Konten dari Pengguna

Efek Deindividuasi dan Krisis Empati Digital di Media Sosial

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adelia Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Trial by netizen atau penghakiman massal di ruang digital terjadi ketika jempol lebih cepat dari nalar, ruang digital pun dapat berubah menjadi pengadilan massa. Ini menjadi sebuah tinjauan etis dan juga dampak psikologis terhadap realitas komunikasi massa kita hari ini.

Trial by Netizen: Efek Deindividuasi dan Krisis Empati Digital di Media Sosial (Foto : AI)
zoom-in-whitePerbesar
Trial by Netizen: Efek Deindividuasi dan Krisis Empati Digital di Media Sosial (Foto : AI)

Langkah pertama yang harus dilakukan, dengan mencobmencobaa mengingat kembali kapan terakhir kali anda melihat sebuah video viral yang berdurasi kurang dari satu menit di lini masa anda. Dimana dalam hitungan detik, jari anda mungkin sudah otomatis mengetik komentar yang berisikan sebuah penghakiman cepat tentang siapa yang salah dan juga siapa yang benar. Kita mungkin merasa puas, karena merasa sudah menegakkan keadilan di ruang digital.

Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan juga bertanya pada diri sendiri. Apakah kita sedang melihat kebenaran yang utuh, atau hanya sebuah potongan realitas yang dirancang untuk memuaskan ego saja? Saat ini kita hidup di era dimana kontrol sosial tidak lagi dipegang oleh nalar dalam diri kita, melainkan oleh jutaan jempol anonim. yang dimana setiap hari, kita menyaksikan ritual trial by netizen, dimana seseorang bisa saja dihancurkan mentalnya hanya karena satu klip yang kehilangan konteks. Yang terjadi sesungguhnya bukanlah pencarian kebenaran, melainkan hilangnya empati dan juga rasa kemanusiaan. Di ruang digital, kita tidak lagi berinteraksi dengan sesama manusia, melainkan kita sedang dilebur menjadi kerumunan tanpa wajah yang bergerak atas nama ilusi dari sebuah kebenaran.

Matinya Konteks di Era Kecepatan

Fenomena seperti trial by netizen yang terjadi pada saat ini tidak lahir dari ruang hampa. melainkan tumbuh subur di ekosistem media sosial yang dimana mendewakan kecepatan di atas kebenaran. Dalam budaya real time hari ini, sebuah informasi tidak lagi diberi waktu untuk bernafas sejenak. Karena apa yang terjadi sebelum klarifikasi dari pihak yang terdampak sempat disiapkan, sebelum fakta-fakta pendukung berhasil dikumpulkan, vonis sosial sudah lebih dulu dijatuhkan oleh ribuan jempol yang tidak sabar untuk memberikan komentar.

Kita bisa melihat pola ini berulang kali dalam berbagai kasus viral yang sering terjadi di Indonesia. Sebut saja, misalnya ketika seorang pelaku UMKM kecil dimana tiba-tiba menjadi sasaran kemarahan massal, hanya karena sebuah potongan video yang menunjukkan dirinya sedang terlihat membanting barang, yang dimana padahal konteks sebenarnya adalah ia sedang membersihkan tokonya dari barang-barang yang rusak. Atau ketika seorang mahasiswa yang dihujat habis-habisan karena unggahannya yang dianggap arogan, padahal itu hanyalah sebuah potongan video dari candaan privat yang diambil di luar konteks. Dan dalam hitungan jam, reputasi yang sudah dibangun bertahun-tahun runtuh oleh vonis digital yang terjadi.

Kecepatan ini pun yang menjadi sebuah harga yang mahal karena matinya sebuah konteks. Dimana sebuah cerita yang seharusnya dipahami dalam kerumitannya, dan dengan latar belakang tekanan, sejarah konflik, atau situasi darurat yang dimana memaksa seseorang bertindak di luar nalar, karena hasil dari direduksi nya sebuah video utuh menjadi sekadar potongan video 15 detik atau tangkapan layar yang terisolasi. Banyak dari netizen tidak lagi melihat manusia dengan segala kerentanannya, mereka hanya melihat objek yang bisa dihakimi berdasarkan satu momen yang kebetulan terekam kamera.

