TDA Klub Fashion Dorong Pengusaha Bertahan dan Beradaptasi Hadapi Perubahan

Depok - Kemampuan bertahan dan beradaptasi menjadi perhatian dalam kegiatan Komunitas pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Klub Fashion Depok. Kegiatan itu diikuti 20 peserta di Depok, pada Selasa (8/9/2026). Peserta diajak memahami strategi menghadapi perubahan pasar, krisis, hingga persoalan cashflow.
Ketua TDA Klub Fashion Depok Titi Nadianti, owner Fausta Kids, mengatakan kegiatan tersebut menghadirkan sharing pengalaman dari Safri, Erita, dan Dafi.
Pembahasan tidak hanya berfokus pada pertumbuhan bisnis, tetapi juga cara mempertahankan usaha ketika menghadapi perubahan dan badai.
“Bukan sekadar tumbuh, tetapi mampu bertahan dalam sesi bertahan, beradaptasi, dan bertumbuh,” jelasnya.
Pak Safri dan Bu Erita membagikan pengalaman perjalanan mereka membangun bisnis. Salah satu hal penting yang ditekankan adalah pentingnya data driven dalam mengambil keputusan.
Dalam bisnis fashion, pengusaha perlu mampu membaca produk mana yang menjadi TOP dan mana yang masuk kategori FLOP.
Menurut Titi, produk TOP perlu terus diuji dan diulang untuk menemukan pola keberhasilannya. Sementara produk yang tidak memberikan hasil harus dievaluasi dan, jika tidak layak dilanjutkan, dihentikan.
“Keputusan bisnis bukan semata-mata berdasarkan produk yang kita sukai, tetapi berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh data,” terangnya.
Menurutnya, kemampuan membaca perubahan menjadi kunci ketika kondisi pasar berubah. Pengalaman saat pandemi menjadi salah satu contoh adaptasi tersebut.
Ketika kebutuhan masyarakat bergeser ke makanan yang lebih praktis dan instan, peluang itu dimanfaatkan dengan mencoba bisnis frozen food sebagai salah satu cara mempertahankan keberlangsungan usaha.
Pengalaman tersebut juga dikaitkan dengan pentingnya persistensi dan daya tahan dalam menghadapi perubahan. Tujuan tidak harus berubah ketika kondisi berubah, tetapi cara untuk mencapainya perlu disesuaikan.
Kisah tersebut juga tercermin dalam perjalanan umrah keluarga. Saat dana yang tersedia baru mencukupi kebutuhan visa, tiket, dan hotel, keterbatasan itu tidak menjadi alasan untuk menyerah.
Pak Safri kemudian memilih menjual tujuh pasang sepatu miliknya untuk mendapatkan tambahan biaya. Menurutnya, pengalaman itu menunjukkan bahwa selalu ada cara untuk mencapai tujuan meski dihadapkan pada keterbatasan.
“Ada tujuan, ada keterbatasan, tetapi selalu ada cara,” bebernya.
Sementara itu, Dafi membahas fase menghadapi krisis melalui sesi when the storm comes. Ia mengangkat paradoks pertumbuhan bisnis yang terlalu cepat tanpa diimbangi fondasi kuat.
Pengalaman di Otvit menjadi salah satu pembelajaran mengenai pentingnya sistem, fondasi, dan cashflow yang sehat. Bisnis yang terlihat kuat ketika kondisi baik dapat menjadi rapuh saat menghadapi turbulensi.
Saat badai datang, prioritas bisnis menurut Dafi harus berubah. Fokus bukan lagi semata-mata mengejar pertumbuhan.
Bisnis harus dipastikan mampu survive. Caranya dengan kembali membuka data dan menemukan winning product.
Aktivitas yang tidak menghasilkan dihentikan. Efisiensi dilakukan dan cashflow dijaga. Bila diperlukan, kewajiban bisnis dinegosiasikan.
Setelah melewati fase kritis, bisnis perlu masuk tahap stabilize. Cashflow kembali ditata, proyeksi dibuat, dan berbagai skenario diperhitungkan. Ketika bisnis mulai stabil, pengusaha memiliki ruang untuk mengantisipasi perubahan.
Membangun kembali bisnis juga tidak sekadar mengembalikannya seperti sebelumnya.
Menurut Dafi, fase tersebut menjadi kesempatan untuk membangun bisnis yang lebih kuat. Caranya melalui fokus ulang, repositioning, membangun engine baru, serta menyesuaikan bisnis dengan kebutuhan pasar.
“Dari sinilah krisis dapat membuka peluang yang sebelumnya tidak terlihat. Maka perjalanan bisnis tidak selalu harus berjalan dalam pola Grow → Grow → Grow,” ungkapnya.
Ia mengatakan, ada kalanya pengusaha harus melewati fase SURVIVE → STABILIZE → REBUILD → FIND NEW DIRECTION. Pesan itu sejalan dengan kutipan Nietzsche, “What doesn’t kill you makes you stronger.”
Bagi peserta TDA Klub Fashion, pembelajaran tersebut mencakup pentingnya data dalam mengambil keputusan, pengalaman dalam membaca konteks, serta kemampuan agile dan adaptive agar bisnis tetap relevan menghadapi perubahan.
