Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.98.2
Konten dari Pengguna
Pelatihan Hidroponik dari Botol Bekas & Pembuatan Pestisida Nabati dari Alang2
26 Februari 2025 10:42 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Muhammad Naufal Aqil tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Desa di Wringinsongo, Kec. Tumpang oleh Mahasiswa KKN Universitas Muhammadiyah Malang.
ADVERTISEMENT
Tumpang, 14 Februari 2025 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang tergabung dalam kelompok 82 telah sukses menyelenggarakan pelatihan untuk masyarakat Desa Wringinsongo, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Kegiatan yang bertujuan untuk pemberdayaan masyarakat tersebut meliputi pelatihan mengenai teknik hidroponik menggunakan botol bekas serta pembuatan pestisida nabati dari alang-alang. Pelatihan ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan keterampilan bertani masyarakat, tetapi juga untuk memberikan solusi yang ramah lingkungan dengan memanfaatkan bahan-bahan yang mudah didapat.
Hidroponik merupakan salah satu metode pertanian yang semakin populer karena kemampuannya untuk menanam tanaman tanpa memerlukan tanah. Teknik ini sangat cocok untuk daerah dengan keterbatasan lahan pertanian, seperti di perkotaan atau daerah yang memiliki tanah yang kurang subur. Mahasiswa KKN UMM memperkenalkan cara membuat sistem hidroponik sederhana dengan menggunakan botol bekas. Botol bekas yang biasanya dibuang begitu saja, kini dapat dimanfaatkan menjadi media tanam yang efektif dan efisien.
ADVERTISEMENT
Pelatihan dimulai dengan penjelasan mengenai prinsip dasar hidroponik, yaitu menanam tanaman menggunakan air yang kaya akan nutrisi, tanpa media tanah. Mahasiswa KKN mengajarkan warga untuk memanfaatkan botol bekas sebagai wadah tanaman, dengan cara memotong bagian atas botol dan mengisinya dengan air nutrisi. Setelah itu, tanaman ditanam di bagian atas botol, dan akar tanaman tumbuh dalam air yang mengandung nutrisi tersebut. Salah satu kelebihan dari metode ini adalah tanaman dapat tumbuh dengan cepat dan sehat meskipun dengan lahan yang terbatas.
Dalam pelatihan ini, warga diajarkan untuk menanam beberapa jenis sayuran yang mudah tumbuh dengan hidroponik, seperti sawi, kangkung, dan selada. “Dengan menggunakan botol bekas yang ada di rumah, kita bisa memulai berkebun tanpa harus membeli perlengkapan mahal. Ini adalah solusi yang ramah lingkungan dan hemat biaya,” ujar Aqil, salah satu mahasiswa KKN yang memberikan penjelasan tentang teknik hidroponik tersebut.
ADVERTISEMENT
Selain itu, pelatihan juga mencakup pembuatan pestisida nabati dari alang-alang. Di Indonesia, alang-alang sering dianggap sebagai gulma atau tanaman yang tidak berguna. Namun, melalui penelitian dan pengembangan, ternyata alang-alang memiliki potensi untuk dijadikan pestisida alami yang dapat digunakan untuk mengendalikan hama tanaman tanpa mengandalkan bahan kimia berbahaya. Pestisida nabati ini dibuat dengan cara merebus alang-alang bersama dengan beberapa bahan alami lainnya seperti daun neem dan bawang putih. Hasilnya adalah pestisida alami yang tidak hanya aman bagi lingkungan, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas hasil pertanian tanpa menambah beban bagi kesehatan masyarakat.
Pelatihan pembuatan pestisida nabati ini sangat disambut antusias oleh warga, mengingat banyaknya petani di sekitar desa yang menggunakan pestisida kimia untuk menjaga tanaman mereka. Dengan adanya alternatif pestisida nabati ini, diharapkan mereka dapat mengurangi ketergantungan pada bahan kimia yang bisa berdampak buruk bagi tanah dan kesehatan. Mahasiswa KKN menjelaskan bahwa penggunaan pestisida nabati tidak hanya aman, tetapi juga dapat mengurangi biaya produksi bagi petani.
ADVERTISEMENT
Setelah sesi teori, pelatihan dilanjutkan dengan sesi praktik, di mana warga secara langsung membuat sistem hidroponik menggunakan botol bekas dan juga meracik pestisida nabati dari alang-alang. Warga pun terlibat aktif dalam proses ini, mulai dari memotong botol, mengisi air nutrisi, hingga menanam benih tanaman dalam botol bekas yang telah disiapkan. Mereka juga mempraktikkan cara pembuatan pestisida nabati, dengan mengikuti petunjuk yang diberikan oleh mahasiswa KKN. Kegiatan ini disambut dengan antusiasme tinggi dari para peserta yang banyak memberikan pertanyaan dan berbagi pengalaman terkait pertanian di sekitar mereka.
Pak Zainul, salah satu warga yang ikut dalam pelatihan ini, mengungkapkan rasa syukurnya atas kegiatan yang telah diselenggarakan. “Sebelumnya saya hanya tahu cara bertani secara konvensional, dengan memanfaatkan lahan yang luas. Namun, setelah mengikuti pelatihan ini, saya baru menyadari bahwa bertani dengan sistem hidroponik atau menggunakan bahan alami seperti alang-alang sebagai pestisida sangat mudah dan ramah lingkungan. Saya rasa ini akan sangat membantu kami dalam bertani dengan cara yang lebih modern dan lebih sehat.”
Bagi mahasiswa KKN, pelatihan ini menjadi salah satu wujud nyata dari salah satu tujuan KKN, yaitu mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah untuk memberikan solusi kepada masyarakat. Melalui pelatihan ini, mahasiswa KKN berharap agar masyarakat Desa Wringinsongo dapat memperoleh pengetahuan baru yang berguna dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi mereka yang memiliki lahan terbatas atau yang ingin mencoba bercocok tanam dengan cara yang lebih ramah lingkungan.
ADVERTISEMENT
Kegiatan pelatihan ini diakhiri dengan sesi diskusi, di mana warga mengungkapkan harapan mereka untuk adanya pelatihan lanjutan mengenai pertanian berkelanjutan. Mahasiswa KKN berkomitmen untuk terus mendampingi dan memberikan bimbingan kepada masyarakat Desa Wringinsongo, agar mereka dapat semakin mandiri dalam mengelola pertanian secara efisien dan ramah lingkungan.
Dengan pelatihan hidroponik dari botol bekas dan pembuatan pestisida nabati dari alang-alang, mahasiswa KKN UMM berharap dapat memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan kualitas pertanian di Desa Wringinsongo. Semoga kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi desa-desa lainnya untuk menerapkan teknik-teknik pertanian yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.