TDA Depok Goes to Baduy, Tutup Kepengurusan 8.0

DEPOK - Komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA) wilayah Depok menggelar Goes To Baduy pada 10–11 Agustus 2026 sebagai penutup perjalanan kepengurusan TDA Depok 8.0.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum pelepasan dan pembubaran kepengurusan 8.0. Rangkaian kegiatan dikemas dalam suasana kebersamaan, refleksi, serta pengalaman sejenak menjauh dari rutinitas dan distraksi gawai.
Perjalanan menuju Baduy Dalam menjadi pengalaman tersendiri bagi para peserta. Dari Cijahe, rombongan menempuh perjalanan trekking sekitar dua jam menuju kawasan Baduy.
Deliyana, Sekretaris TDA Depok 8.0, mengatakan jalur yang dilalui cukup bersahabat. Jalur tersebut juga dapat menjadi pilihan bagi peserta yang baru pertama kali melakukan perjalanan trekking.
Sesampainya di Baduy, peserta merasakan langsung pola kehidupan masyarakat yang sederhana dan jauh dari ketergantungan terhadap teknologi.
“Para peserta menginap di rumah warga tanpa penerangan listrik dan menikmati makanan yang disiapkan oleh tuan rumah. Selain menikmati suasana alam, kegiatan juga diisi dengan interaksi dan obrolan mengenai kehidupan masyarakat Baduy,” jelasnya.
Mengenal Kehidupan Masyarakat Baduy
Peserta mendapatkan wawasan mengenai struktur sosial, kehidupan keluarga, peran kepala suku atau ketua adat, serta cara masyarakat Baduy menjalankan kehidupan sehari-hari dengan memegang teguh aturan dan arahan adat.
Dia menyebut salah satu pengalaman menarik adalah kesempatan memahami bagaimana masyarakat Baduy mempertahankan pola hidup sederhana.
“Informasi mengenai keberadaan lebih dari 600 kepala keluarga di kawasan tersebut turut memberikan gambaran tentang kehidupan komunitas yang tetap menjaga nilai-nilai adat di tengah perkembangan zaman,” terangnya.
Kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengenal dan membeli berbagai produk khas yang dibuat masyarakat setempat. Mulai dari kerajinan dan oleh-oleh khas Baduy hingga madu yang menjadi salah satu produk menarik dari kawasan tersebut.
Menurutnya, lebih dari sekadar perjalanan wisata, TDA Depok Goes To Baduy menjadi ruang untuk mempererat hubungan antaranggota.
Tanpa distraksi gadget dan rutinitas pekerjaan sehari-hari, peserta memiliki lebih banyak waktu untuk berbincang, berbagi cerita, bercanda, dan mengenal satu sama lain secara lebih dekat.
“Lebih kepada kebersamaan. Banyak seru-seruan dan cerita dari satu sama lain karena tidak ada distraksi gadget. Jadi lebih ke bonding,” ungkapnya.
Penutup Perjalanan Kepengurusan 8.0
Dia menyampaikan, bagi TDA Depok, perjalanan ini menjadi penutup yang bermakna bagi kepengurusan 8.0. Setelah menjalani berbagai aktivitas dan dinamika organisasi, para pengurus dan anggota diajak berhenti sejenak, menikmati perjalanan, serta membangun kembali kedekatan dalam suasana yang lebih sederhana.
“TDA Depok Goes To Baduy pada akhirnya bukan hanya tentang mencapai sebuah destinasi. Perjalanan ini menjadi simbol bahwa setelah melewati berbagai proses bersama, kebersamaan, saling mengenal, dan menjaga hubungan antarmanusia tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan komunitas. Para peserta tidak hanya membawa oleh-oleh khas daerah, tetapi juga membawa pengalaman, cerita, dan ikatan kebersamaan yang diharapkan terus terbawa dalam perjalanan TDA Depok ke depan,” pungkasnya.
