteran atau standar di kepala Anda juga diperbaiki. Jangan sampai Anda memaksa versi ‘benar’ Anda kepada orang lain yang memiliki realitas berbeda,” pungkasnya.