Konten Media Partner

Reza Rifyal, Pemilik Konveksi yang Sejak Kecil Sudah Belajar Bisnis

TDAverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Reza Rifyal (kanan). Foto: dok
zoom-in-whitePerbesar
Reza Rifyal (kanan). Foto: dok

BOGOR - Reza Rifyal Akbar merupakan pemilik CV Sablon Bogor, layanan konveksi satu atap di Kota Bogor. Sejak kecil, tepatnya saat duduk di bangku sekolah dasar, dia gemar menekuni bisnis dengan menjual berbagai macam makanan ringan. Mulai dari permen karet hingga tahu isi.

Bahkan, di tengah mengikuti kursus mata pelajaran, dia masih sempat membawa barang dagangan untuk dijual ke teman-temannya. Akhirnya, bisnis tersebut berlanjut hingga dia duduk di bangku SMP.

"Bisnis yang dijalankan dan difokuskan saat ini, berawal dari kesimpulan mantan-mantan bisnis sebelumnya. Setelah berbagai macam jenis bisnis dan usaha yang saya jalankan, menjadi penjual pulsa dan pengepul nomor cantik perdana, kemudian menjual aksesoris mutiara lombok door to door, distributor jam dan aksesoris, menjadi brokerpreneur dan jual segala macam barang sampai membuka angkringan," ujarnya.

CV Sablon Bogor. Foto: dok

Dia menyimpulkan, sebuah proses bisnis harus dijalankan dan dipahami sendiri, dari hulu ke hilir.

Lalu, Reza memutuskan untuk kursus sablon di Lucas SPS Bandung untuk memahami proses dari hilir dan fokus pada sebuah bisnis yang menjadi kebutuhan primer manusia, yaitu kebutuhan sandang.

"Di pertengahan bulan ramadhan tanggal 14 Agustus 2012, tadinya uang dikirimkan oleh orang tua, untuk digunakan beli tiket mudik, tetapi saya urungkan niat untuk mudik. Uang sebesar Rp 2 juta akhirnya saya gunakan untuk kursus sablon," kenangnya.

Setelah selesai kursus, Reza memberanikan diri untuk mulai menawarkan jasa produksi kaos dan sablon ke beberapa relasi. "Dapat beberapa order. Setelah menerima order tersebut, munculah fakta bahwa proses sablon itu tidak gampang dan banyak yang gagal dari hasil produksi," bebernya.

Kerap kali Reza mengganti produk dari konsumen karena sering gagal produksi. Namun, dia tetap berusaha untuk terus belajar dari kesalahan dan memberanikan diri silaturahmi ke beberapa tempat sablon dan konveksi untuk menawarkan kerja sama.

"Saya yang cari orderan, relasi yang mengerjakan, tetapi sampai saat ini faktanya saya tidak bisa menyablon, karena itu tadi, kira-kira proses bisnis seperti apa yang bisa saya pelajari mulai dari hulu ke hilir," bebernya.

Banyak pengalaman yang diperoleh ketika tengah merintis usaha. Salah satunya sering ditipu oleh relasi bisnis, hingga harus mengganti rugi ke konsumen sampai puluhan juta rupiah.

"Salah perhitungan belanja bahan baku, akhirnya harus meminjam uang ke kolega untuk mengganti bahan baku yang terbeli, mengganti total produksi pesanan dari konsumen karena gagal produksi. Pernah juga didatangi oleh polisi preman karena produksi pesanan beliau tidak selesai pada tanggal yang telah ditentukan," katanya.

Di tengah semua kesulitan tersebut, Reza tetap berniat menjadikan konveksinya sebagai usaha yang amanah dan dapat dipercaya.

Seiring berjalannya waktu, bisnisnya mengalami perkembangan hingga akhirnya mulai menjahit kaos sendiri. "Berkat kerja sama ke relasi konveksi lainnya dan beberapa konsumen juga mulai memesan produk yang tadinya tidak pernah kami kerjakan. Dari awalnya kami hanya menerima jasa sablon dan kaos polosan yang dibeli di tempat orang lain," ujarnya.

Saat ini, berbagai macam kebutuhan sandang bisa dia kerjakan, seperti kaos kerah, kemeja formal, jaket bomber, jaket parka, jaket outdoor, jersey, sweater, hoodie, goodie bag, dan lain-lain.

Untuk mengembangkan bisnisnya, dia ingin menambah jangkauan pasar lebih luas. "Lebih banyak instansi pemerintah dan swasta yang terbantukan oleh kami untuk produksi seragam, juga ingin melahirkan brand retail sendiri khusus untuk pakaian tetapi dengan catatan produksi made by order sudah berjalan dengan maksimal," imbuhnya.

Reza membagikan tips menjalankan bisnis, yaitu fokus, berdoa dan selalu berusaha, menjadikan sebuah kesalahan untuk pelajaran.

"Jangan tergoda dengan peluang lainnya yang datang. Seringkali kita tergoda dengan rumput tetangga yang lebih hijau. Fokus pada satu jenis bisnis, jadilah ahli dalam jenis bisnis tersebut hingga orang lain yang melihat anda, akan langsung percaya bahwa anda adalah ahlinya untuk mengerjakan produk yang anda tawarkan," pesannya.

Sementara itu, dia bergabung dengan komunitas Tangan Di Atas (TDA) sejak tahun 2014. Mulai aktif menjadi pengurus di tahun 2015.

Dia mengaku mendapat banyak manfaat dari TDA. Seperti menjalin jaringan bisnis, lingkungan yang positif, dan mendapatkan mentor bisnis.

"Bisnis saya bertahan hingga hampir 9 tahun, semua karena TDA. Di TDA ada salah satu program yang jadi ciri khas, yaitu KMB Kelompok Mentoring Bisnis. Saya dimentoring oleh mentor di Bogor selama 1 tahun. Dari situ banyak diajarkan bagaimana bisnis yang baik, mengelola karyawan, mendapatkan order, dan lain sebagainya," bebernya.

"Hingga saat ini juga, saya masih tergabung dalam KMB bersama Mas Bimo Prasetio, Presiden TDA 5.1," pungkasnya.