Di sinilah letak tragedi etika kita hari ini. Ketidaktahuan akan sebuah kebenaran, yang seharusnya menjadi alasan untuk berhenti berkomentar, justru diubah menjadi bahan bakar untuk terus menyebarkan kebencian. Alih-alih bertanya, Apakah ada sisi lain dari cerita ini?, pertanyaan yang muncul adalah, Bagaimana saya bisa ikut menyalurkan kemarahan saya? Realitas etika telah menjadi terbalik, dimana berempati dianggap lamban, sementara menghakimi tanpa bukti dianggap sebagai bentuk keberanian moral.

Lalu Mengapa Orang Baik Dapat Berubah Menjadi Kejam?

Lantas, mengapa orang-orang yang ada pada dunia nyata yang mungkin dikenal sopan dan juga berempati, bisa berubah menjadi begitu kejam di kolom komentar? Jawabannya ada pada dua mekanisme psikologis yang bekerja secara simultan, yaitu deindividuasi dan efek disinhibisi online. Yang pertama, kita sedang mengalami fenomena deindividuasi. Dimana di media sosial, identitas personal lebur ke dalam anonimitas yang menjadi kerumunan digital.

Seperti ketika seseorang merasa hanya menjadi satu dari ribuan akun yang berkomentar, yang menyebabkan rasa tanggung jawab pribadi atau personal accountability menguap. Mereka tidak lagi merasa bersalah karena sudah ikut menghakimi, seolah-olah dosa itu ditanggung secara bersama oleh massa. Dan yang kedua, layar ponsel yang saat ini kita tatap bertindak sebagai perisai yang dapat mematikan empati seseorang. Dan dalam psikologi komunikasi, ini disebut sebagai online disinhibition effect. Karena tidak ada nya kontak mata, tidak ada nya suara, dan tidak ada nya air mata korban yang terlihat secara langsung, maka pikiran kita gagal untuk memproses bahwa di balik akun yang kita serang ada seorang manusia yang sedang terluka.

Dan pada saat itu juga jempol kita dengan mudah mengetik kata-kata yang mungkin saja tidak akan pernah berani kita ucapkan jika berhadapan tatap muka secara langsung.

Topeng Moralitas dan Panggung Validasi

Namun, ada sebuah pertanyaan yang lebih mengerikan. Lalu mengapa mereka merasa beralasan saat melontarkan kata-kata kejam tersebut? Jika kita perhatikan sejenak, banyak sekali komentar pedas yang dimana sering kali diakhiri dengan kalimat atau frasa seperti “ini demi kebaikanmu”, atau “supaya dia sadar”. Dalam sebuah psikologi, menurut Albert Bandura dimana ia menyebut mekanisme ini adalah sebagai Pelepasan moral atau disebut moral disengagement, adalah sebuah proses dimana individu membungkus perilaku destruktif mereka dengan topeng kebajikan. Dan kebencian di rebranding sebagai pemberian pelajaran serta kekejaman dilabeli ulang sebagai kontrol sosial. Dengan cara ini, banyak dari mereka tidak lagi merasa sedang menyakiti seseorang dan mereka malah merasa sedang menegakkan nilai moralitas.

Namun, jika kita coba bedah lebih dalam lagi, topeng ini memiliki fungsi ganda yang lebih gelap. Dimana pertama, ia berfungsi sebagai tameng defensif agar si penghakim tidak mendapatkan judgment balik dari netizen lain yang mungkin malah menuduhnya membela yang salah. Dan yang kedua, ia juga dapat berfungsi sebagai undangan mobilisasi sebuah sinyal kebajikan atau virtue signaling yang mengajak orang lain untuk ikut serta bergabung dalam kerumunan.

Di sinilah letak tragedi etika yang terjadi sesungguhnya. Dimana dalam panggung moralitas digital ini, korban tidak lagi dilihat sebagai manusia yang memiliki perasaan dan tidak memiliki sisi kebenaran yang harus didengar. Korban hanya menjadi sebuah alat peraga dalam sebuah pertunjukan, dimana para netizen dapat saling memvalidasi kebaikan mereka satu sama lain. Karena yang penting bukan lagi sebuah keadilan, melainkan siapa yang paling terlihat benar di mata massa.

