TDA Jadoel: Kisah Jatuh Bangun, Integritas, dan Regenerasi 20 Tahun TDA

Jakarta - Suasana hangat dan penuh nostalgia mewarnai Talkshow TDA Jadoel yang digelar dalam rangkaian Pesta Wirausaha Nasional (PWN) TDA 2026 di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), Minggu (21/06/2026).
Menghadirkan sejumlah tokoh senior yang menjadi bagian penting dalam perjalanan Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA), sesi ini menjadi ruang berbagi pengalaman, refleksi perjalanan organisasi, hingga gagasan untuk menjaga keberlanjutan TDA di masa depan.
Dipandu Coach Fauzi Rahmanto, talkshow tersebut menghadirkan Pakde Agus, Pak Iim, Pak Zay, Mustofa Romdloni, Den Bara, Pak Safri, serta sejumlah tokoh TDA lainnya yang berbagi kisah perjuangan mereka dalam membangun bisnis dan komunitas.
Dalam sesi tersebut, Pakde Agus mengenang perjalanan bisnisnya yang penuh lika-liku. Ia bahkan pernah menerima penghargaan unik sebagai pemilik omzet terkecil saat membuka toko bersama anggota TDA di ITC Mangga Dua.
“Waktu itu saya dapat award omzet paling kecil. Saya sampai dikalungin tengkorak. Tapi justru itu yang memacu saya untuk bangkit. Alhamdulillah setelah itu omzet saya bisa jadi yang terbesar,” ujar Pakde Agus yang disambut tepuk tangan peserta.
Menurutnya, kegagalan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang pengusaha. Ia mengaku pernah mengalami kebangkrutan hingga hampir sepuluh kali sebelum akhirnya mampu kembali bangkit.
“Saya hampir 10 kali punya usaha yang jatuh, bangkrut, bangkit lagi. Kalau baru sekali jatuh lalu berhenti, ya selesai. Pengusaha harus tahan banting,” katanya.
Sementara itu, Pak Zay mengenang masa awal perjalanan TDA yang dibangun dengan budaya integritas yang kuat. Menurutnya, salah satu alasan TDA mampu bertahan hingga dua dekade adalah karena organisasi tersebut menjaga kepercayaan dan etika dalam setiap prosesnya.
“Saya percaya organisasi yang dibangun dengan integritas akan bertahan lebih lama. Dasar dari organisasi itu adalah trust. Di era AI seperti sekarang, penegakan etika justru menjadi semakin penting,” ujar Pak Zay.
Ia menilai perkembangan teknologi tidak boleh menggeser nilai-nilai dasar yang selama ini menjadi fondasi komunitas.
Dalam kesempatan yang sama, mantan Presiden TDA Mustofa Romdloni menceritakan momen ketika dirinya terpilih menjadi Direktur Pesta Wirausaha pada 2014 di Lembang, Jawa Barat.
Saat itu, dirinya masih tergolong anggota baru. Namun melalui mekanisme musyawarah dan dukungan anggota, ia dipercaya memimpin salah satu agenda besar TDA.
“Saya waktu itu orang baru. Ketika nama saya disebut dan mendapat tepuk tangan paling banyak, saya kaget. Bahkan setelah terpilih saya masuk kamar hotel dan rasanya mulas karena memikirkan bagaimana menjalankan amanah besar itu,” kata Mustofa.
Menurutnya, budaya regenerasi yang selama ini berjalan menjadi salah satu kekuatan TDA dalam menjaga keberlanjutan organisasi.
“TDA selalu mendorong orang-orang yang dianggap mampu dan memiliki nilai yang sesuai untuk maju. Kemudian ada proses penjaringan dan penilaian dari Majelis Wali Amanah sehingga regenerasi tetap berjalan dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, Den Bara menyoroti pentingnya mempersiapkan generasi penerus TDA. Menurutnya, setelah dua dekade perjalanan komunitas, sudah saatnya anak-anak para anggota TDA diberikan ruang untuk berproses dan membangun jejaring mereka sendiri.
“Kami ingin kebaikan-kebaikan yang ada di TDA ini bisa diteruskan. Banyak anak-anak anggota TDA sekarang sudah SMA bahkan kuliah. Mereka perlu ruang sendiri untuk belajar, berjejaring, dan memimpin,” ujar Den Bara.
Ia mengusulkan penyelenggaraan program khusus seperti Summer Camp bagi anak-anak anggota TDA dari seluruh Indonesia sebagai langkah awal membangun regenerasi komunitas.
“Kami ingin energi positif TDA ini sampai ke generasi berikutnya. Harus ada ruang khusus agar mereka bisa tumbuh dan menjadi penerus TDA di masa depan,” katanya.
Coach Fauzi Rahmanto selaku host menilai sesi TDA Jadoel bukan sekadar ajang nostalgia, tetapi juga menjadi wadah untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan, integritas, dan kepemimpinan yang selama ini menjadi fondasi komunitas.
Menurutnya, kisah para senior TDA menjadi bukti bahwa kesuksesan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang penuh tantangan, kegagalan, dan semangat untuk terus bangkit.
Melalui TDA Jadoel, peserta diajak melihat kembali perjalanan 20 tahun TDA sekaligus menyiapkan langkah menuju dua dekade berikutnya dengan semangat kolaborasi, regenerasi, dan keberlanjutan organisasi.
