Prosperity Day TDA Jaktim Bekali Pengusaha Strategi Keluar dari Stuck di 2026
·waktu baca 4 menit

JAKARTA TIMUR– Komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Jakarta Timur menggelar acara bertajuk Prosperity Day: Strategi Keluar dari Stuck dan Melejitkan Bisnis di 2026. Kegiatan ini terselenggara melalui kerja sama antara komunitas pengusaha TDA Jakarta Timur dan Bank BTN Cabang Cawang pada 20 Mei 2026.

Bertempat di Yodya Tower, Jakarta Timur, seminar intensif selama dua jam tersebut dihadiri para entrepreneur yang ingin mempercepat pertumbuhan bisnisnya. Acara berlangsung mulai dari sesi pembukaan, pemaparan materi, hingga presentasi solusi finansial dari Bank BTN.
Strategi Membangun Aset dan Mencapai Financial Freedom
Sesi pertama diisi oleh Agung Prasetyo Utomo (APU), pengusaha sekaligus mentor bisnis berpengalaman. Ia membagikan strategi bisnis serta kisah awal perjalanan kariernya yang terinspirasi dari buku legendaris The 7 Habits of Highly Effective People dan Rich Dad Poor Dad.
“Perjalanan bisnis harus memiliki arah yang jelas menuju target akhir permainan hidup atau end of journey,” jelasnya.
APU menekankan pentingnya memahami perbedaan mendasar antara aset dan kewajiban, serta active income dan passive income.
Menurutnya, active income merupakan pendapatan yang sangat bergantung pada waktu dan tenaga, seperti jasa servis laptop, pekerjaan freelance, atau konsultasi.
Sementara itu, passive income adalah pendapatan yang tetap berjalan meski seseorang tidak terlibat secara langsung, seperti investasi, properti, dividen, maupun bisnis yang telah memiliki sistem.
Selain aspek finansial, APU juga membahas konsep tujuh dimensi kehidupan yang perlu dijaga oleh para pengusaha agar mampu mencapai keseimbangan hidup.
“Dimensi tersebut mencakup aspek spiritual, mental atau intelektual, emosional, finansial, sosial, kesehatan, hingga keharmonisan keluarga,” ungkapnya.
Ia mengingatkan bahwa pebisnis tidak seharusnya bekerja hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga membangun sesuatu yang memberikan dampak dan manfaat bagi banyak orang.
Tak hanya itu, materi mengenai tax planning juga dibahas secara mendalam agar para pengusaha siap menghadapi berbagai aturan perpajakan ketika bisnis berkembang semakin besar.
“Pemahaman mengenai aturan PPN 11 persen dan kewajiban menjadi Pengusaha Kena Pajak (PKP) saat omzet menyentuh angka Rp4,8 miliar sangat wajib dikuasai,” katanya.
Pentingnya Mindset dan Wisdom dalam Mengelola Kekayaan
Sesi kedua menghadirkan Henra Sensei, seorang Licensed NLP Coaching Trainer dan Qualified Financial Educator.
Ia mengawali materi dengan menjelaskan perbedaan antara nasib dan takdir. Menurutnya, nasib merupakan hasil dari ikhtiar, keputusan, dan usaha yang dilakukan seseorang.
Henra menjelaskan bahwa kualitas keputusan sangat dipengaruhi oleh mindset, sementara mindset dibentuk oleh kecukupan informasi.
Karena itu, semakin matang pola pikir dan semakin lengkap informasi yang dimiliki, maka kualitas keputusan bisnis yang diambil juga akan semakin baik.
Ia juga membedah perbedaan antara Wealth with Wisdom dan Wealth without Wisdom.
Menurutnya, Wealth with Wisdom ditandai dengan kekayaan yang dimanfaatkan untuk membuka lapangan kerja, membantu keluarga, serta membangun sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.
Sebaliknya, Wealth without Wisdom hanya menjadikan kekayaan sebagai sarana mencari validasi sosial, memuaskan ego, dan mendorong perilaku konsumtif.
Keharmonisan Keluarga Jadi Fondasi Kesuksesan Bisnis
Dalam pemaparannya, Henra juga menyoroti hubungan erat antara keharmonisan rumah tangga dan keberhasilan sebuah bisnis.
“Jadi saya memaparkan lima sumber konflik finansial dalam rumah tangga yang sering merembet ke urusan usaha. Di antaranya adalah unspoken expectations atau harapan yang tidak pernah dikomunikasikan secara terbuka antar pasangan, lifestyle misalignment atau gaya hidup yang tidak sejalan, sense of unfairness atau perasaan tidak adil, control and power struggle, hingga tidak adanya tujuan keuangan bersama,” ungkapnya.
Menurutnya, konflik keuangan dalam keluarga sering kali bukan disebabkan oleh jumlah uang, melainkan perbedaan cara berkomunikasi dan tujuan hidup.
Ia menilai bahwa ketika pondasi kepercayaan antara suami dan istri sudah kuat, keduanya bahkan dapat membangun perusahaan bersama dan bertumbuh secara harmonis dalam menjalankan bisnis.
“Inti utama dari seluruh rangkaian acara Prosperity Day 2026 ini memberikan sebuah kesadaran baru bagi para pelaku usaha. Kekayaan tanpa wisdom bisa merosotkan kualitas hidup, namun kekayaan dengan wisdom akan menjadi alat kebermanfaatan yang luar biasa. Definisi keberhasilan sejati tidak hanya diukur dari tumpukan uang atau tingginya jabatan, melainkan dari dampak nyata dan kualitas diri Anda,” bebernya.
Henra menambahkan bahwa financial freedom yang sesungguhnya adalah ketika seseorang memiliki sistem hidup yang tertata, mampu mengambil keputusan secara bijak, serta memiliki hubungan keluarga yang sehat.
Menutup sesi materinya, ia mengajak para pelaku usaha untuk terus belajar dan bertumbuh bersama dalam komunitas.
“Jika ingin terus belajar dan serius menumbuhkan bisnis di tahun 2026 ini, mari bergabung dengan komunitas TDA Jaktim. Di sini, Anda akan menemukan ekosistem yang sangat suportif, interaktif, dan siap mendampingi perjalanan bisnis Anda ke level berikutnya,” ajaknya.
