Konten Media Partner

TDA Malang Gelar Bedah Buku Good to Great

TDAverified-green

ยทwaktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Bedah buku TDA Malang dengan pengumas Irham Thoriq. Founder Tugu Media Group. dok
zoom-in-whitePerbesar
Bedah buku TDA Malang dengan pengumas Irham Thoriq. Founder Tugu Media Group. dok

MALANG - Komunitas Tangan Di Atas (TDA) Malang menggelar bedah buku dengan judul Good to Great dibawakan oleh Irham Thoriq, Founder Tugu Media Group yang dilakukan secara online melalui WhatsApp diikuti oleh member TDA Malang.

Thoriq sapaan akrabnya menjelaskan jika telah membaca buku bersampul merah dengan judul Good to Great sekitar satu tahun silam. Adapun kata kunci dalam buku bacaan tersebut terdapat 2 kata, yaitu bagus dan hebat.

Menurutnya, buku karya Jim Collins sangat menarik. Sebagaimana judul buku tersebut ingin memandu pembaca bagaimana memimpin perusahaan atau instansi apapun dari bagus ke hebat.

" Terdapat 9 bab dalam buku ini. Saya izin merangkum beberapa ya yang menurut saya penting baru saya buka lagi, tadi sore. Jadi rada lupa - lupa ingat, sehingga mohon dimaafkan jika yang saya sampaikan tIdak paripurna," jelasnya.

Toriq memaparkan grafik yang dibuat oleh penulis yakni, perusahaan bagus seperti grafik paling bawah yaitu mereka yang gagal membuat lompatan. Sedangkan grafik yang naik turun, hingga naik dratis adalah perusahan hebat yang selalu membuat lompatan, dan mayoritas berhasil dalam melompatan.

" Ada beberapa prinsip yang membuat perusahaan berhasil hijrah dari bagus ke hebat nah, buku ini hendak membahas kenapa ada perusahaan yang sekedar bagus, dan kenapa ada perusahaan hebat," ujarnya.

Sesuai dengan buku tersebut Thoriq menyampaikan pada bab 1 Bagus Adalah Musuhnya Hebat, dari bagus menjadi hebat, inilah point-nya. "Sebagaimana pada lembar pertama buku ini, Jim Collins menulis kata-kata keren kita tidak mempunyai pemerintah yang hebat karena kita hanya punya pemerintah yang bagus. Hanya sedikit orang yang mengalami kehidupan yang hebat, terutama karena demikian mudah untuk nyaman dengan hidup yang bagus,"jelasnya.

Mayoritas perusahaan tidak pernah menjadi hebat persis, karena mayoritas menjadi sekedar bagus-dan itulah masalah utama mereka. Perusahaan bagus gagal melakukan lompatan-lompatan.

"Sedangkan perusahaan hebat berhasil melakukan lompatan. Contoh perusahaan bagus ke hebat sebagaimana dicantumkan dalam buku ini adalah General Electric (GE), perusahaan yang didirikan Thomas Alfa Edison, penemu lampu,"terangnya.

Thoriq mengatakan penulis buku mengibaratkan, jika investasi di GE selama 15 tahun, maka investasi akan berlipat sebanyak 471 kali. Penulis dalam menulis buku tersebut membentuk 21 tim untuk melakukan penelitian perusahaan dari bagus ke hebat.

"Tidak ada pola sistematis yang mengaitkan kompensasi tertentu terhadap perubahan dari bagus ke hebat. Artinya, tidak ada kaitan menambah bonus direksi atau pimpinan dengan kinerja perusahaan. Buku ini menyebut bahwa kompensasi yang menyebut akan berdampak pada kinerja, selama ini hanya asumsi belaka tdak ada data," beber founder Tugu Media Grup.

Sementara itu, Thoriq menjabarkan hasil penelitian yaitu pemimpin selebritis legendaris yang datang dari luar perusahaan, ternyata berkolerasi negatif dalam upaya menjadikan perusahaan dari bagus ke hebat. 10 dari 11 CEO Hebat, datang dari internal perusahaan.

"Bukan dari luar perusahaan yang di hire untuk menjadi CEO dadakan teknologi dan perubahan akibat teknologi sama sekali tidak ada kaitannya dalam hal transformasi. Menurut buku ini, teknologi bisa membuat perusahaan bagus menjadi hebat, tapi teknologi saja tdak cukup. Harus ada hal2 hebat lain yang mendukung perusahan menjadi hebat," paparnya.

Selain itu, perusahaan yang hebat tidak harus berada dalam industri yang hebat. Bahkan, beberapa diantaranya berada pada industri yang terpuruk.

"Jadi, intinya kejayaan bukan disebkan keadaan, tapi upaya yang dilakukan. Jadi, berada di industri hebat, belum tentu menjadi perusahaan yang hebat. Perusahaan yang bagus tidak berfokus pada apa yang harus dilakukan untuk menjadi hebat. Sebaliknya, mereka memberi fokus seimbang terhadap apa yang jangan dilakukan, dan apa yang tidak boleh lagi dilakukan. Singkatnya, perusahaan hebat tidak mengulangi kesalahannya," terangnya.

Menurutnya, prinsip lain yang paling penting dalam buku ini adalah soal tipe kepemimpinan. Dalam buku tersebut juga membahas soal kepemimpinan, yang memang hal paling penting dan fundamental dari sebuah organisasi, termasuk perusahaan.

"Ini bagian terpenting dari buku ini. Bahwa, perusahaan yang hebat Memipliki pemimpin dengan level 5. Pemimpin level 5 ini mayoritas bukan selebritis, atau pemimpin yang sering masuk tajuk utama di media pemimpin level ini, kebanyakan seperti mereka yang datang dari mars. Mereka pendiam, tidak menonjolkan diri, menahan diri, bahkan pemalu. Pemimpin level ini mempunyai sikap kerendaan hati, sikap kerendahan hati yang luar biasa,"paparnya.

Dalam buku tersebut, dijelaskan bahwa manusia bukan aset perusahaan. Namun, hanya manusia yang tepat yang merupakan aset perusahaan.

"Dijelaskan bahwa, perusahaan yang hebat jika ibaratkan naik bus, sopir bus menurunkan penumpang yang tidak tepat. Baru setelah itu berjalan jadi bukan menentukan tujuan dulu, tapi menentukan tim dulu, baru setelah itu menentukan tujuan,"katanya.

Tak hanya itu dalam mencapai tujuan hebat, perusahan yang hebat mempunyai pemimpin yang tegas, tapi tidak kasar. Dijelaskan bahwa, kasar adalah memangkas dan membuang tim, terutama dalam massa-massa sulit.

Sedangkan tegas, mempunyai standar-standar tertentu untuk mengeluarkan orang. Dengan demikian, orang-orang terbaik tidak perlu khawatir akan dikeluarkan dari perusahaan hebat.

**Produksi konten ini berkat kerja sama TDA 7.0 dengan tugumalang.id