TDA Perempuan Denpasar Gelar Seminar Special Needs Child Care di Bali
·waktu baca 3 menit

Denpasar - Komunitas Pengusaha Tangan Di Atas (TDA) Perempuan Denpasar menggelar The Special Needs Child Care Seminar sebagai langkah konkret meningkatkan pemahaman dan kompetensi pengasuhan anak berkebutuhan khusus secara profesional dan berempati. Kegiatan ini berlangsung pada Minggu (15/02/2026) di Meeting Room Hotel Neo+ Kuta–Legian, Bali.
Seminar yang diikuti 26 peserta perempuan tersebut menyasar kalangan nanny, babysitter, caregiver, serta orang tua. Kegiatan ini juga melibatkan empat tim dari Bali Royal Hospital Denpasar sebagai mitra tenaga kesehatan.
Ketua TDA Perempuan Denpasar, Veronica Moersito, menjelaskan bahwa seminar ini dirancang sebagai ruang belajar yang aman dan inklusif bagi para pengasuh anak. Ia menilai peran nanny dan babysitter sangat strategis dalam proses tumbuh kembang anak, termasuk bagi anak berkebutuhan khusus.
“Edukasi seperti ini penting agar para nanny dan babysitter tidak hanya bekerja dengan keterampilan, tetapi juga dengan hati dan pemahaman mendalam tentang kebutuhan setiap anak yang pastinya berbeda-beda,” ujar Veronica Moersito, yang juga Owner Bali Angel Holiday dan Founder Bali Nanny Community.
Ia menambahkan, tujuan utama kegiatan ini adalah membekali peserta dengan ilmu berbasis psikologi serta pendekatan pengasuhan yang manusiawi, sehingga kualitas layanan childcare di Bali semakin meningkat.
Penguatan Self-Compassion dan Pemahaman Ragam ABK
Seminar menghadirkan narasumber dari tim Psikolog Bali Royal Hospital Denpasar, Ayu Paramita Antari, M.Psi. Dalam pemaparannya, Ayu menyoroti dua fokus utama, yakni pentingnya self-compassion bagi pengasuh serta pemahaman menyeluruh mengenai ragam anak berkebutuhan khusus.
“Self-compassion sangat penting agar pengasuh mampu menerima diri tanpa menghakimi, menjaga kesehatan mental, dan tetap memiliki hati terbuka saat menghadapi tantangan pekerjaan,” jelas Ayu.
Selain itu, peserta mendapatkan edukasi mengenai berbagai jenis anak berkebutuhan khusus, antara lain:
• Hambatan kognitif dan perkembangan
• Gangguan spektrum autisme
• ADHD
• Gangguan belajar spesifik
• Hambatan sensorik dan fisik
Materi juga dilengkapi dengan pengenalan tanda-tanda awal, teknik komunikasi yang tepat, serta pendekatan pengasuhan yang aman dan penuh kasih.
Ayu mengaku merasa terhormat dapat terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Saya sangat bahagia bisa menjadi bagian dari semangat belajar Bali Nanny Community yang peduli terhadap pendampingan keajaiban tumbuh kembang anak,” tuturnya.
Kolaborasi dengan Bali Royal Hospital
Kegiatan yang berlangsung pukul 14.00 hingga 17.30 WITA ini dipandu oleh MC Dwi Fajar Nofianah. Rangkaian acara meliputi pengenalan peserta dan pembicara, pemaparan materi selama kurang lebih dua jam, sesi tanya jawab, serta sesi berbagi pengalaman dari para nanny.
Dari pihak Bali Royal Hospital, Ni Komang Yulyani, S.Tr.Par selaku Marketing BROS, menyampaikan bahwa keterlibatan rumah sakit dalam kegiatan edukatif menjadi bagian dari tanggung jawab sosial kepada masyarakat.
“Menjadi rumah sakit pilihan masyarakat adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar. Kepercayaan ini memotivasi kami untuk terus menjaga kualitas pelayanan dan menghadirkan health talk yang akurat dan mudah dipahami, termasuk kemarin saat sharing terkait special needs,” ujarnya.
Ia berharap ilmu yang diperoleh peserta dapat diterapkan secara nyata dalam pendampingan anak, sekaligus mendorong Bali Nanny Community terus menjadi komunitas terpercaya di bidang childcare.
Komitmen Mewujudkan Lingkungan Inklusif di Bali
Para peserta menyambut positif penyelenggaraan seminar ini. Salah satu peserta menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi ruang belajar yang bermakna bagi nanny dan babysitter.
“Ini adalah ruang belajar yang hanya ada karena ada pihak di balik layar yang memahami bahwa nanny dan babysitter layak mendapat akses belajar, layak berkembang, dan layak dihargai karena mereka bagian penting dari tumbuh kembang anak,” ungkapnya.
Melalui seminar ini, TDA Perempuan Denpasar menegaskan komitmennya untuk terus berkolaborasi dengan komunitas perempuan, tenaga kesehatan, dan praktisi childcare dalam menciptakan lingkungan yang lebih inklusif serta ramah bagi anak-anak di Bali, khususnya anak berkebutuhan khusus.
Ke depan, peserta berharap kegiatan serupa dapat lebih sering diselenggarakan karena dinilai memberi manfaat nyata, baik secara keilmuan maupun emosional, bagi para pengasuh anak.