Algoritma dan Ekonomi Perhatian

Pada dasarnya, media sosial seharusnya menjadi ruang demokratis untuk mencari sebuah informasi dan juga kebenaran. Namun realita etika yang terjadi hari ini lebih banyak menunjukkan bahwa banyak sekali netizen yang telah menyalahartikan fungsi dari media sosial tersebut. Mereka tidak lagi mencari kebenaran melainkan mereka terjebak dalam logika popularitas. Dimana sebuah narasi tidak lagi dinilai dari akurasi faktanya, tetapi dari seberapa banyak likes, shares, dan komentar yang berhasil dikumpulkannya. Karena itu juga viralitas telah menggantikan verifikasi. Namun, akan tidak adil jika kita hanya menyalahkan netizen saja. Karena di balik perilaku ini, bekerja sebuah mesin yang tak terlihat, yang jauh lebih dingin ia adalah algoritma.

Platform seperti media massa digital, tidak dirancang untuk memprioritaskan kebenaran. Melainkan mereka dirancang untuk dapat memaksimalkan engagement atau keterlibatan pengguna. Dan yang menjadi ironisnya ialah, sistem ini belajar bahwa emosi negatif yang ada seperti kemarahan dan penghakiman adalah bahan bakar engagement yang paling efisien. Akibatnya terciptalah sebuah lingkaran setan. Dimana algoritma secara sistematis sering menyodorkan konten-konten yang paling memancing emosi ke lini masa kita, sementara itu netizen yang haus akan validasi dalam bentuk like dan juga persetujuan dari massa dengan senang hati ikut juga mengamplifikasinya.

Dan dalam ekosistem ini juga, kebenaran serta etika tidak lagi memiliki nilai tukar. Karena yang menang hanyalah siapa yang paling keras berteriak, dan juga siapa yang paling cepat menghakimi. Sedangkan korban sekali lagi, menjadi tumbal di tengah perhatian yang terjadi secara kejam.

Etika Jeda, Perlawanan di Tengah Kerumunan

Coba kita renungkan kembali jika kita menatap lebih dalam ke dalam layar handphone kita, sesungguhnya yang terjadi kita tidak sedang melihat orang lain melainkan kita sedang menatap refleksi kerentanan pada diri kita sendiri. Karena roda algoritma dan juga budaya viralitas terus berputar tanpa pandang bulu. Siapa yang hari ini kita hakimi dengan kejam atas nama kebenaran, bisa saja jadi diri kita, keluarga kita, atau orang yang kita cintai di esok hari, karena ketika narasi tersebut berbalik arah dan kita kehilangan konteks untuk dapat membela diri. Dalam ekosistem yang terjadi pada komunikasi massa kontemporer, tidak ada satu pun dari kita yang memiliki kekebalan terhadap giliran untuk menjadi korban. Oleh karena itu, etika di ruang digital bukan lagi sekadar persoalan sopan santun saja. Karena keadilan yang ditegakkan dengan cara meremukkan mental seseorang, yang dilangsungkan tanpa adanya sebuah ruang pembelaan, bukanlah keadilan.

Ia hanyalah vandalisme verbal yang memang dilembagakan oleh teknologi. Maka dari itu tugas terbesar kita hari ini adalah dengan melakukan re-humanisasi dimana kita memaksa diri kita untuk melihat kembali manusia utuh di balik piksel-piksel yang kita serang tersebut. Namun, perlawanan terhadap sistem yang sudah rusak ini tidak harus dimulai dari hal yang besar. Karena ditengah kekacauan algoritma yang memancing emosi, kita masih memegang satu senjata yang paling purba dan paling ampuh ialah kekuatan untuk memilih diam dan berhenti sejenak.

Karena sebelum jempol kita menari di atas papan ketik, mari coba kita biasakan diri untuk mempraktikkan etika jeda. Dengan berhenti sejenak, Lalu mari kita gunakan jeda itu untuk bertanya pada diri sendiri. Apakah saya sudah melihat fakta yang utuh? Apakah saya sudah memahami konteks yang sebenarnya? Maka jika jawabannya belum, maka pilihan paling etis adalah menutup layar, menarik napas, dan memilih untuk tidak ikut berkomentar. Karena pada akhirnya, ukuran kematangan sebuah masyarakat di era digital ini bukanlah dilihat dari seberapa keras mereka bisa berteriak saat marah, tetapi melainkan dari seberapa anggun mereka mampu menahan diri mereka untuk tidak menghancurkan sesama.

Mari mulai saat ini kita pastikan bahwa di ruang digital yang bising ini, jempol kita tetap dipandu oleh hati nurani dan juga jeda yang bijaksana, bukan hanya oleh ilusi kerumunan yang ada.