Sumatera Survive Trauma Healing #11 Perkuat Pemulihan Warga Padang Pascabencana
·waktu baca 3 menit

PADANG – Upaya pemulihan psikososial bagi warga terdampak bencana kembali diwujudkan melalui kegiatan Sumatera Survive Trauma Healing #11 yang digelar pada Minggu (15/02/2026) di RT 03 RW 12 Baringin, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Sumatera Barat.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Padang melalui Divisi TDA Peduli bersama Dangau Studio, dengan dukungan Kementerian PP BEM KM Politeknik Negeri Padang, Karang Taruna Fajar Menyinsing, serta Rimbo Andalas Project. Sinergi lintas komunitas tersebut menjadi wujud kepedulian bersama dalam membantu pemulihan mental dan sosial warga pascabencana.
Sejak pagi, suasana kebersamaan telah terasa di lokasi kegiatan. Rangkaian acara diawali dengan shalat Dhuha bersama sebagai ikhtiar spiritual untuk menenangkan jiwa dan menguatkan hati warga. Pendekatan ini menegaskan bahwa proses pemulihan tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga pada pemulihan batin dan penguatan harapan.
Pendekatan Spiritual dan Emosional dalam Trauma Healing
Ketua TDA Padang 8.0, Alkausar, menegaskan bahwa trauma healing menjadi bagian penting dalam proses kebangkitan masyarakat pascabencana.
“Kami ingin menghadirkan ruang yang aman dan hangat bagi warga untuk pulih secara perlahan. Pemulihan itu bukan hanya soal materi, tapi juga soal mental, rasa aman, dan harapan untuk kembali menata hidup,” ujar Alkausar.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi ice breaking untuk membangun keakraban antar peserta. Tawa anak-anak dan warga menjadi penanda bahwa semangat untuk bangkit tetap tumbuh di tengah keterbatasan.
Art Therapy dan Ekspresi Diri Anak-anak
Salah satu agenda utama dalam Sumatera Survive Trauma Healing #11 adalah Art Therapy bersama Dangau Studio. Melalui media seni, anak-anak dan warga diajak mengekspresikan emosi serta menyampaikan perasaan yang terpendam.
Pendekatan kreatif ini menjadi sarana penyembuhan luka batin melalui warna dan karya visual. Proses tersebut diharapkan mampu membantu peserta mengelola emosi sekaligus memulihkan rasa percaya diri.
Selain terapi seni, program “Kebun Warga Bencana” turut menjadi bagian penting dalam kegiatan. Aktivitas menanam tidak hanya bermakna simbolis, tetapi juga menyampaikan pesan keberlanjutan bahwa kehidupan dapat kembali tumbuh melalui gotong royong dan kebersamaan.
Yasinan dan Makan Bajamba Perkuat Solidaritas
Suasana semakin khidmat saat kegiatan yasinan dan tausiyah digelar. Doa bersama menjadi ruang refleksi sekaligus penguat solidaritas sosial antarwarga yang terdampak bencana.
Rangkaian acara ditutup dengan makan bajamba, tradisi khas Minangkabau yang menegaskan nilai persaudaraan dan kebersamaan dalam satu hamparan hidangan.
Alkausar kembali menegaskan bahwa Sumatera Survive Trauma Healing bukan sekadar kegiatan sesaat, melainkan bagian dari komitmen jangka panjang.
“Trauma healing adalah sebuah perjalanan. TDA Padang berkomitmen untuk terus hadir, mendampingi, dan menjadi bagian dari proses bangkitnya masyarakat menuju kehidupan yang lebih kuat dan mandiri,” katanya.
Melalui kolaborasi lintas komunitas, Sumatera Survive Trauma Healing #11 membuktikan bahwa kepedulian yang terorganisir mampu menjadi energi besar dalam memulihkan masyarakat. Di tengah luka yang pernah ada, harapan baru terus disulam bersama agar warga dapat bangkit dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik.
